Dokter Ungkap Risiko Jeroan Saat Idul Adha

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 15:56 WIB 2
Dokter Ungkap Risiko Jeroan Saat Idul Adha

Saat Idul Adha, olahan jeroan seperti sate hati, gulai babat, hingga paru goreng kerap menjadi hidangan favorit banyak orang. Namun, konsumsi berlebihan dapat memicu kekhawatiran karena jeroan dikenal lebih berisiko terhadap kolesterol dan asam urat.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa bagian hewan yang paling berpotensi meningkatkan kolesterol dan asam urat memang berasal dari jeroan. Ia mengingatkan masyarakat agar tetap mengatur porsi makan, terutama saat perayaan Idul Adha ketika asupan daging cenderung meningkat.

Jeroan dan risiko kesehatan

Menurut dr Aru, jeroan merupakan bagian hewan yang paling banyak memengaruhi peningkatan kolesterol dan asam urat. Hal itu terjadi karena kandungan tertentu di dalam organ hewan cenderung lebih tinggi dibandingkan daging biasa. Karena itu, jeroan perlu dibatasi, terutama bagi orang yang memiliki riwayat gangguan metabolik.

Ia menjelaskan bahwa risiko tersebut bukan berarti semua olahan daging harus dihindari. Daging biasa masih dapat dikonsumsi selama jumlahnya wajar dan tidak berlebihan. Yang menjadi masalah adalah ketika konsumsi dilakukan tanpa kontrol dalam waktu singkat.

Dalam keseharian, masyarakat kerap menganggap semua makanan berbahan daging sama berbahayanya. Padahal, tingkat risikonya berbeda tergantung bagian hewan yang dikonsumsi. Jeroan tetap menempati posisi paling perlu diwaspadai karena dampaknya lebih besar terhadap kolesterol dan asam urat.

Daging biasa tetap aman

Dr Aru menegaskan bahwa daging biasa tidak otomatis berbahaya bagi tubuh. Konsumsi daging dalam porsi yang sesuai masih dapat diterima sebagai bagian dari pola makan seimbang. Namun, cara pengolahan dan jumlah yang dimakan tetap perlu diperhatikan.

Ia menyebut daging tetap bisa meningkatkan kolesterol dan asam urat, tetapi efeknya tidak setinggi jeroan. Karena itu, masyarakat tidak perlu menghindari daging sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah pengendalian porsi serta frekuensi konsumsi.

Pemilihan bagian daging yang lebih rendah lemak juga dapat membantu menekan risiko. Selain itu, pengolahan dengan cara yang lebih sehat dinilai lebih baik dibandingkan menggoreng atau menambahkan banyak santan. Langkah sederhana ini dapat membuat konsumsi daging lebih aman.

Pola makan saat Idul Adha

Menurut dr Aru, masalah utama saat Idul Adha bukan hanya jenis makanan, tetapi pola makan yang berubah drastis. Banyak orang cenderung makan lebih banyak dari biasanya karena melimpahnya hidangan kurban. Kondisi ini membuat tubuh menerima asupan lemak dan purin dalam jumlah berlebih.

Ia mengingatkan bahwa prinsip makan saat Idul Adha sebaiknya tetap sama seperti hari biasa. Konsumsi yang berlebihan justru meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada kemudian hari. Oleh karena itu, pengaturan porsi menjadi kunci utama.

Masyarakat juga disarankan memperbanyak sayur dan air putih untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh. Langkah ini dapat mengurangi beban metabolisme setelah menyantap makanan tinggi protein hewani. Dengan begitu, perayaan tetap dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.

Bukti ilmiah soal purin

Temuan dr Aru sejalan dengan riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases. Studi tersebut menyebut makanan tinggi purin, terutama dari sumber hewani, dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang secara signifikan. Risiko yang ditemukan bahkan mendekati lima kali lipat.

Dalam penelitian itu, organ meats atau jeroan dimasukkan sebagai kelompok makanan tinggi purin yang dianalisis. Hal ini memperkuat pandangan bahwa jeroan perlu dibatasi pada kelompok yang rentan. Penderita asam urat menjadi salah satu kelompok yang paling perlu berhati-hati.

Dengan adanya bukti ilmiah tersebut, masyarakat diimbau lebih bijak memilih makanan saat Idul Adha. Jeroan sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan, terutama oleh mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau asam urat. Pola makan seimbang tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kesehatan di tengah perayaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!