Eks PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Qtello Ayu dari Rumah

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 20:23 WIB 4
Eks PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Qtello Ayu dari Rumah

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, berhasil membangun usaha kuliner dari rumah setelah pulang ke Tanah Air pada Mei 2017. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu memulai langkah baru usai lima tahun bekerja di Hong Kong karena merasa penghasilannya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan modal awal Rp700 ribu, ia merintis merek jajanan tradisional bernama Qtello Ayu yang kini dikenal luas di berbagai daerah.

Fatimah memilih berhenti merantau dan fokus berbisnis setelah mempertimbangkan masa depan sebagai single parent. Keputusan itu kemudian membawanya pada usaha berbasis singkong yang berkembang pesat, didukung strategi pemasaran sederhana namun efektif. Dari dapur rumah, usahanya tumbuh menjadi sumber penghidupan yang mampu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Bisnis rumahan dari nol

Fatimah mengaku sempat merasa pekerjaannya di luar negeri tidak memberi ruang berkembang. Ia melihat kebutuhan hidup terus meningkat, sementara penghasilan yang diterima belum cukup menjawab tantangan keluarga.

Dari kegelisahan itu, ia memutuskan pulang ke Indonesia dan memulai usaha sendiri. Niatnya sederhana, yakni tidak kembali merantau dan berusaha bertahan dengan kemampuan yang dimiliki.

Modal awal yang digunakan berasal dari sisa tabungan selama bekerja di Hong Kong. Dengan dana itu, ia berani membuka usaha rumahan meski pada awalnya tanpa jaminan keberhasilan.

Produk singkong terus berkembang

Pada akhir 2017, Fatimah mulai menjual aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Produk itu diberi nama Qtello Ayu, gabungan kata ketela dan ayu yang berarti cantik.

Awalnya, varian yang diproduksi hanya tiga, yaitu ongol-ongol, getuk, dan klepon. Seiring waktu, pilihan produknya berkembang menjadi sembilan varian dengan tampilan yang lebih menarik.

Ragam baru itu mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi visual dan rasa membuat produknya lebih mudah diterima konsumen.

Pemasaran mengandalkan jaringan

Fatimah tidak hanya mengandalkan kualitas produk, tetapi juga cara promosi yang sederhana. Ia memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.

Selain itu, metode getok tular atau promosi dari mulut ke mulut ikut membantu mengenalkan produknya. Strategi ini membuat usaha rumahan tersebut mendapat pelanggan dari berbagai daerah.

Permintaan yang terus datang membuat produksi berjalan setiap hari dari rumah. Ia berusaha menjaga kesegaran dan kualitas agar pelanggan tetap percaya pada produknya.

Pendapatan naik dan rencana meluas

Saat ini, Qtello Ayu mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari. Omzet hariannya rata-rata mencapai Rp1 juta, meski pada hari tertentu bisa menembus Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Pasar penjualan produknya mencakup Tulungagung, Trenggalek, dan sejumlah kota lain. Jajanan itu juga kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta.

Usaha yang dikelola bersama keluarga dan dua karyawan harian itu telah membawa perubahan besar bagi kehidupan Fatimah. Ia berhasil melunasi utang, membeli mobil operasional, dan bahkan membuka cabang di Bandung melalui salah satu anaknya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!