Eks PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 18:38 WIB 5
Eks PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air bisa menjadi awal baru yang lebih menjanjikan. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu kini sukses menjalankan bisnis jajanan tradisional berbahan singkong setelah kembali dari Hongkong pada 2017.

Dengan modal awal Rp700 ribu dari tabungan sisa bekerja, ia membangun usaha rumahan bernama Qtello Ayu. Dari dapur rumah, Fatimah mengembangkan produk, memperluas pasar, dan perlahan memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

Bisnis rumahan dari singkong

Fatimah memutuskan pulang setelah lima tahun bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Hongkong. Menurutnya, penghasilan saat itu tidak cukup untuk menjawab kebutuhan hidup yang terus bertambah.

Ia juga menyadari bahwa pekerjaan yang dijalani tidak memberi ruang berkembang. Dari situ, ia memilih membangun usaha dari rumah agar bisa tetap dekat dengan keluarga.

Pada akhir 2017, Fatimah mulai memproduksi jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Produk itu kemudian diberi nama Qtello Ayu, gabungan kata ketela dan ayu.

Modal kecil, langkah besar

Usaha itu dirintis dengan modal yang sangat terbatas, yakni Rp700 ribu. Seluruh dana berasal dari sisa tabungan hasil kerja di luar negeri.

Fatimah menegaskan, modal kecil bukan alasan untuk menyerah. Ia justru menjadikannya sebagai dorongan untuk membuktikan bahwa usaha apapun bisa dimulai dari rumah.

Pada tahap awal, produk yang dijual hanya tiga varian, yaitu ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Seiring waktu, jumlah varian bertambah menjadi sembilan dengan tampilan yang lebih menarik dan beragam.

Pemasaran lewat media sosial

Untuk memperluas penjualan, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan promosi dari mulut ke mulut yang terbukti efektif menjangkau pembeli baru.

Strategi itu membuat produknya dikenal lebih luas di wilayah Tulungagung dan Trenggalek. Pesanan dari luar daerah pun mulai berdatangan, termasuk untuk oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta.

Meski bahan bakunya sederhana, ia mengolahnya dengan kemasan yang lebih inovatif dan visual yang menarik. Pendekatan tersebut membuat jajanan tradisional terasa relevan bagi pasar yang lebih luas.

Pertumbuhan usaha dan harapan

Seiring meningkatnya permintaan, produksi Qtello Ayu kini mencapai sekitar 400 kotak per hari. Omzet hariannya rata-rata mencapai Rp1 juta, meski pada hari tertentu bisa lebih tinggi.

Untuk menjaga kualitas dan kesegaran produk, Fatimah tidak bekerja sendiri. Ia dibantu keluarga serta dua karyawan harian yang ikut menangani produksi dari rumah.

Hasil usaha itu juga membuat kondisi keuangannya membaik secara signifikan. Ia berhasil melunasi utang, membeli mobil untuk operasional, dan bahkan membuka peluang cabang di Bandung melalui salah satu anaknya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!