Detektif Jubun Ungkap Realitas Profesi Investigator di Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 25 Mei 2026 13:20 WIB 3
Detektif Jubun Ungkap Realitas Profesi Investigator di Indonesia

Profesi detektif kerap dibayangkan seperti dalam film, lengkap dengan kewenangan hukum dan akses data rahasia. Namun, realitas di Indonesia jauh berbeda, karena istilah detektif lebih sering dipakai sebagai sebutan, bukan jabatan resmi.

Hal itu disampaikan Detektif Jubun dalam podcast YouTube milik pengusaha sekaligus figur publik Grace Tahir. Ia menjelaskan, pekerjaannya lebih tepat disebut private investigator, dengan fokus pada pengumpulan informasi, penyamaran, dan pendampingan klien secara profesional.

Detektif di Indonesia

Jubun menegaskan bahwa sebutan detektif di Indonesia tidak memiliki dasar seperti dalam gambaran film. Menurut dia, siapa pun pada dasarnya bisa menggunakan istilah tersebut.

Ia menyebut profesinya tidak memiliki kewenangan hukum layaknya aparat penegak hukum. Karena itu, pekerjaannya lebih dekat dengan jasa investigasi privat yang mengandalkan keterampilan, jaringan, dan ketelitian.

Dalam penjelasannya, Jubun menempatkan profesi ini sebagai layanan berbasis kepercayaan. Klien datang dengan kebutuhan spesifik, lalu investigator bekerja untuk mencari fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga menilai banyak orang salah memahami peran detektif karena pengaruh media populer. Padahal, di lapangan, pekerjaan tersebut menuntut etika, batasan, dan kehati-hatian tinggi.

Awal Karier Investigator

Karier Jubun dimulai dari bisnis penyedia tenaga keamanan yang ia jalankan sebelumnya. Dari aktivitas itu, ia mulai memiliki sumber daya dan jaringan yang kemudian membuka peluang investigasi.

Sejumlah relasi kemudian meminta bantuan untuk menelusuri berbagai persoalan. Dari situlah ia melihat jasa investigasi memiliki nilai bisnis yang menjanjikan.

Permintaan yang masuk tidak hanya berasal dari satu jenis kasus. Seiring waktu, kebutuhan klien berkembang, mulai dari pemantauan pasangan hingga penelusuran persoalan lain yang lebih kompleks.

Jubun menyebut perkembangan itu membuat timnya semakin terstruktur. Ia tidak lagi bekerja sendiri, melainkan membangun pola kerja yang lebih rapi dan profesional.

Kasus Perselingkuhan

Menurut Jubun, kasus yang paling sering ia tangani adalah dugaan perselingkuhan. Mayoritas klien yang datang merupakan perempuan yang sudah memiliki kecurigaan sejak awal.

Mereka biasanya tidak datang tanpa pegangan. Sebaliknya, para klien sudah membawa sejumlah petunjuk dan hanya membutuhkan bukti yang lebih kuat.

Bukti yang dicari umumnya berupa foto, video, atau momen yang dapat memperjelas dugaan. Hasil investigasi itu kemudian digunakan untuk memastikan keadaan sebenarnya sebelum mengambil langkah berikutnya.

Ia menjelaskan, tujuan klien juga berbeda-beda, tergantung kebutuhan masing-masing. Ada yang ingin sekadar mengonfirmasi kecurigaan, ada pula yang ingin memiliki bukti untuk menghadapi pasangan secara langsung.

Internet dan Batasan

Dalam menjalankan investigasi, Jubun mengandalkan kombinasi metode digital dan cara konvensional. Menurut dia, sekitar 90 persen proses awal banyak bertumpu pada informasi yang tersedia di internet.

Ia menegaskan timnya tidak melakukan peretasan atau membuka data secara ilegal. Yang dilakukan adalah memanfaatkan informasi publik, lalu mengolahnya dengan kreativitas dan ketelitian.

Selain penelusuran digital, tim juga melakukan pengintaian dan penyamaran di lapangan. Cara ini dipakai untuk memperkuat temuan dan memastikan data yang diperoleh tidak keliru.

Jubun juga memiliki batasan tegas dalam menerima klien. Ia menolak permintaan yang dinilai memiliki niat buruk, termasuk upaya menyalahgunakan informasi untuk mengambil anak dengan cara tidak benar.

Selain perselingkuhan, Jubun juga menangani kasus orang hilang dan penipuan asmara atau love scam. Dalam pencarian, ia biasanya menelusuri lingkungan terdekat target, termasuk teman dan lingkar pergaulannya.

Ia menilai perkembangan teknologi dan media sosial membuat pola hubungan menjadi semakin kompleks. Dari interaksi sederhana di internet, hubungan bisa terbentuk, tetapi di saat yang sama penipuan asmara juga semakin mudah terjadi.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat jasa investigator semakin dibutuhkan masyarakat. Di tengah derasnya informasi digital, kebutuhan untuk memverifikasi fakta menjadi semakin penting.

Meski begitu, Jubun menegaskan dirinya tidak menangani kasus kriminal berat yang menjadi kewenangan aparat penegak hukum. Perannya tetap berada pada ranah investigasi privat, dengan fokus pada pencarian fakta dan pendampingan klien.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!