Ekonomi Indonesia Tahan Guncangan Global Berkat Fiskal Pruden

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 20:53 WIB 3
Ekonomi Indonesia Tahan Guncangan Global Berkat Fiskal Pruden

Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang tarif dan dinamika geopolitik, perekonomian Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk meredam risiko. Ketangguhan itu ditopang bauran energi nasional yang berjalan baik dan eksekusi strategi fiskal yang pruden, menurut Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam kuliah umum di Institut Pertanian Bogor pada Jumat, 29 Mei 2026.

Juda menilai Indonesia memiliki daya tahan karena struktur energi yang lebih beragam, mulai dari minyak, gas, biodiesel, bioenergi, hingga batu bara. Kondisi itu membuat ekonomi nasional lebih siap menghadapi lonjakan harga minyak dan tekanan eksternal lainnya. Pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan keterangan Kementerian Keuangan pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Ketahanan Ekonomi Indonesia

Juda Agung menjelaskan bahwa bauran energi yang lebih kuat menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia. Menurut dia, kombinasi sumber energi domestik membuat tekanan dari pasar global dapat diredam lebih baik. Situasi ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak eksternal.

Ia menegaskan bahwa daya tahan tersebut penting karena harga energi global kerap bergerak tajam saat konflik dan ketegangan dagang meningkat. Dengan produksi dalam negeri yang relatif beragam, Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber energi. Hal itu memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi risiko inflasi impor.

Dalam forum tersebut, Juda menyebut energi mix Indonesia sudah berada pada jalur yang lebih baik. Kondisi itu, kata dia, membantu pemerintah menjaga perekonomian agar tetap stabil. Karena itu, bauran energi dinilai bukan hanya isu sektor energi, melainkan juga instrumen ekonomi makro.

Strategi Fiskal Pemerintah

Juda memaparkan tiga strategi utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi. Langkah pertama adalah pengendalian belanja negara agar tetap efektif dan tepat sasaran. Pemerintah, menurut dia, berkomitmen menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan inflasi.

Pengeluaran subsidi, termasuk untuk BBM bersubsidi, tetap dipertahankan guna melindungi masyarakat dari lonjakan harga. Di sisi lain, belanja negara juga diarahkan ke sektor produktif yang mampu mendorong produksi dan menciptakan lapangan kerja. Pemerintah melakukan refocusing agar anggaran lebih mendukung permintaan dan penawaran di dalam negeri.

Juda menekankan bahwa program prioritas tetap dijalankan dengan penyesuaian agar lebih efisien. Belanja negara tidak semata-mata dibesarkan, melainkan diarahkan pada aktivitas yang memberi dampak ekonomi langsung. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan tetap kuat tanpa mengorbankan kesehatan fiskal.

Penerimaan dan Pembiayaan

Strategi kedua adalah optimalisasi penerimaan negara melalui pemanfaatan momentum kenaikan harga komoditas. Pemerintah juga memperkuat penerimaan pajak dengan penerapan sistem Coretax. Langkah tersebut diharapkan membuat basis pendapatan negara semakin efisien dan modern.

Menurut Juda, penguatan penerimaan menjadi penting agar ruang fiskal tetap terjaga di tengah kebutuhan pembangunan yang tinggi. Ketika penerimaan membaik, pemerintah memiliki fleksibilitas lebih besar untuk membiayai program prioritas. Karena itu, reformasi administrasi perpajakan menjadi bagian penting dari agenda fiskal nasional.

Strategi ketiga berada pada sisi pembiayaan, yakni mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat. Pemerintah mendorong penerbitan surat utang dalam mata uang non-US$ dengan bunga kompetitif, seperti Samurai bonds, Dim Sum bonds, dan Kangaroo bonds. Kebijakan ini ditujukan untuk memperluas sumber pendanaan sekaligus menekan risiko nilai tukar.

Kinerja Ekonomi Terjaga

Juda menambahkan bahwa efektivitas strategi fiskal tersebut tercermin pada kinerja ekonomi kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen, sebuah capaian yang menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Pertumbuhan itu juga didukung oleh stabilitas inflasi dan kebijakan fiskal yang tetap terkendali.

Inflasi tercatat berada di level 2,42 persen, sementara defisit fiskal terkendali di angka 0,64 persen pada April 2026. Selain itu, yield SBN dan spread juga masih terjaga, yang menandakan kepercayaan pasar tetap baik. Kombinasi indikator tersebut memperlihatkan fondasi ekonomi Indonesia masih solid.

Ia menyimpulkan bahwa empat indikator utama, yakni pertumbuhan, inflasi, defisit fiskal, dan yield SBN, menjadi ukuran penting kekuatan fiskal nasional. Menurut Juda, strategi yang ditempuh pemerintah berjalan efektif dan memberi hasil nyata. Dengan fondasi tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat menghadapi ketidakpastian global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!