Dokter Ingatkan Jangan Balas Dendam Makan Daging Kurban

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 13:25 WIB 2
Dokter Ingatkan Jangan Balas Dendam Makan Daging Kurban

Momen Idul Adha selalu identik dengan limpahan daging kurban, mulai dari sapi hingga kambing, yang kemudian diolah menjadi berbagai hidangan favorit masyarakat. Namun, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi Hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyatno, SpPD-KGEH, mengingatkan agar masyarakat tidak berlebihan saat menikmati sajian tersebut.

Ia menekankan, kebiasaan menikmati sate, gulai, tongseng, hingga rendang dari pagi sampai malam sebaiknya dihindari karena dapat membebani tubuh. Menurutnya, porsi makan perlu disesuaikan dengan kondisi badan agar perayaan tetap nikmat tanpa menimbulkan gangguan pencernaan.

Daging Kurban Perlu Dibatasi

dr Aru menilai, semangat menikmati hidangan kurban memang wajar karena momen ini tidak hadir setiap hari. Meski begitu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak membalas dendam dengan makan berlebihan sejak pagi hingga malam.

Ia menyarankan, cukup mengonsumsi beberapa tusuk sate pada pagi hari, lalu menyesuaikan asupan berikutnya dengan kondisi tubuh. Menurutnya, langkah sederhana ini dapat membantu lambung bekerja lebih nyaman dan mencegah rasa tidak enak setelah makan.

Pesan tersebut juga berlaku bagi mereka yang menerima jatah daging kurban dari panitia. Menurut dr Aru, porsi yang dibagikan sebenarnya sudah diatur agar tidak berlebihan bagi penerima.

Bagi orang yang berkurban, jumlah daging yang boleh diambil pun terbatas sehingga sebaiknya tidak digunakan untuk konsumsi secara berlebihan dalam satu waktu. Pengaturan porsi seperti ini dinilai penting agar manfaat daging kurban tetap terasa tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Pilih Olahan Lebih Ringan

Saat diminta memilih antara sate dan opor, dr Aru lebih menyarankan sate sebagai pilihan yang lebih ringan. Ia menilai, olahan yang tidak terlalu banyak santan umumnya lebih ramah bagi pencernaan.

Menurutnya, jika bosan dengan sate, masyarakat dapat memilih menu berkuah yang lebih sederhana. Pilihan tersebut dinilai lebih aman dibandingkan olahan yang kental dan tinggi lemak.

Ia bahkan menyebut sup bening sebagai alternatif yang lebih baik untuk dinikmati saat Idul Adha. Hidangan seperti ini tetap memberi rasa hangat, tetapi tidak terlalu membebani lambung.

Dengan pola makan yang lebih terukur, masyarakat tetap bisa menikmati suasana perayaan tanpa mengorbankan kenyamanan tubuh. Cara ini juga membantu menjaga energi agar aktivitas setelah makan tetap berjalan normal.

Jaga Pencernaan Saat Idul Adha

Menjaga pencernaan selama Idul Adha menjadi penting karena sebagian besar hidangan kurban cenderung tinggi protein dan lemak. Jika dikonsumsi tanpa kontrol, makanan tersebut dapat memicu rasa begah, tidak nyaman, hingga keluhan lambung.

dr Aru mengingatkan bahwa tubuh setiap orang memiliki batas toleransi yang berbeda. Karena itu, porsi makan idealnya tidak disamakan dengan keinginan mata yang sering tergoda oleh banyaknya pilihan menu.

Mengonsumsi makanan secara perlahan juga dapat membantu tubuh memberi sinyal kenyang lebih cepat. Kebiasaan ini sederhana, tetapi efektif untuk mencegah makan berlebihan saat suasana perayaan masih sangat meriah.

Selain itu, keseimbangan dengan asupan lain seperti air putih dan sayuran tetap diperlukan. Dengan begitu, tubuh tidak hanya kenyang, tetapi juga lebih siap menghadapi olahan daging yang umumnya lebih berat.

Rayakan Secukupnya, Tetap Sehat

Idul Adha seharusnya menjadi momen berbagi dan menikmati hidangan bersama keluarga dengan penuh syukur. Namun, rasa syukur itu tetap perlu diiringi dengan kebijaksanaan dalam memilih porsi dan jenis makanan.

Saran dr Aru menegaskan bahwa menikmati daging kurban tidak harus dilakukan secara berlebihan untuk merasa puas. Justru, makan secukupnya dapat membuat tubuh lebih nyaman dan perayaan berlangsung lebih menyenangkan.

Dengan memilih menu yang lebih ringan, masyarakat tetap bisa menikmati sate atau sup bening tanpa mengganggu pencernaan. Langkah sederhana ini membantu menjaga kesehatan sekaligus mempertahankan tradisi kuliner Idul Adha.

Pada akhirnya, kunci utama perayaan terletak pada keseimbangan antara kenikmatan dan pengendalian diri. Jika porsi dijaga dengan baik, momen Idul Adha akan tetap hangat, lezat, dan sehat untuk dijalani.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!