Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Raih Penghargaan 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 14:54 WIB 6
Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Raih Penghargaan 2025

Dua perempuan nelayan asal Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah dinilai berhasil mengubah stereotip tentang peran perempuan di sektor perikanan. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw tidak hanya bekerja sebagai nelayan, tetapi juga membangun usaha yang menggerakkan ekonomi keluarga dan komunitas pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut capaian keduanya sebagai bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Penghargaan itu diberikan dalam gelaran bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.

Cerita Fany dan Nova menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir dapat menghasilkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus. Keduanya dinilai berhasil menghadirkan inovasi, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong praktik perikanan berkelanjutan di wilayah masing-masing. Penghargaan perempuan inspiratif 2025 menjadi penegasan atas kontribusi mereka dalam membangun ekonomi biru dari akar rumput. Di tengah tantangan pesisir, kiprah keduanya menjadi contoh bahwa perubahan besar dapat dimulai dari komunitas kecil.

Perempuan Nelayan dan Transformasi Usaha

Sri Fany Mony memulai kiprahnya dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi yang mapan. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar atau Poklahsar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Transformasi tersebut menempatkan Fany sebagai penggerak utama pemberdayaan perempuan pesisir di daerahnya. Melalui kelompok itu, ia mengembangkan berbagai olahan ikan dan produk ecoprint yang bernilai jual.

Pada 2025, kelompok Dullah Tama mencatat pendapatan sebesar Rp 44,1 juta. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan usaha yang konsisten dan terukur. Selain itu, kelompok ini aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional.

Perjalanan Fany memperlihatkan bahwa keterampilan olahan hasil laut dapat menjadi pintu masuk kemandirian ekonomi. Dengan memanfaatkan potensi pesisir, perempuan setempat memperoleh ruang untuk berkarya dan menghasilkan pendapatan. Aktivitas kelompok ini juga memperkuat posisi perempuan dalam rantai nilai perikanan. Dampaknya, ekonomi keluarga dan komunitas sekitar ikut terdorong naik.

Inovasi Pangan Dari Kakap Cina

Nova Theodora J.M Essuruw, pendeta Protestan sekaligus Ketua Wilayah di Teluk Arguni, Kaimana, menghadirkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Melalui Kelompok Seraphim Bofuwer, ia menginisiasi pemanfaatan kakap cina yang sebelumnya kerap kurang dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, ikan tersebut lebih sering diambil gelembung renangnya, sementara dagingnya tidak diolah maksimal. Inovasi Nova mengubah bahan yang dianggap sisa menjadi produk bernilai tambah.

Beragam olahan berbasis kakap cina kini diproduksi, mulai dari abon ikan, sambal, hingga kecap ikan. Produk-produk tersebut tidak hanya bergizi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang lebih besar. Langkah ini membantu mengurangi pemborosan sumber daya perikanan di tingkat lokal. Pada saat yang sama, ketahanan pangan keluarga di pesisir turut menguat.

Inisiatif tersebut membuka peluang pendapatan baru bagi perempuan pesisir di Kaimana. Melalui pengolahan ikan, nilai tambah komoditas lokal meningkat secara signifikan. Nova menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat menghasilkan manfaat luas bagi komunitas. Pendekatan itu juga memperlihatkan pentingnya kreativitas dalam pengelolaan hasil laut.

Jangkauan Pasar dan Dampak Komunitas

Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional hingga Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Perluasan pasar itu terjadi melalui jejaring pemasaran yang dibangun secara konsisten. Capaian tersebut menegaskan bahwa produk pesisir dapat bersaing di luar wilayah asalnya. Keberhasilan itu juga membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi kelompok perempuan.

Kelompok ini turut meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Selain itu, mereka mendapatkan pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM. Dukungan tersebut memperkuat standar mutu dan kepercayaan konsumen terhadap produk olahan mereka. Dengan demikian, daya saing usaha kelompok semakin meningkat.

Kehadiran Fany dan Nova juga dinilai memperkuat komunitas di wilayah pesisir. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak sosial di lingkungan masing-masing. Aktivitas mereka mendorong partisipasi perempuan lain untuk ikut terlibat dalam usaha produktif. Dalam jangka panjang, model ini membantu membangun ekosistem ekonomi pesisir yang lebih tangguh.

Penguatan Ekonomi Biru

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai kedua perempuan tersebut sebagai pelopor penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM. Pendekatan itu menekankan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Sri Fany dan Nova dianggap berhasil menerjemahkan konsep tersebut ke dalam praktik nyata di lapangan. Mereka menunjukkan bahwa pelestarian sumber daya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Penghargaan perempuan inspiratif 2025 diberikan melalui proses seleksi kolaboratif antara KemenPPPA dan KKP. Penilaian dilakukan berdasarkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, serta kontribusi terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan. Kedua penerima juga merupakan Champion CFI Indonesia, bagian dari Project GEF-6 CFI Indonesia. Program itu berfokus pada penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyebut penghargaan itu menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Sementara itu, Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa para Champion disiapkan sebagai agen perubahan. Mereka dibekali keterampilan untuk melanjutkan misi program melalui penguatan komunitas, mata pencaharian alternatif, dan praktik perikanan berkelanjutan. Dari pesisir Maluku hingga Papua Barat, perempuan nelayan kini semakin menunjukkan posisinya sebagai pilar penting Indonesia Emas 2045.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!