Holywings Diterpa Masalah, Perlukah Ganti Nama?

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 01:53 WIB 2
Holywings Diterpa Masalah, Perlukah Ganti Nama?

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Situasi itu datang bersamaan dengan polemik promo minuman alkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria, yang memicu kritik luas dari publik.

Di tengah sorotan tersebut, muncul pertanyaan apakah Holywings perlu mengganti nama untuk memulihkan citra. Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai keputusan itu tidak sederhana karena menyangkut reputasi, kekuatan merek, dan persepsi masyarakat.

Reputasi Holywings Tertekan

Yuswohady menilai reputasi Holywings sedang terpukul oleh polemik promo yang dikaitkan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan. Menurut dia, dampak tersebut memperburuk brand yang selama ini sudah dikenal luas di pasar.

Penutupan 12 outlet di Jakarta juga menambah beban citra perusahaan. Dalam pandangannya, kasus perizinan tidak hanya berdampak pada operasional, tetapi juga pada persepsi publik terhadap kepatuhan perusahaan.

Ia menyebut, ketika sebuah usaha sampai dilarang karena persoalan perizinan, maka citra mereknya ikut terdampak. Kondisi itu membuat posisi brand menjadi kurang sehat di mata konsumen maupun pemangku kepentingan.

Masalah yang menumpuk membuat Holywings harus memikirkan langkah pemulihan yang tepat. Tanpa penanganan serius, tekanan terhadap reputasi berpotensi berlanjut dan memengaruhi bisnis secara lebih luas.

Opsi Rebranding Masih Terbuka

Menurut Yuswohady, salah satu pilihan yang bisa ditempuh adalah rebranding. Langkah ini dinilai relevan jika merek masih memiliki kekuatan dan nilai yang bisa diselamatkan.

Dalam skema tersebut, nama Holywings tidak harus hilang sepenuhnya. Perusahaan dapat memakai format seperti nama baru dengan penanda tambahan, misalnya “by Holywings”, agar identitas lama tetap terbaca.

Strategi itu dianggap lebih aman jika brand masih punya modal ekuitas yang baik. Dengan cara tersebut, perusahaan dapat melakukan penyegaran tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan nama yang sudah dikenal.

Namun, rebranding tetap harus didasarkan pada penilaian yang matang. Jika dilakukan terburu-buru, langkah itu justru berisiko menimbulkan kebingungan di pasar.

Ganti Nama Punya Risiko Besar

Opsi lain adalah mengganti nama secara penuh dengan identitas baru. Yuswohady menegaskan langkah ini tidak bisa dipandang ringan karena membangun merek dari awal membutuhkan waktu, biaya, dan konsistensi.

Ia menyebut perlunya riset mendalam untuk menilai apakah nama Holywings sudah terlalu buruk di mata publik. Bila hasilnya menunjukkan citra merek sudah tidak layak dipertahankan, penggantian nama bisa menjadi jalan terakhir.

Meski begitu, perubahan total berarti perusahaan harus memulai dari nol. Tantangan terbesar ada pada upaya membangun pengenalan pasar, kepercayaan konsumen, dan daya saing merek yang baru.

Menurutnya, keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan strategi pemasaran. Ada faktor keberuntungan dan momentum pasar yang juga berperan besar dalam menentukan apakah merek baru bisa diterima masyarakat.

Riset Menentukan Langkah Akhir

Yuswohady menekankan bahwa keputusan akhir seharusnya didasarkan pada riset yang kuat. Perusahaan perlu mengetahui sejauh mana nama Holywings masih memiliki nilai positif di benak publik.

Jika hasil riset menunjukkan nama lama masih bisa diselamatkan, maka rebranding menjadi opsi yang lebih rasional. Sebaliknya, bila citra merek sudah terlanjur rusak, penggantian total bisa dipertimbangkan.

Langkah itu juga perlu disertai pembenahan operasional dan kepatuhan usaha. Tanpa perubahan mendasar, pergantian nama saja tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar.

Kasus Holywings menjadi pengingat bahwa reputasi bisnis sangat rapuh ketika berhadapan dengan isu kepatuhan dan sensitivitas publik. Dalam situasi seperti ini, keputusan strategis harus diambil dengan hati-hati agar kerugian merek tidak semakin besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!