Daun Nanas Jadi Serat Ekspor, Bisnis Alan Tembus Jepang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 11:06 WIB 6
Daun Nanas Jadi Serat Ekspor, Bisnis Alan Tembus Jepang

Bagi sebagian besar petani, daun nanas hanya dianggap limbah panen yang tidak bernilai dan kerap berakhir di pembakaran. Namun, bagi Alan Sahroni, sisa tanaman itu justru menjadi pintu masuk bisnis bernilai tinggi yang mengangkat ekonomi petani sekaligus membuka pasar ekspor.

Melalui Alfiber, Alan mengolah daun nanas menjadi serat yang dapat digunakan untuk tekstil, fesyen, hingga kerajinan. Produk itu kini telah menembus Singapura, Malaysia, Jerman, dan Jepang, berawal dari ide yang lahir saat ia masih menempuh pendidikan di Bandung.

Serat nanas jadi peluang bisnis

Perjalanan bisnis Alan bermula pada 2013, ketika ia mengikuti lomba business plan nasional sebagai syarat mengambil ijazah. Saat itu, ia tengah menjalani pendidikan di STT Tekstil Bandung lewat beasiswa Kementerian Perindustrian.

Dari sana, ia melihat potensi besar Subang sebagai daerah penghasil nanas, bukan hanya pada buahnya, tetapi juga pada daun yang selama ini diabaikan. Alan menyadari bahwa serat pada daun nanas dapat diolah menjadi bahan baku kain, kerajinan, dan produk fesyen.

Ide tersebut kemudian ia bawa ke lomba dan berhasil keluar sebagai pemenang. Kemenangan itu membuka jalan baginya untuk mendapat fasilitas pembuatan mesin pengolah daun nanas menjadi serat.

Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, Alan bersama dosennya merancang dekortikator atau mesin pengurai daun nanas. Mesin inilah yang menjadi dasar produksi komersial Alfiber hingga kini.

Inovasi mesin dari kampus

Pembuatan mesin menjadi titik penting dalam perkembangan usaha Alan. Tanpa perangkat itu, daun nanas sulit diolah menjadi serat yang layak digunakan industri.

Rancang bangun mesin dilakukan bersama dosen sebagai bagian dari realisasi ide yang lahir dari kompetisi. Pada akhirnya, mesin tersebut mulai digunakan secara nyata pada 2013.

Alan menyebut, pada fase awal dirinya harus memproduksi secara terbatas karena produk serat nanas masih sangat baru di pasar. Pada masa itu, tantangan terbesar bukan pada produksi, melainkan pada edukasi pasar.

Ia menuturkan pemasaran dilakukan dari nol, termasuk melalui blog gratis agar produk mulai dikenal publik. Perlahan, perhatian datang dari akademisi, mahasiswa, dan media nasional yang melihat nilai inovasi tersebut.

Pemasaran dimulai dari nol

Di tengah minimnya pemahaman pasar, Alfiber tidak langsung menerima pesanan besar. Alan harus menjelaskan fungsi serat nanas dan manfaatnya kepada calon pembeli dari berbagai latar belakang.

Strategi pemasaran sederhana justru menjadi titik awal pertumbuhan bisnis. Blog gratis yang digunakan sebagai etalase digital membantu produk ini menjangkau audiens lebih luas.

Seiring waktu, peminat datang dari industri kecil hingga universitas yang membutuhkan mesin mini untuk laboratorium. Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket lengkap produksi berupa mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin.

Paket itu membuat pelanggan tidak hanya membeli bahan baku, tetapi juga sistem produksi yang terintegrasi. Model ini memperkuat posisi Alfiber sebagai penyedia solusi, bukan sekadar penjual produk.

Ekspor serat nanas menembus pasar

Langkah besar Alfiber terjadi pada 2021, ketika perusahaan itu berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura di tengah pandemi COVID-19. Di saat banyak pelaku usaha terpukul, Alan justru menjaga ritme produksi dan pengiriman.

Pengiriman dilakukan bertahap sesuai ketersediaan serat yang siap dikirim. Setiap jumlah yang ada, mulai dari 100 kilogram hingga 300 kilogram, langsung diproses agar pesanan tetap berjalan.

Alan mengatakan total serat yang terjual ke Singapura mencapai 1,2 ton dengan harga Rp187 ribu per kilogram. Meski sempat menghadapi kendala karantina, transaksi tetap berjalan hingga tuntas.

Keberhasilan itu menegaskan bahwa limbah pertanian dapat menjadi komoditas bernilai tinggi bila diolah dengan inovasi. Dari daun nanas yang semula dibuang, Alan membuktikan bahwa peluang ekspor bisa lahir dari riset, ketekunan, dan keberanian membaca pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!