Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan ekonomi global.
Menurut pernyataan tersebut, evaluasi J.P. Morgan menempatkan Indonesia sebagai negara kedua paling tahan terhadap krisis energi global.
Pernyataan disampaikan oleh Evita Manthovani, Staf Ahli Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, pada Senin, 11 Mei 2026.
Ketahanan Energi Indonesia
Ketahanan energi Indonesia ditopang oleh produksi energi domestik yang kuat. Produksi batu bara dan gas bumi domestik menjadi sumber utama pasokan energi nasional. Upaya menjaga stabilitas energi didorong oleh investasi domestik yang terus berkembang.
Penilaian J.P. Morgan menegaskan Indonesia sebagai negara paling tahan krisis energi kedua setelah Afrika Selatan. Posisi itu menempatkan Indonesia di atas Tiongkok dan Amerika Serikat dalam indikator ketahanan energi global. Klaim ini memperkuat narasi kebijakan energi yang mengandalkan produksi domestik untuk menjaga stabilitas pasokan.
Ketahanan energi tersebut dinilai sejalan dengan dinamika ekonomi nasional pada permulaan 2026. Fakta ini menunjukkan fondasi ekonomi yang kokoh meski tekanan global masih ada. Para analis menilai ketahanan energi sebagai pendorong stabilitas makro dan kepercayaan investor.
Pertumbuhan Ekonomi Q1-2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 5,61% secara tahunan. Angka ini menandai pemulihan yang relatif kuat dibandingkan dengan sebagian besar negara anggota G20. Jika dibandingkan periode yang sama, China tumbuh 5% dan Korea Selatan 3,6%.
Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 5,52%. Realisasi belanja pemerintah di triwulan I-2026 mencapai 21,21% dari APBN, sekitar Rp 815 triliun, dan tumbuh 31,4% secara tahunan. Belanja pemerintah berada di atas rata-rata historis, menunjukkan dorongan fiskal yang mendorong pemulihan.
Inflasi pada April 2026 berada di level 2,42%, menjaga stabilitas harga di bawah target. Indeks keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis pada 122,9. Neraca dagang Maret 2026 mencatat surplus US$3,32 miliar, memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut.
Surplus ini menjadi indikator permintaan luar negeri terhadap produk Indonesia yang sehat. Para analis melihatnya sebagai fondasi penting bagi prospek pertumbuhan jangka pendek.
Indikator Fiskal & Inflasi
Inflasi April 2026 berada pada 2,42%, menjaga stabilitas harga di bawah target sebesar 2,5% plus minus 1%. Kondisi harga yang terkendali dinilai memberi ruang bagi pemulihan ekonomi dan stabilitas harga. Keberlanjutan harga yang stabil diharapkan mendukung investasi dan konsumsi domestik.
Neraca dagang Maret 2026 mencatat surplus US$3,32 miliar, memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut. Surplus ini menjadi indikator permintaan luar negeri terhadap produk Indonesia yang sehat. Para analis melihatnya sebagai fondasi penting bagi prospek pertumbuhan jangka pendek.
Credit growth pada Maret 2026 menunjukkan peningkatan, yaitu 9,49% year on year, sedikit lebih tinggi dibanding Februari 9,37%. Perkembangan tersebut mencerminkan dorongan likuiditas dan kepercayaan investor. Pemerintah menilai kredit sebagai motor penggerak investasi dan konsumsi domestik.
