Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan KemenPPPA

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 00:13 WIB 3
Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan KemenPPPA

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah dinilai berhasil mengubah peran perempuan pesisir menjadi penggerak ekonomi daerah. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M. Essuruw menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam ajang bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.

Keduanya dipilih karena kiprah mereka tidak hanya mendorong pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat pengolahan hasil perikanan, pemasaran produk, dan praktik perikanan berkelanjutan. Penghargaan tersebut menegaskan bahwa perempuan nelayan memiliki peran penting dalam ekonomi pesisir, ketahanan pangan, dan pembangunan nasional.

Perempuan Nelayan Penggerak Ekonomi

Sri Fany Mony berasal dari Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara, dan memulai perjalanannya dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama yang aktif mengolah ikan dan menghasilkan produk ecoprint. Transformasi itu menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir dapat dimulai dari skala rumah tangga. Dari titik awal yang sederhana, Fany membangun pengaruh yang meluas ke komunitasnya.

Pada 2025, kelompok yang dipimpinnya membukukan pendapatan Rp 44,1 juta. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa usaha berbasis komunitas dapat berkembang melalui pendampingan yang tepat. Fany juga mendorong anggota kelompok untuk lebih percaya diri dalam mengelola usaha.

Kelompok Dullah Tama tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga aktif berbagi praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Aktivitas itu memperlihatkan bahwa produk pesisir dari daerah terpencil pun dapat memiliki daya saing. Keberhasilan tersebut lahir dari konsistensi, jejaring, dan kemampuan membaca peluang pasar. Dalam konteks ekonomi lokal, peran perempuan menjadi semakin strategis.

Inisiatif Fany membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir dapat mengubah struktur ekonomi keluarga. Ketika perempuan memperoleh akses pada pelatihan, pasar, dan kelembagaan, nilai tambah usaha ikut meningkat. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekonomi biru di wilayah pesisir. Dampaknya tidak hanya terasa pada pendapatan, tetapi juga pada kepercayaan diri komunitas.

Inovasi Olahan Ikan Bernilai

Di Papua Barat, Nova Theodora J.M. Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda melalui Kelompok Seraphim Bofuwer di Teluk Arguni, Kaimana. Sebagai pendeta Protestan sekaligus ketua wilayah, ia mendorong pemanfaatan kakap cina yang sebelumnya kurang optimal dimanfaatkan. Selama ini, komoditas tersebut kerap diambil gelembung renangnya saja. Daging ikan yang masih bernilai ekonomi sering dibiarkan terbuang.

Nova mengubah pola itu dengan mengolah kakap cina menjadi abon ikan, sambal, kecap ikan, dan berbagai produk pangan bergizi lainnya. Langkah ini memberi nilai tambah bagi hasil tangkapan nelayan lokal. Selain meningkatkan pendapatan, inovasi tersebut juga mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien. Dengan demikian, potensi perikanan daerah tidak lagi terbuang percuma.

Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional hingga Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Capaian ini lahir dari jejaring pemasaran yang dibangun secara konsisten. Kelompok tersebut juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Selain itu, mereka mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Inovasi yang dijalankan Nova memperlihatkan bahwa pengolahan hasil laut dapat menjadi penggerak ekonomi baru bagi perempuan pesisir. Program ini juga memperkuat ketahanan pangan keluarga karena bahan baku tersedia dari lingkungan sekitar. Ketika limbah dan potensi terbuang dapat diolah, manfaat ekonomi dan sosial berjalan beriringan. Model seperti ini berpotensi direplikasi di wilayah pesisir lain.

Penghargaan Dan Seleksi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai Sri Fany dan Nova berhasil menghadirkan perubahan nyata di wilayah pesisir. Keduanya dipandang bukan hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak komunitas. Mereka turut mendorong penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM. Pendekatan ini menempatkan keberlanjutan sumber daya perikanan sebagai bagian penting dari pembangunan pesisir.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyebut penghargaan tersebut menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut dia, proses penilaian dilakukan secara kolaboratif antara KemenPPPA dan KKP. Aspek yang diperhatikan mencakup kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, serta kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan. Mekanisme ini memastikan penerima penghargaan benar-benar memiliki pengaruh nyata di lapangan.

Kedua penerima penghargaan merupakan Champion CFI Indonesia, bagian dari Project GEF-6 CFI Indonesia. Proyek ini merupakan kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency. Fokus utamanya adalah penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur. Kerangka tersebut menjadi ruang bagi lahirnya agen perubahan dari komunitas nelayan kecil.

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa program Champion dirancang agar dampaknya tetap berlanjut setelah proyek selesai. Para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang mampu melanjutkan misi CFI, KKP, dan GEF. Mereka dibekali kemampuan untuk memperkuat komunitas, mengembangkan mata pencaharian alternatif, dan menjaga praktik perikanan berkelanjutan. Dengan pola itu, keberhasilan program tidak berhenti pada satu periode kerja sama.

Perempuan Pesisir Dan Indonesia Emas

Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan pesisir tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan perempuan. Semakin luas partisipasi perempuan, semakin kuat pula basis ekonomi masyarakat pesisir.

Program pemberdayaan dalam proyek itu mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, hingga fasilitasi kemitraan dengan pasar modern. Produk kelompok binaan kini telah dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat. Akses pasar yang lebih luas membuka peluang peningkatan pendapatan yang lebih stabil. Hal ini menjadi bukti bahwa kapasitas produksi perlu diiringi dengan akses distribusi yang memadai.

Dalam kerangka CFI Indonesia, Champion adalah nelayan kecil terlatih yang berperan sebagai pelatih komunitas dan agen perubahan. Mereka dibekali keterampilan teknis, pengolahan hasil perikanan bernilai tambah, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, serta penerapan praktik EAFM. Pendekatan tersebut mendorong tumbuhnya ekonomi biru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Perempuan menjadi bagian penting dari ekosistem perubahan ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan berkontribusi langsung pada ekonomi keluarga, pengurangan limbah sumber daya perikanan, serta penguatan ketahanan sosial-ekologis pesisir. Dari wilayah pesisir hingga tingkat nasional, kiprah mereka semakin menegaskan peran penting perempuan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kisah Sri Fany dan Nova menjadi contoh bahwa perubahan besar dapat lahir dari komunitas kecil. Dengan dukungan yang tepat, perempuan pesisir mampu menjadi pilar ekonomi daerah dan penjaga keberlanjutan laut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!