Momen Idul Adha kerap menghadirkan aneka hidangan daging kurban, mulai dari sate, gulai, tongseng, hingga rendang. Di tengah antusiasme masyarakat menikmati sajian tersebut, dokter mengingatkan agar konsumsi daging tetap terkendali dan tidak dilakukan secara berlebihan.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi Hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyatno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa pola makan saat Idul Adha sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh. Ia menyarankan masyarakat tidak melakukan balas dendam dengan menyantap daging dari pagi hingga malam.
Daging kurban dan batas konsumsi
dr Aru menilai, euforia Idul Adha sering membuat orang ingin menikmati semua olahan daging sekaligus. Padahal, menurut dia, tubuh tetap membutuhkan jeda dan pengaturan porsi agar pencernaan tidak bekerja terlalu berat.
Ia menyarankan konsumsi daging dilakukan secukupnya pada waktu tertentu, bukan sepanjang hari. Menurutnya, satu porsi kecil sudah cukup untuk menikmati momen kurban tanpa membebani lambung.
Dokter Aru juga mengingatkan bahwa jatah daging kurban yang dibagikan panitia sebenarnya sudah diatur agar tidak berlebihan. Karena itu, masyarakat tidak perlu merasa harus menghabiskan seluruh olahan dalam satu hari.
Menu olahan yang lebih aman
Saat diminta memilih antara sate dan opor, dr Aru cenderung merekomendasikan sate. Pilihan ini dinilai lebih sederhana dan tidak terlalu berat dibandingkan masakan bersantan kental.
Ia menambahkan, jika ingin alternatif yang lebih bersahabat bagi pencernaan, masyarakat sebaiknya memilih olahan berkuah bening. Sup bening dinilai lebih aman karena tidak mengandung banyak lemak tambahan.
Menurutnya, cara memasak sangat berpengaruh terhadap dampak makanan bagi tubuh. Karena itu, pemilihan menu perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Porsi kecil lebih disarankan
dr Aru menekankan pentingnya menjaga porsi makan meski hidangan daging tersedia melimpah. Ia menyebut tubuh tidak perlu dipaksa menerima makanan berat dalam jumlah besar sekaligus.
Pada praktiknya, konsumsi beberapa tusuk sate atau satu porsi kecil sudah cukup untuk memenuhi selera. Setelah itu, masyarakat disarankan menyesuaikan asupan berikutnya dengan kondisi tubuh dan rasa kenyang.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan Idul Adha sebagai alasan untuk makan tanpa kendali. Menurut dia, pola makan yang berlebihan justru dapat memicu keluhan pencernaan yang tidak diinginkan.
Jaga pencernaan saat Idul Adha
Selain mengatur porsi, masyarakat disarankan memperhatikan cara memasak dan komposisi hidangan. Olahan dengan santan pekat dan lemak tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering dalam satu waktu.
Pilihan lauk yang lebih ringan dapat membantu tubuh tetap nyaman setelah menikmati daging kurban. Pengolahan yang sederhana juga dinilai lebih mudah diterima sistem pencernaan.
Dengan pengaturan yang tepat, masyarakat tetap bisa merayakan Idul Adha tanpa mengorbankan kesehatan. Kuncinya adalah menikmati hidangan secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya.
