Dari Gerobak ke Ruko, Sate Mayestik Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 04:18 WIB 2
Dari Gerobak ke Ruko, Sate Mayestik Naik Kelas

Aroma sate ayam dan kambing khas Madura kembali menarik perhatian warga di kawasan Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di balik kepulan asap dan suara kipas bambu, Mochamad Haidir membuktikan bahwa usaha kecil dapat naik kelas lewat ketekunan dan keberanian mengambil peluang.

Pedagang berusia 30 tahun itu memulai usahanya sejak 2013 dari gerobak keliling di atas trotoar. Perjalanan panjangnya dipenuhi penolakan, tekanan, hingga masa sulit saat pandemi COVID-19, sebelum akhirnya ia mendapat kesempatan menempati ruko yang lebih strategis.

Perjuangan Sate Mayestik

Haidir memulai langkahnya sebagai pedagang sate keliling dengan modal kerja keras dan konsistensi. Setiap hari, ia mendorong gerobak dan menjajakan dagangan di berbagai titik sebelum akhirnya menetap di kawasan Mayestik.

Di masa awal berjualan, ia harus menghadapi berbagai penolakan dari sesama pedagang maupun aparat. Situasi itu membuatnya berkali-kali diuji, tetapi ia memilih untuk tetap bertahan.

Keputusan itu perlahan membuahkan hasil karena lokasi Mayestik memiliki lalu lintas tinggi dari pekerja perkantoran dan warga sekitar. Potensi itu menjadi alasan utama Haidir terus menjaga lapaknya di kawasan tersebut.

Tekanan Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi titik terberat dalam perjalanan usahanya. Sepinya pembeli membuat penjualan turun drastis dan memicu tekanan psikologis yang cukup berat bagi Haidir.

Ia mengaku sempat berpikir untuk menyerahkan lapaknya kepada orang lain. Bahkan, lapak itu pernah ditawar Rp50 juta, jauh di bawah harga yang ia harapkan sebesar Rp150 juta.

Meski sempat tergoda untuk berhenti, transaksi tersebut akhirnya batal. Keputusan itu justru menyelamatkan peluang usaha yang kelak menjadi lebih bernilai.

Ruko Strategis Diincar

Titik balik datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Haidir agar usahanya memiliki tempat yang lebih layak dan strategis.

Pindah ke ruko menjadi langkah penting untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan dan memperkuat citra usahanya. Dengan lokasi yang lebih terlihat, Haidir berharap penjualan dapat terus bertumbuh.

Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa usaha kuliner kecil dapat berkembang bila dikelola dengan sabar dan adaptif. Dalam persaingan yang ketat, lokasi, konsistensi, dan ketahanan mental menjadi modal penting.

Pelajaran Dari Ketekunan

Kisah Haidir menjadi contoh bahwa usaha mikro membutuhkan ketekunan panjang sebelum menuai hasil. Perjalanan dari gerobak sederhana ke ruko strategis tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses bertahun-tahun.

Di tengah tantangan biaya, persaingan, dan ketidakpastian pasar, ia tetap menjaga kualitas dagangan. Sikap itu membantu membangun kepercayaan pelanggan yang terus kembali menikmati sate buatannya.

Dari lapak sederhana di trotoar hingga tempat yang lebih mapan, Haidir menunjukkan bahwa peluang usaha sering lahir dari keberanian bertahan. Bagi pelaku UMKM, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa konsistensi kerap lebih berharga daripada langkah yang serba cepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!