Dokter Ingatkan Bahaya Makan Daging Berlebih Saat Idul Adha

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 18:09 WIB 2
Dokter Ingatkan Bahaya Makan Daging Berlebih Saat Idul Adha

Momen Idul Adha identik dengan melimpahnya olahan daging di banyak rumah, mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Di tengah suasana kebersamaan itu, dokter mengingatkan bahwa pola makan berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi-hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, menegaskan masyarakat perlu menjaga konsumsi daging agar tetap wajar. Ia menyebut perubahan pola makan yang drastis selama hari raya dapat meningkatkan risiko hipertensi, kolesterol tinggi, hingga asam urat.

Waspada Konsumsi Daging Berlebih

Menurut dr Aru, kebiasaan makan daging dalam jumlah besar saat Idul Adha sering dianggap wajar karena momen perayaan. Namun, jika dilakukan berlebihan, kebiasaan tersebut dapat memberi beban pada tubuh, terutama pada sistem metabolik. Kondisi ini bisa memicu keluhan yang muncul tanpa disadari sejak awal.

Ia menegaskan masyarakat sebaiknya tidak mengubah pola makan secara ekstrem hanya karena momen Lebaran Idul Adha. “Yang penting jangan berlebih, jangan kemudian mentang-mentang ini Lebaran Idul Adha, kemudian kita makan daging secara berlebih”, ujarnya saat ditemui detikcom, Kamis, 21 Mei 2026. Ia menambahkan, makan seperti biasa jauh lebih aman bagi tubuh.

Risiko tersebut menjadi lebih penting diperhatikan pada orang yang sudah memiliki diabetes, hipertensi, atau gangguan metabolik lainnya. Pada kelompok ini, konsumsi daging berlebihan dapat memperburuk kondisi yang sudah ada sebelumnya. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan sejak porsi pertama.

Selain jumlah daging, cara pengolahan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan. Makanan yang diolah terlalu asin, terlalu berminyak, atau terlalu berlemak dapat memicu kenaikan tekanan darah dan kadar kolesterol. Dalam jangka tertentu, pola ini juga dapat meningkatkan kadar asam urat.

Pilih Olahan Yang Lebih Sehat

Dr Aru menyarankan masyarakat lebih selektif saat memilih menu olahan daging. Ia menilai, pengolahan yang sederhana akan lebih aman dibandingkan hidangan dengan santan berlebihan atau lemak tinggi. Langkah ini dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan setelah perayaan.

Olahan seperti gulai, rendang, atau tongseng tetap dapat dinikmati, tetapi porsinya perlu dibatasi. Selain itu, masyarakat disarankan mengurangi penggunaan garam dan minyak berlebih agar beban metabolik tidak meningkat. Dengan begitu, hidangan khas Idul Adha tetap bisa disantap tanpa mengorbankan kesehatan.

Pemilihan bagian daging juga perlu diperhatikan agar asupan lemak tidak terlalu tinggi. Bagian yang lebih ramping umumnya lebih disarankan dibandingkan potongan yang banyak mengandung lemak. Kebiasaan kecil ini dapat memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan konsumsi daging dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup. Kombinasi makanan tersebut membantu tubuh mencerna asupan dengan lebih baik. Selain itu, keseimbangan menu dapat mengurangi rasa tidak nyaman setelah makan berat.

Kelola Pola Makan Selama Perayaan

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah makan berbagai olahan daging sepanjang hari tanpa jeda. Menurut dr Aru, pola seperti itu membuat tubuh terus menerima asupan lemak dan protein dalam jumlah tinggi. Akibatnya, sistem metabolik dapat bekerja lebih berat dari biasanya.

Ia mencontohkan kebiasaan dari pagi hingga malam yang diisi sate, gulai, tongseng, lalu ditutup rendang. Pola makan semacam ini dinilai tidak ideal bila dilakukan terus-menerus selama hari raya. Tubuh memerlukan waktu untuk memproses makanan dan menjaga keseimbangan organ.

Karena itu, masyarakat disarankan mengatur jadwal makan dan tidak menjadikan Idul Adha sebagai alasan untuk makan tanpa batas. Makan dalam porsi kecil namun teratur akan lebih baik dibandingkan menyantap banyak menu sekaligus. Dengan cara ini, kenikmatan tetap didapat tanpa menambah risiko kesehatan.

Selain mengatur porsi, aktivitas fisik ringan juga dapat membantu tubuh tetap bugar setelah menyantap hidangan berat. Berjalan kaki atau bergerak aktif dapat mendukung proses metabolisme dan mengurangi rasa begah. Upaya sederhana ini penting agar perayaan tetap sehat dan nyaman.

Kenali Risiko Sejak Awal

Masyarakat dengan riwayat penyakit tertentu perlu lebih waspada terhadap gejala setelah mengonsumsi daging berlebih. Keluhan seperti nyeri sendi, kepala terasa berat, atau tekanan darah naik bisa menjadi tanda tubuh tidak merespons dengan baik. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan bila keluhan tidak kunjung membaik.

Dr Aru menekankan bahwa kesadaran terhadap batas konsumsi adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan saat Idul Adha. Tradisi berbagi dan menikmati daging kurban tetap dapat dijalankan tanpa harus mengorbankan kondisi tubuh. Prinsipnya adalah menikmati secukupnya dan tetap terkendali.

Ia juga mengingatkan bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada mengatasi komplikasi setelah gejala muncul. Dengan mengatur porsi, memilih cara masak yang lebih sehat, dan menjaga pola makan, risiko gangguan metabolik dapat ditekan. Langkah sederhana ini dapat membuat perayaan lebih aman bagi banyak orang.

Di tengah suasana Idul Adha yang penuh hidangan, masyarakat diharapkan tetap menempatkan kesehatan sebagai prioritas. Menjaga pola makan bukan berarti mengurangi makna perayaan, melainkan memastikan tubuh tetap kuat setelah hari raya usai. Dengan begitu, tradisi tetap terjaga dan kesehatan pun tidak terabaikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!