Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat mencuri perhatian nasional setelah dinilai berhasil mengubah potensi pesisir menjadi kekuatan ekonomi keluarga dan komunitas. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, berkat kiprah mereka dalam usaha perikanan dan pemberdayaan masyarakat.
Penghargaan itu diberikan dalam gelaran bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Keduanya dianggap mampu menghadirkan dampak nyata melalui pengolahan hasil laut, penciptaan nilai tambah, serta praktik perikanan berkelanjutan di wilayah pesisir timur Indonesia.
Perempuan nelayan pesisir
Sri Fany Mony memulai langkahnya dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi yang menonjol. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara.
Di bawah kepemimpinannya, kelompok tersebut mengembangkan beragam olahan ikan dan produk ecoprint. Transformasi itu menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir dapat mendorong kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Pada 2025, Dullah Tama membukukan pendapatan Rp44,1 juta. Capaian itu meningkat sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi bukti bahwa usaha berbasis komunitas memiliki daya tumbuh yang kuat.
Inovasi olahan hasil laut
Di Papua Barat, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Pendeta Protestan yang juga Ketua Wilayah di Teluk Arguni, Kaimana, itu memimpin Kelompok Seraphim Bofuwer untuk mengolah kakap cina secara lebih optimal.
Sebelumnya, ikan kakap cina kerap dimanfaatkan hanya pada bagian gelembung renangnya. Melalui inisiatif Nova, daging ikan tersebut diolah menjadi abon, sambal, kecap ikan, dan berbagai produk pangan bergizi.
Langkah itu tidak hanya mengurangi pemborosan sumber daya perikanan. Inovasi tersebut juga membuka peluang pendapatan baru bagi perempuan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Dukungan pasar dan pelatihan
Keberhasilan kelompok binaan tak lepas dari penguatan rantai pemasaran yang dibangun secara konsisten. Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau Fakfak, Sorong, Timika, hingga Jayapura.
Kelompok ini juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Selain itu, mereka mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM untuk memperkuat standar dan legalitas produk.
Program pemberdayaan yang dijalankan mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, dan penguatan merek. Fasilitasi kemitraan dengan pasar modern turut membantu produk binaan menembus jaringan ritel di Maluku dan Papua Barat.
Jejak ekonomi biru berkelanjutan
Kedua perempuan itu juga dipandang sebagai pelopor penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM. Peran mereka tidak berhenti pada aktivitas usaha, tetapi merambah pada penguatan komunitas dan tata kelola pesisir yang berkelanjutan.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyebut penghargaan tersebut menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Penilaian dilakukan melalui seleksi kolaboratif antara KemenPPPA dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan mempertimbangkan kepemimpinan, dampak sosial-ekonomi, dan keberlanjutan pengelolaan perikanan.
Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menjelaskan bahwa para Champion disiapkan sebagai agen perubahan agar dampak program tetap berjalan setelah proyek berakhir. Sejak dimulai pada Desember 2019, proyek itu telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan, dengan sekitar 32 persen di antaranya perempuan nelayan.
