Curhat Pemilik Dyalodya soal Retur COD yang Merugikan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 23 Mei 2026 03:40 WIB 6
Curhat Pemilik Dyalodya soal Retur COD yang Merugikan

Viral sebuah video curahan hati pemilik usaha hijab lokal, Dyalodya, yang mengeluhkan kerugian besar akibat tumpukan paket retur pelanggan dalam sepekan. Unggahan itu menyoroti masalah sistem Cash on Delivery atau COD yang disebut kerap disalahgunakan oleh oknum pembeli tidak bertanggung jawab. Peristiwa tersebut memicu perhatian warganet karena dinilai tidak hanya merugikan penjual, tetapi juga berpotensi mengganggu konsumen lain.

Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @dyalodya, terlihat paket berlabel COD menumpuk setelah gagal diterima dan dikembalikan oleh kurir. Pemilik usaha menilai praktik semacam ini telah menimbulkan beban operasional dan kerugian materi yang tidak kecil. Ia juga mengaku makin kecewa ketika menemukan paket retur dalam kondisi rusak dan diduga telah ditukar isinya.

COD Dyalodya Jadi Sorotan

Pemilik brand Dyalodya, Siti Zahra atau Zahra, menyampaikan bahwa usaha yang ia bangun sejak 2017 kini menghadapi tekanan besar dari tingginya retur paket COD. Ia mengatakan, video yang diunggahnya dibuat sebagai bentuk edukasi sekaligus respons atas banyaknya komplain dari orang-orang yang mengaku tidak pernah memesan produk Dyalodya. Kondisi itu membuatnya merasa perlu memberi peringatan kepada publik agar lebih waspada terhadap modus yang merugikan.

Menurut Zahra, paket yang sudah dikirim dengan kemasan resmi Dyalodya kerap dikembalikan tanpa alasan jelas oleh penerima. Ia menyebut sebagian paket masih bisa diterima kembali, namun ada juga yang rusak, terbuka, atau diduga telah diperlakukan tidak semestinya. Situasi itu, kata dia, membuat pelaku usaha harus menanggung biaya kirim, biaya operasional, dan kerugian stok barang.

Zahra menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar soal pembeli yang membatalkan pesanan. Ia melihat adanya pola penipuan yang lebih terstruktur, terutama ketika paket tiba dan penerima mengaku tidak pernah melakukan pembelian. Dalam beberapa kasus, ia menduga ada pihak yang memanfaatkan identitas toko untuk menjalankan modus tertentu.

Modus Retur Paket

Dalam unggahannya, Zahra memperlihatkan sejumlah paket yang dikembalikan dalam kondisi mengecewakan, termasuk paket yang isinya telah diganti dengan barang tak berharga. Ia menyebut pernah menemukan celana kolor bekas di dalam paket yang semestinya berisi pakaian. Temuan itu membuatnya semakin yakin bahwa ada unsur penipuan dalam proses pengiriman dan penerimaan barang.

Zahra juga mengungkap adanya modus lain yang dinilainya lebih berbahaya, yaitu penggunaan identitas dan alamat Dyalodya tanpa izin untuk mengirim paket COD ke konsumen acak. Ia menjelaskan, pada skema tersebut, pengirim yang tercantum justru bukan dari Dyalodya, melainkan toko lain yang tidak jelas identitasnya. Akibatnya, reputasi merek bisa ikut tercoreng, sementara penerima paket berpotensi menjadi korban karena merasa tidak pernah memesan barang.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menerima paket COD jika memang tidak merasa pernah melakukan transaksi dengan Dyalodya. Zahra menilai kewaspadaan konsumen sangat penting untuk mencegah kerugian yang lebih luas. Ia juga meminta publik memeriksa kembali setiap paket yang datang, terutama bila nama pengirim atau alamat terlihat mencurigakan.

Keluhan Warganet Menguat

Video curhat tersebut langsung menarik perhatian publik dan telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali. Kolom komentar dipenuhi respons warganet yang mengaku prihatin sekaligus kesal terhadap pihak-pihak yang menyalahgunakan sistem COD. Banyak di antara mereka menilai praktik itu sangat merugikan pelaku usaha kecil yang tengah berjuang mempertahankan bisnis.

Sejumlah pengguna Instagram juga membagikan pengalaman serupa, mulai dari dugaan kebocoran data pribadi hingga paket yang datang tanpa pernah dipesan. Ada pula yang menyebut data alamat pembeli bisa saja tersebar melalui pihak tertentu, baik dari kurir maupun lingkungan internal. Keluhan itu menunjukkan bahwa persoalan retur COD bukan hanya dialami Dyalodya, tetapi juga dirasakan oleh pelaku usaha lain.

Warganet meminta agar layanan COD dievaluasi lebih ketat demi mengurangi penyalahgunaan yang berulang. Beberapa akun bahkan menyarankan agar penjual menonaktifkan metode pembayaran tersebut jika risikonya terlalu besar. Namun, bagi pelaku UMKM, pilihan itu tidak selalu mudah karena COD masih menjadi metode yang banyak diminati pembeli.

Dampak bagi UMKM

Kasus yang dialami Dyalodya memperlihatkan bagaimana sistem COD dapat menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Di satu sisi, metode ini memudahkan konsumen yang belum terbiasa bertransaksi digital. Di sisi lain, tanpa pengawasan yang memadai, COD bisa dimanfaatkan untuk penipuan, penolakan paket, dan penyalahgunaan identitas.

Kerugian yang muncul tidak berhenti pada biaya pengiriman, karena penjual juga harus menanggung pengemasan ulang, pengelolaan stok, dan potensi barang tak layak jual. Bila kasus serupa terus berulang, kepercayaan pelaku usaha terhadap transaksi COD dapat menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi strategi penjualan UMKM di platform digital.

Peristiwa yang dialami Zahra menjadi pengingat bahwa perlindungan data, verifikasi alamat, dan kehati-hatian dalam transaksi perlu diperkuat. Pelaku usaha, kurir, dan konsumen sama-sama memiliki peran untuk mencegah modus penipuan semacam ini. Dengan pengawasan yang lebih baik, risiko kerugian dapat ditekan dan reputasi bisnis tetap terjaga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!