Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus menguat terhadap rupiah, dan kondisi itu mulai terasa pada pola belanja masyarakat di Jakarta. Kenaikan harga barang dan jasa, di tengah pendapatan yang cenderung stagnan, membuat banyak pekerja memilih berhemat untuk menjaga kebutuhan harian tetap terpenuhi.
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, mengatakan perubahan perilaku konsumen terlihat jelas di pusat perbelanjaan. Menurut dia, sebagian masyarakat kini mengurangi frekuensi makan dan berbelanja di mal, terutama pada hari kerja.
Dolar AS Tekan Daya Beli
Ellen menyebut penguatan dolar AS sudah berada di kisaran Rp 17.000 dan mendekati Rp 18.000. Kondisi tersebut, menurut dia, ikut mendorong kenaikan harga di berbagai sektor.
Ia menilai tekanan inflasi dan pelemahan rupiah membuat masyarakat semakin berhitung dalam mengeluarkan uang. Banyak pekerja akhirnya menyesuaikan pengeluaran dengan mengurangi aktivitas konsumsi yang dianggap tidak mendesak.
Situasi ini, kata dia, bukan hanya memengaruhi belanja nonpokok, tetapi juga pengeluaran harian seperti makan siang di luar rumah. Akibatnya, pola konsumsi masyarakat menjadi lebih selektif dibandingkan sebelumnya.
Perilaku Belanja Masyarakat
Ellen menjelaskan banyak karyawan kantor yang sebelumnya rutin makan siang di mal kini memilih membawa bekal dari rumah. Perubahan tersebut dilakukan agar pengeluaran bulanan tidak membengkak di tengah harga kebutuhan yang naik.
Menurut dia, penyesuaian itu tampak terutama pada pekerja yang menjalani jadwal kerja lima hari. Jika dulu mereka bisa makan di pusat belanja hampir setiap hari, sekarang frekuensinya berkurang cukup signifikan.
Perubahan perilaku konsumen itu menunjukkan masyarakat sedang menahan diri dalam menghadapi tekanan ekonomi. Di sisi lain, pusat belanja harus menyesuaikan strategi agar tetap menarik bagi pengunjung.
Tren Trafik Hari Kerja
Secara keseluruhan, trafik pengunjung pusat perbelanjaan di Jakarta pada hari kerja tercatat turun sekitar 15 persen hingga 20 persen. Penurunan itu terlihat paling jelas pada jam makan siang dan waktu pulang kantor.
Ellen mengatakan penurunan pada hari kerja menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Meski begitu, kondisi tersebut belum terjadi merata pada seluruh jenis kunjungan ke mal.
Ia menilai penurunan itu masih dapat dipahami karena banyak karyawan memilih menghemat pengeluaran harian. Dengan begitu, pusat belanja perlu mencari cara untuk menjaga arus pengunjung tetap stabil di tengah tekanan ekonomi.
Weekend Masih Menopang Mal
Berbeda dengan hari kerja, trafik pengunjung pada akhir pekan justru cenderung stabil bahkan meningkat. Kunjungan keluarga menjadi salah satu penopang utama ramainya pusat belanja di Jakarta.
Ellen menuturkan mal masih memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak. Ketika anak-anak merasa terhibur, mereka cenderung mengajak orang tuanya kembali berkunjung.
Karena itu, pengelola pusat belanja dinilai perlu terus memperkuat unsur hiburan dan pengalaman keluarga. Strategi tersebut dianggap penting agar mal tetap relevan meski konsumen sedang menahan belanja.
