Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus menguat terhadap rupiah mulai memberi tekanan pada pengeluaran masyarakat. Kenaikan harga barang dan jasa, sementara gaji cenderung stagnan, membuat banyak pekerja harus lebih hemat dalam memenuhi kebutuhan harian. Kondisi ini ikut berdampak pada aktivitas belanja dan makan di pusat perbelanjaan.
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut sebagian masyarakat kini menahan konsumsi di mal. Ia menilai banyak karyawan memilih membawa bekal dari rumah, sehingga trafik pusat belanja Jakarta hanya melemah pada hari kerja. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Festival Jakarta Great Sale 2026, Rabu, 20 Mei 2026.
Dolar AS Tekan Daya Beli
Ellen menyoroti penguatan dolar AS yang menurutnya sudah berada di sekitar Rp17.000. Ia berharap pelemahan rupiah tidak menembus Rp18.000 karena dapat memperburuk beban biaya hidup. Menurut dia, kenaikan harga di masyarakat sudah terasa luas.
Tekanan nilai tukar tersebut membuat pengeluaran rumah tangga semakin sensitif terhadap perubahan harga. Banyak pekerja memilih menunda belanja yang tidak mendesak agar anggaran bulanan tetap aman. Pola itu ikut mengubah kebiasaan konsumsi di perkotaan.
Dalam situasi seperti ini, pusat belanja menjadi salah satu sektor yang merasakan dampaknya lebih cepat. Aktivitas makan siang dan belanja spontan berkurang ketika konsumen mulai menghitung ulang prioritas pengeluaran. Efeknya terlihat terutama pada hari kerja.
Kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih membuat pelaku usaha ritel perlu menyesuaikan strategi. Mereka dituntut menjaga daya tarik sekaligus menawarkan pengalaman belanja yang relevan. Di tengah tekanan ekonomi, konsumen cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uang.
Mal Jakarta Terimbas Hemat
Menurut Ellen, banyak karyawan kantor yang biasanya makan siang di mal kini lebih sering membawa makanan dari rumah. Kebiasaan tersebut membuat frekuensi kunjungan ke pusat belanja berkurang selama weekdays. Perubahan ini mencerminkan upaya pekerja menekan pengeluaran harian.
Ia menjelaskan bahwa penurunan trafik paling terasa pada hari kerja, bukan pada akhir pekan. Di beberapa pusat perbelanjaan, suasana tetap ramai ketika masyarakat datang bersama keluarga. Perbedaan pola kunjungan itu menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang cukup jelas.
Ellen menilai penurunan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh lesunya minat berbelanja. Faktor biaya hidup yang meningkat turut mendorong masyarakat memilih opsi yang lebih murah. Karena itu, sebagian pengunjung datang hanya saat ada kebutuhan tertentu.
Dalam kondisi tersebut, pusat perbelanjaan perlu menjaga kenyamanan dan nilai tambah bagi pengunjung. Program promosi dan aktivitas keluarga dinilai masih menjadi daya tarik yang efektif. Hal itu penting agar mal tetap relevan di tengah tekanan daya beli.
Weekdays Melemah, Akhir Pekan Stabil
Ellen menyebut trafik pusat perbelanjaan di Jakarta pada hari kerja turun sekitar 15 persen hingga 20 persen. Sementara itu, kunjungan akhir pekan masih stabil dan bahkan cenderung meningkat. Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat masih datang ke mal saat memiliki waktu luang bersama keluarga.
Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi yang agak berbeda dari biasanya. Penurunan pada weekdays diimbangi oleh lonjakan kunjungan saat weekend. Dengan demikian, total trafik tidak melemah secara merata sepanjang minggu.
Kunjungan keluarga menjadi faktor penting yang menjaga tingkat keramaian pusat belanja. Anak-anak disebut memiliki daya tarik tersendiri terhadap ruang hiburan dan rekreasi di mal. Karena itu, agenda keluarga masih mampu mengangkat trafik pada hari libur.
Pelaku usaha ritel menilai pola ini perlu dibaca sebagai perubahan kebiasaan, bukan sekadar penurunan sementara. Strategi pemasaran yang menyesuaikan hari kerja dan akhir pekan menjadi semakin penting. Dengan pendekatan yang tepat, pusat belanja dapat mempertahankan pengunjung di tengah tekanan ekonomi.
Anak Anak Jadi Penggerak
Ellen menekankan bahwa pusat belanja memiliki daya tarik khusus bagi anak-anak. Begitu anak merasa nyaman, mereka cenderung meminta orang tua datang kembali ke tempat yang sama. Faktor ini membuat pengalaman keluarga menjadi kunci dalam menjaga trafik pengunjung.
Ia menyebut anak-anak perlu mendapatkan hiburan yang memadai saat berada di pusat perbelanjaan. Elemen hiburan tersebut membuat kunjungan ke mal tidak hanya berorientasi pada belanja. Akibatnya, pusat belanja tetap menjadi ruang rekreasi yang diminati keluarga perkotaan.
Menurut Ellen, kehadiran anak juga memperbesar peluang orang tua melakukan konsumsi tambahan. Saat anak merasa senang, keputusan untuk makan, berbelanja, atau sekadar berjalan-jalan menjadi lebih mudah. Dengan demikian, nilai ekonomi dari kunjungan keluarga menjadi cukup signifikan.
Di tengah tekanan daya beli, pengelola pusat belanja dituntut lebih kreatif menjaga pengalaman pengunjung. Program keluarga, promosi makanan, dan aktivitas hiburan dapat menjadi penopang trafik. Pendekatan itu dinilai penting agar pusat belanja tetap kompetitif di masa perlambatan konsumsi.
