Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Obesitas 100 Kilogram

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 00:22 WIB 6
Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Obesitas 100 Kilogram

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkap pernah memiliki bobot tubuh hingga 100 kilogram, kondisi yang kala itu belum ia sadari sudah masuk kategori obesitas. Ia menilai situasi tersebut membuatnya berada dalam risiko tinggi terkena penyakit tidak menular, termasuk gangguan jantung. Kesadaran itu baru muncul setelah ia menangani seorang pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat. Peristiwa tersebut kemudian menjadi titik balik bagi dirinya untuk mulai menurunkan berat badan.

Dalam sebuah talkshow di Kementerian Kesehatan RI pada Kamis, 7 Mei 2026, dr Gia menceritakan momen yang membuatnya benar-benar terpukul. Ia mengatakan pasien yang ditanganinya memiliki usia dan tanggal lahir yang sama dengannya, sehingga pengalaman itu terasa sangat personal. Setelah berhasil menyelamatkan pasien dengan alat pacu jantung, ia langsung mempertanyakan kondisi kesehatannya sendiri. Dari situlah muncul tekad untuk menjalani diet selama enam bulan secara konsisten.

Obesitas dan Diet Dr Gia

dr Gia menuturkan, sebelum menjalani perubahan pola hidup, ia tidak menyadari bahwa berat badannya sudah berada pada level obesitas. Kondisi itu membuatnya rentan terhadap berbagai penyakit tidak menular, terutama yang berkaitan dengan jantung dan metabolisme. Ia menegaskan bahwa kesadaran untuk berubah sering kali datang terlambat ketika tubuh sudah memberi sinyal bahaya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa obesitas tidak selalu terlihat sebagai ancaman pada awalnya.

Ia menyebut pemicu terbesar bukan hanya porsi makan yang berlebihan, tetapi juga kebiasaan harian yang dilakukan tanpa kontrol. Menurutnya, seseorang bisa saja merasa hanya mengambil satu gorengan, namun tanpa sadar jumlahnya terus bertambah. Pola makan seperti itu, jika dibiarkan, dapat menumpuk kalori secara signifikan dalam jangka panjang. Karena itu, ia menilai kebiasaan kecil perlu diawasi sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan serius.

dr Gia menekankan bahwa obesitas kerap muncul dari ketidaksadaran dalam mengatur asupan makanan. Ia menggambarkan bagaimana seseorang dapat makan lebih banyak dari yang dibutuhkan tanpa benar-benar merasakannya. Situasi tersebut membuat tubuh menerima kalori berlebih yang sulit dibakar jika tidak diimbangi aktivitas dan disiplin makan. Dari pengalamannya, perubahan perilaku menjadi langkah awal yang paling penting untuk mencegah kondisi semakin memburuk.

Pemicu Obesitas Sang Dokter

Peristiwa di IGD menjadi momen yang paling membekas bagi dr Gia dalam memutuskan diet. Ia melihat langsung seorang pasien serangan jantung dengan usia yang sama, sehingga ketakutan akan nasib serupa muncul seketika. Dalam kondisi itu, ia menyadari bahwa kemampuan menyelamatkan orang lain tidak menjamin dirinya aman dari risiko yang sama. Pertanyaan sederhana tentang siapa yang akan menolong dirinya sendiri menjadi dorongan kuat untuk berubah.

Ia kemudian memutuskan memberi tenggat enam bulan untuk berkomitmen pada perubahan gaya hidup. Bagi dr Gia, keputusan tersebut bukan sekadar keinginan sementara, melainkan langkah nyata untuk menyelamatkan kesehatan jangka panjang. Ia memilih memulai dari hal yang paling bisa dikendalikan, yakni mengatur pola makan dan disiplin harian. Pendekatan itu diambil agar proses penurunan berat badan tetap realistis dan berkelanjutan.

Dr Gia juga menilai banyak orang terjebak pada pola makan tanpa sadar karena merasa kondisi tubuh masih baik-baik saja. Padahal, menurutnya, risiko obesitas sering berkembang diam-diam sebelum akhirnya memunculkan penyakit berat. Ia mengingatkan bahwa tubuh tidak selalu memberi tanda keras di awal, sehingga pencegahan jauh lebih penting. Kesadaran sejak dini menjadi kunci agar perubahan dapat dilakukan sebelum muncul komplikasi.

Langkah Diet yang Konsisten

Dalam menjalani diet, dr Gia tidak mengandalkan metode khusus yang bersifat ekstrem. Ia justru fokus pada pengurangan asupan kalori yang sebelumnya berlebih dan tidak terkontrol. Menurutnya, hasil ideal tidak akan datang dari cara instan yang sulit dipertahankan. Karena itu, konsistensi menjadi prinsip utama dalam perjalanan penurunan berat badannya.

Ia menekankan bahwa pengurangan kalori harus dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat menyesuaikan diri. Langkah ini dinilainya lebih aman dibandingkan pola diet yang terlalu ketat dan berisiko membuat seseorang cepat menyerah. Dengan pendekatan yang stabil, perubahan kebiasaan makan dapat lebih mudah dijaga dalam jangka panjang. Cara tersebut juga membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.

Pengalaman dr Gia menunjukkan bahwa diet bukan hanya soal angka di timbangan, melainkan soal disiplin dan pengendalian diri. Ia memilih memperbaiki kebiasaan yang selama ini membuat tubuh menerima asupan berlebih. Dalam pandangannya, hasil yang baik lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Oleh sebab itu, komitmen harian menjadi fondasi utama agar target kesehatan bisa tercapai.

Risiko Obesitas bagi Jantung

Obesitas diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular, termasuk gangguan jantung. Kondisi ini dapat membebani kerja organ tubuh karena asupan energi yang masuk lebih besar daripada yang digunakan. Jika berlangsung lama, penumpukan berat badan dapat memicu komplikasi yang lebih serius. Karena itu, deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi sangat penting.

Pengalaman dr Gia memperlihatkan bahwa ancaman penyakit jantung bisa datang tanpa peringatan yang jelas. Ia menyaksikan langsung bagaimana seorang pasien membutuhkan tindakan cepat di ruang gawat darurat. Situasi tersebut membuatnya semakin sadar bahwa kesehatan tidak bisa ditunda untuk dijaga. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih berharga daripada penanganan saat kondisi sudah darurat.

Kisah itu juga memberi pesan bahwa edukasi mengenai obesitas harus terus diperkuat di masyarakat. Banyak orang masih menganggap berat badan berlebih hanya persoalan penampilan, padahal dampaknya dapat menyentuh fungsi organ vital. Dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan yang lebih terukur, risiko dapat ditekan sejak awal. Pengalaman dr Gia menjadi pengingat bahwa menjaga tubuh adalah investasi kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!