Dokter Ingatkan Batas Konsumsi Daging Saat Idul Adha

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 08:06 WIB 2
Dokter Ingatkan Batas Konsumsi Daging Saat Idul Adha

Momen Idul Adha kerap identik dengan melimpahnya olahan daging di rumah, mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Di tengah suasana perayaan, dokter mengingatkan bahwa konsumsi daging yang berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada orang dengan riwayat penyakit tertentu.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, menekankan perlunya menjaga pola makan tetap wajar saat Idul Adha. Menurutnya, perubahan pola makan yang drastis bisa meningkatkan risiko hipertensi, kolesterol tinggi, dan asam urat.

Konsumsi Daging Saat Idul Adha

dr Aru menilai, masyarakat perlu menahan diri agar tidak makan daging secara berlebihan hanya karena suasana hari raya. Ia menyarankan agar porsi makan tetap seperti hari biasa, meski menu daging tersedia lebih banyak.

Menurutnya, kebiasaan berlebih justru berpotensi memicu gangguan metabolik yang sebenarnya bisa dicegah. Ia mengingatkan bahwa tubuh tetap membutuhkan keseimbangan nutrisi, bukan sekadar penumpukan asupan daging dalam waktu singkat.

Ia juga menekankan bahwa risiko akan lebih besar pada orang yang sudah memiliki diabetes, hipertensi, atau gangguan metabolik lainnya. Pada kelompok ini, pengendalian porsi menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Karena itu, perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah daging yang dimakan, tetapi juga pada frekuensi konsumsinya. Jika pola makan tidak dikendalikan, keluhan kesehatan dapat muncul lebih cepat dari yang diperkirakan.

Selain porsi, cara pengolahan juga perlu diperhatikan saat menyantap daging kurban. Daging yang dimasak dengan kadar garam tinggi, minyak berlebih, atau lemak yang banyak dapat memberi beban tambahan bagi tubuh.

Olahan bersantan kental juga sebaiknya dibatasi karena berpotensi meningkatkan kadar kolesterol. Dalam jangka tertentu, kebiasaan ini dapat memicu kenaikan tekanan darah dan memperburuk kondisi asam urat.

Ia menyarankan agar masyarakat memilih metode memasak yang lebih ringan dan tidak terlalu banyak menggunakan lemak. Pengaturan bumbu yang wajar tetap bisa menghadirkan rasa, tanpa harus mengorbankan kesehatan.

Dengan cara itu, tradisi berbagi daging pada Idul Adha tetap dapat dinikmati tanpa menimbulkan risiko yang tidak perlu. Kunci utamanya adalah menjaga keseimbangan antara cita rasa, porsi, dan kondisi kesehatan pribadi.

Setelah daging tersedia dalam jumlah banyak, sebagian orang cenderung mengonsumsinya terus-menerus sejak pagi hingga malam. Pola seperti ini dinilai berbahaya karena tubuh tidak mendapat jeda yang cukup untuk memproses asupan secara normal.

dr Aru menilai, kebiasaan makan sate, gulai, tongseng, dan rendang secara beruntun sebaiknya dihindari. Variasi menu memang menggoda, tetapi pengaturan waktu makan tetap diperlukan agar tubuh tidak terbebani.

Ia mengingatkan bahwa makan berlebihan pada satu hari dapat berdampak pada hari-hari berikutnya, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap asupan lemak dan purin. Karena itu, konsumsi yang lebih terukur menjadi langkah pencegahan yang sederhana namun penting.

Kesadaran menjaga pola makan selama Idul Adha dapat membantu masyarakat merayakan hari besar dengan lebih sehat. Dengan porsi yang wajar dan pengolahan yang tepat, manfaat kebersamaan tetap bisa dirasakan tanpa mengorbankan kondisi tubuh.

Risiko Kesehatan Yang Mengintai

Konsumsi daging yang berlebihan dapat memicu kenaikan tekanan darah pada sebagian orang. Kondisi ini lebih berisiko bila makanan yang dikonsumsi tinggi garam dan lemak.

Selain itu, kadar kolesterol juga dapat meningkat jika daging diolah dengan santan kental atau minyak berlebih. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memperbesar peluang gangguan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Asam urat menjadi risiko lain yang perlu diwaspadai, terutama ketika menu daging dikonsumsi terlalu sering. Pada orang yang rentan, keluhan nyeri sendi bisa muncul dan mengganggu aktivitas harian.

Karena itu, masyarakat disarankan lebih peka terhadap sinyal tubuh setelah menyantap makanan berat. Bila muncul keluhan yang tidak biasa, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda.

Cara Aman Menyantap Daging

Pengaturan porsi menjadi langkah awal untuk menikmati daging kurban secara lebih aman. Makan secukupnya, lalu memberi jeda sebelum mengonsumsi menu berikutnya, dapat membantu tubuh mencerna asupan dengan lebih baik.

Pilihan olahan juga perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Daging yang dimasak dengan cara sederhana umumnya lebih baik dibandingkan olahan yang terlalu berminyak atau berat.

Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak air putih dan menyeimbangkan konsumsi dengan sayur serta buah. Kombinasi ini dapat membantu tubuh tetap terasa nyaman meski menu daging tersedia melimpah.

Dengan kebiasaan yang lebih terkendali, perayaan Idul Adha dapat berlangsung lebih sehat dan tetap bermakna. Anjuran dokter menjadi pengingat bahwa menikmati hidangan kurban tetap perlu disertai kesadaran menjaga tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!