Dokter Ingatkan Jangan Balas Dendam Saat Makan Daging Kurban

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 00:43 WIB 2
Dokter Ingatkan Jangan Balas Dendam Saat Makan Daging Kurban

Momen Idul Adha identik dengan melimpahnya daging kurban, mulai dari sapi hingga kambing, yang kemudian diolah menjadi sate, gulai, tongseng, hingga rendang. Meski sajian tersebut menggoda, spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyatno, SpPD-KGEH, mengingatkan masyarakat agar tidak makan secara berlebihan.

Menurutnya, kebiasaan "balas dendam" setelah menerima daging kurban justru dapat membebani pencernaan dan tubuh. Ia menyarankan masyarakat menikmati hidangan secara wajar, menyesuaikan porsi dengan kondisi badan, serta tidak menjadikan semua menu olahan daging tersedia sekaligus dalam satu hari.

Daging Kurban dan Porsi

dr Aru menegaskan bahwa konsumsi daging kurban sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Ia mencontohkan, jika ingin makan sate, cukup beberapa tusuk pada waktu tertentu. Setelah itu, porsi berikutnya dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengonsumsi sate, gulai, tongseng, dan rendang dari pagi hingga malam tanpa jeda. Menurutnya, pola seperti itu dapat membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mencerna makanan berlemak. Karena itu, pengaturan porsi menjadi kunci penting saat merayakan Idul Adha.

Dr Aru juga menjelaskan bahwa jatah daging kurban dari panitia sebenarnya sudah diatur agar tidak berlebihan. Bagi orang yang berkurban, jumlah daging yang bisa diambil pun terbatas. Aturan tersebut sejalan dengan anjuran untuk tetap menjaga keseimbangan konsumsi.

Olahan Daging Kurban Aman

Saat ditanya soal pilihan menu, dr Aru cenderung merekomendasikan sate dibandingkan olahan bersantan. Menurutnya, sate relatif lebih sederhana dan tidak seberat hidangan berkuah kental yang mengandung banyak lemak. Karena itu, ia menilai sate lebih aman dikonsumsi dalam porsi yang wajar.

Ia juga menyarankan masyarakat memilih menu yang lebih ringan bila ingin variasi olahan daging kurban. Alternatif yang dinilai lebih baik adalah sup bening, karena kandungan kuahnya tidak terlalu berat bagi lambung. Pilihan tersebut bisa menjadi jalan tengah bagi mereka yang ingin tetap menikmati daging tanpa berlebihan.

Menurut dr Aru, masalah utama bukan hanya jenis daging yang dikonsumsi, tetapi juga cara pengolahannya. Santan dan penggunaan minyak dalam jumlah besar dapat meningkatkan beban pencernaan. Karena itu, pemilihan metode masak perlu diperhatikan sejak awal.

Daging Kurban untuk Pencernaan

Masyarakat yang memiliki riwayat gangguan lambung disarankan lebih berhati-hati saat menyantap daging kurban. Konsumsi makanan berlemak dalam jumlah besar dapat memicu rasa tidak nyaman pada perut. Kondisi ini bisa semakin terasa bila makanan disantap terus-menerus tanpa jeda.

Dr Aru menyarankan agar masyarakat makan sesuai kebutuhan, bukan karena dorongan ingin menikmati semua hidangan sekaligus. Ia menekankan pentingnya mendengarkan sinyal tubuh, terutama bila mulai muncul rasa begah atau kembung. Dengan begitu, perayaan Idul Adha tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kesehatan.

Ia menambahkan bahwa pemulihan pencernaan juga bergantung pada kebiasaan sehari-hari. Asupan air yang cukup dan pengaturan waktu makan dapat membantu tubuh beradaptasi setelah mengonsumsi daging kurban. Langkah sederhana ini dinilai efektif untuk menjaga kenyamanan tubuh selama perayaan.

Daging Kurban dan Kebiasaan

Anjuran dokter tersebut sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengubah momen Idul Adha menjadi ajang makan berlebihan. Hidangan kurban tetap dapat dinikmati, selama porsinya terkontrol dan jenis olahannya dipilih dengan bijak. Dengan pola makan yang lebih sehat, tradisi berbagi tetap berjalan tanpa mengorbankan kondisi tubuh.

Kebiasaan memilih makanan yang lebih ringan juga dapat membantu menjaga energi tetap stabil sepanjang hari. Alih-alih menghabiskan banyak menu dalam satu waktu, masyarakat disarankan menikmati daging kurban secara bertahap. Cara ini dinilai lebih aman dan lebih ramah bagi sistem pencernaan.

Pesan utama dari dr Aru sederhana, yakni menikmati rezeki kurban secukupnya. Ia mengingatkan bahwa kesehatan tetap harus menjadi perhatian utama di tengah suasana perayaan. Dengan disiplin mengatur porsi, masyarakat bisa merayakan Idul Adha dengan lebih nyaman.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!