Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 23:17 WIB 3
Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat mencuri perhatian nasional setelah dinilai berhasil menggerakkan ekonomi pesisir melalui usaha pengolahan hasil laut dan pemberdayaan komunitas. Sri Fany Mony dari Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara, serta Nova Theodora J.M. Essuruw dari Kaimana, Papua Barat, menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Keduanya diapresiasi karena tidak hanya aktif sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di wilayah masing-masing. Inovasi mereka dinilai memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan.

Perempuan nelayan dan usaha pesisir

Sri Fany Mony menunjukkan perubahan besar dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi menjadi pemimpin kelompok produktif. Ia kini memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar atau Poklahsar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara.

Kelompok ini menghasilkan beragam olahan ikan serta produk ecoprint yang memberi nilai tambah bagi ekonomi keluarga. Pada 2025, Dullah Tama mencatat pendapatan Rp 44,1 juta, naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

KKP menyebut kelompok yang dipimpin Fany aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Capaian itu menegaskan bahwa perempuan pesisir dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal.

Transformasi Fany juga memperlihatkan pentingnya akses pelatihan, pendampingan, dan jejaring usaha bagi perempuan di daerah pesisir. Dengan modal tersebut, kegiatan ekonomi berbasis komunitas dapat berkembang lebih cepat dan berkelanjutan.

Inovasi perempuan nelayan Papua

Di Papua Barat, Nova Theodora J.M. Essuruw menghadirkan terobosan lewat Kelompok Seraphim Bofuwer di Teluk Arguni, Kaimana. Sebagai pendeta Protestan sekaligus ketua wilayah, ia mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih optimal.

Nova menginisiasi pemanfaatan ikan kakap cina yang sebelumnya kerap tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Jika dahulu hanya gelembung renangnya yang diambil, kini daging ikan diolah menjadi produk bernilai jual.

Berbagai produk seperti abon ikan, sambal, kecap ikan, dan olahan lain lahir dari inisiatif tersebut. Langkah ini membuka sumber pendapatan baru bagi perempuan pesisir sekaligus mengurangi pemborosan sumber daya laut.

Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional hingga Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Kelompok ini juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024 serta mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Penghargaan dan dampak nyata

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai kedua perempuan itu berhasil menghadirkan perubahan nyata di wilayah pesisir. Mereka dinilai bukan hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak komunitas dan pelopor penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM.

Penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 diberikan melalui proses seleksi kolaboratif antara KemenPPPA dan KKP. Penilaian mempertimbangkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, dan kontribusi terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menegaskan bahwa penghargaan itu menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut dia, pemberdayaan perempuan nelayan memberikan dampak langsung pada ekonomi keluarga dan pengurangan limbah sumber daya perikanan.

Latif menambahkan bahwa peran perempuan pesisir juga memperkuat ketahanan sosial-ekologis di daerah. Karena itu, dukungan terhadap usaha mereka dinilai penting untuk mendorong ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.

Program berkelanjutan pesisir

Kedua penerima penghargaan merupakan Champion CFI Indonesia, bagian dari Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini merupakan hibah kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency.

Proyek tersebut berfokus pada penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di Wilayah Pengelolaan Perikanan 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur. Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan.

Sekitar 32 persen dari peserta program adalah perempuan nelayan yang ikut dalam pelatihan pengolahan hasil perikanan, ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan pasar modern. Produk binaan kini telah dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang mampu menjaga keberlanjutan dampak program. Melalui penguatan komunitas, pengembangan mata pencaharian alternatif, dan praktik perikanan berkelanjutan, peran perempuan nelayan kian relevan menuju Indonesia Emas 2045.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!