Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 04:02 WIB 7
Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun

Pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta mencatat tekanan pada kunjungan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini terjadi seiring kenaikan harga berbagai kebutuhan yang dipicu pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut tarif dan harga sejumlah komoditas naik cukup signifikan. Akibatnya, trafik pengunjung di pusat belanja pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen, sementara kunjungan akhir pekan masih bertahan tinggi.

Pusat Belanja dan Daya Beli

Ellen Hidayat menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang di pasar. Menurut dia, kenaikan ini terasa pada kebutuhan harian yang dikonsumsi masyarakat.

Ia mencontohkan harga buah naga yang sebelumnya Rp25.000 per kilogram kini menjadi Rp40.000. Gas rumah tangga yang dahulu sekitar Rp210.000 juga naik menjadi Rp250.000.

Menurut Ellen, kenaikan tersebut menunjukkan tekanan biaya hidup yang semakin nyata. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung menahan belanja agar pengeluaran tetap terkendali.

Pusat Belanja Tertekan Harga

Tekanan harga tidak hanya dirasakan pada satu jenis barang, tetapi merembet ke berbagai kebutuhan lain. Buah-buahan yang naik harga disebut turut diikuti oleh sayur-sayuran dan komoditas lain.

Ellen menilai perubahan harga itu memberi efek berantai pada perilaku konsumsi masyarakat. Kalangan pekerja dengan pendapatan tetap menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.

Dengan gaji yang tidak berubah, daya beli masyarakat semakin terbatas. Situasi ini membuat pengunjung pusat belanja lebih selektif dalam berbelanja.

Pusat Belanja dan Trafik

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat penurunan trafik pada hari kerja di sejumlah pusat perbelanjaan. Penurunan tersebut berada di kisaran 15 hingga 20 persen dibandingkan periode normal.

Meski begitu, kondisi berbeda terlihat pada akhir pekan yang justru tetap ramai. Ellen mengatakan jumlah pengunjung pada Sabtu dan Minggu masih bisa lebih tinggi dari biasanya.

Ia menyebut pola ini sebagai situasi yang sedikit janggal, tetapi bukan hal yang aneh. Perubahan perilaku belanja membuat masyarakat cenderung datang ke mal pada waktu tertentu saja.

Pusat Belanja Menanti Stabilitas

Ellen berharap pelemahan rupiah tidak berlanjut lebih jauh karena bisa menekan konsumsi masyarakat. Stabilitas nilai tukar dinilai penting agar harga kebutuhan tidak terus naik.

Menurut dia, jika tekanan harga mereda, kepercayaan belanja masyarakat berpotensi membaik. Hal itu juga akan membantu pemulihan trafik pusat perbelanjaan di Jakarta.

Di tengah kondisi saat ini, pengelola pusat belanja tetap memantau pergerakan pengunjung secara berkala. Mereka juga menyesuaikan strategi agar tetap menarik minat konsumen di tengah tekanan ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!