Jeroan seperti sate hati, gulai babat, dan paru goreng kerap menjadi hidangan favorit saat Idul Adha. Namun, konsumsi berlebihan bagian hewan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kolesterol dan asam urat, terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan metabolik.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa jeroan memang merupakan bagian hewan yang paling berisiko. Ia menyebut, daging biasa tidak otomatis berbahaya jika dimakan dalam jumlah wajar, tetapi pola makan yang berlebihan tetap dapat memicu masalah kesehatan.
Jeroan dan risiko kesehatan
Menurut dr Aru, jeroan mengandung zat yang lebih berpotensi memicu kenaikan kolesterol dan asam urat dibandingkan daging biasa. Karena itu, masyarakat disarankan lebih berhati-hati saat mengolah dan menyantapnya. Risiko akan semakin besar bila porsi yang dikonsumsi terlalu banyak dalam satu waktu.
Ia menjelaskan bahwa daging biasa masih dapat dikonsumsi selama tidak berlebihan. Meski begitu, asupan berlebih tetap bisa memengaruhi kadar kolesterol dan asam urat dalam tubuh. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit terkait.
Dalam kesempatan itu, dr Aru mengingatkan agar masyarakat menjaga pola makan saat perayaan Idul Adha. Menurutnya, momen kebersamaan tidak seharusnya membuat porsi makan menjadi tidak terkendali. Prinsipnya adalah tetap makan seperti biasa dan tidak berlebihan.
Pendapat tersebut sejalan dengan sejumlah temuan ilmiah yang menyoroti bahaya makanan tinggi purin dari sumber hewani. Konsumsi berlebih makanan tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan gout berulang. Jeroan termasuk dalam kelompok makanan yang dianalisis dalam studi tersebut.
Purin tinggi dan gout
Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases menunjukkan makanan tinggi purin dapat memicu kekambuhan gout. Risiko serangan berulang dilaporkan meningkat hingga hampir lima kali lipat. Temuan ini memperkuat pentingnya membatasi konsumsi jeroan.
Purin merupakan senyawa yang saat dipecah tubuh dapat menghasilkan asam urat. Jika kadar asam urat terlalu tinggi, kristal dapat menumpuk di persendian dan menimbulkan nyeri. Karena itu, makanan tinggi purin perlu dikendalikan, khususnya pada orang yang rentan.
Jeroan seperti hati, babat, dan paru dikenal memiliki kandungan purin yang relatif tinggi. Jika dikonsumsi bersama hidangan lain yang juga berlemak, risikonya dapat semakin besar. Situasi ini sering terjadi saat menu daging mendominasi meja makan pada hari besar keagamaan.
Masyarakat dianjurkan memilih porsi kecil dan tidak menjadikan jeroan sebagai menu utama setiap hari. Konsumsi air putih yang cukup serta pola makan seimbang juga membantu mengurangi beban metabolik. Bila memiliki riwayat gout atau kolesterol tinggi, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan.
Tips aman konsumsi daging
Meski jeroan perlu dibatasi, daging sapi atau kambing masih dapat menjadi sumber protein yang baik. Kuncinya adalah memilih bagian yang lebih rendah lemak dan mengolahnya dengan cara yang lebih sehat. Metode seperti direbus, dikukus, atau dipanggang bisa menjadi pilihan.
Penggunaan santan, minyak berlebih, dan tambahan garam juga sebaiknya dikurangi saat memasak. Cara pengolahan yang lebih ringan dapat membantu menjaga asupan lemak tetap terkendali. Langkah sederhana ini penting untuk menekan risiko lonjakan kolesterol.
Bagi penderita asam urat, porsi makanan perlu diperhatikan lebih ketat. Konsumsi jeroan dalam jumlah kecil pun dapat memicu keluhan jika dilakukan berulang. Oleh sebab itu, pengaturan menu menjadi bagian penting dari pencegahan.
Selain mengatur porsi, masyarakat juga disarankan menyeimbangkan menu dengan sayur dan buah. Serat membantu mendukung metabolisme dan membuat pola makan lebih terkontrol. Dengan begitu, tradisi menikmati hidangan Idul Adha tetap dapat dijalani tanpa mengabaikan kesehatan.
Waspada saat Idul Adha
Perayaan Idul Adha identik dengan melimpahnya hidangan berbahan daging dan jeroan. Kondisi ini kerap membuat sebagian orang lupa membatasi porsi makan. Padahal, perubahan pola konsumsi yang drastis dapat berdampak pada kesehatan.
Dr Aru mengingatkan bahwa makan bersama keluarga tetap boleh dilakukan, asalkan tidak berlebihan. Pesan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara nikmatnya hidangan dan kesehatan tubuh. Dengan kontrol yang baik, risiko gangguan metabolik dapat ditekan.
Orang dengan riwayat kolesterol tinggi, hipertensi, atau gout perlu lebih disiplin dalam memilih makanan. Mereka sebaiknya menghindari jeroan dalam porsi besar dan tidak terlalu sering. Pemantauan rutin juga penting agar kondisi tubuh tetap terjaga.
Di tengah antusiasme merayakan Idul Adha, edukasi mengenai pemilihan makanan menjadi sangat penting. Jeroan memang lezat, tetapi tidak semua orang cocok mengonsumsinya secara bebas. Kebiasaan makan yang bijak akan membuat perayaan tetap meriah dan lebih aman bagi kesehatan.
