Cokelat masih menjadi rasa favorit banyak masyarakat Indonesia, namun racikan berbahan kakao asli Nusantara kini juga mulai dikenal di pasar internasional. Salah satu pelopornya adalah Cokelatin Signature, usaha milik pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra, yang mengolah kakao dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Irena menjelaskan bahwa pasar utama bisnis tersebut masih berada di dalam negeri, meski ekspor sudah dilakukan ke sejumlah negara. Produk Cokelatin Signature telah dikirim ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong dengan kapasitas yang masih terbatas karena mereka memilih tidak menjual bahan mentah.
Cokelat Asli Indonesia
Irena mengatakan, usaha itu berangkat dari kegemarannya terhadap minuman manis. Dari situ, ia mulai mencari tahu bahwa cokelat Indonesia memiliki kualitas rasa yang baik.
Awalnya, ia membuat racikan cokelat untuk konsumsi pribadi. Setelah itu, produk tersebut dicoba dibagikan kepada teman-teman kantor dan mendapat respons positif.
Pada 2016, Irena masih bekerja sebagai karyawan swasta ketika usaha ini mulai terbentuk. Dari pengalaman itu, ia dan suaminya kemudian belajar tentang bisnis, produksi, dan pengelolaan UMKM.
Nama Cokelatin sendiri lahir dari gabungan kata cokelat, Iren, dan Nugi. Menurut Irena, nama itu dipilih karena mereka memandang cokelat sebagai simbol rasa cinta.
Ekspor Cokelat Bertahap
Meski pasar domestik masih dominan, Cokelatin Signature sudah memulai ekspor sebagai brand. Pengiriman produk dilakukan ke Boston di Amerika Serikat, Riyadh di Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong.
Irena menyebut skala ekspor tersebut belum besar. Hal itu disebabkan kapasitas produksi yang masih disesuaikan dengan model usaha yang mereka bangun.
Pasangan ini menegaskan bahwa mereka tidak ingin mengekspor dalam bentuk bahan mentah. Mereka ingin membawa merek Indonesia langsung ke pasar luar negeri dengan nilai tambah yang lebih jelas.
Strategi itu membuat perjalanan ekspor berjalan lebih selektif. Namun, pendekatan tersebut dinilai penting agar identitas produk tetap terjaga di pasar internasional.
Fokus Produk Bubuk
Cokelatin Signature kini mengembangkan beberapa varian, termasuk cokelat bar. Meski begitu, produk yang paling banyak diproduksi tetap bubuk minuman cokelat.
Menurut Irena, minuman cokelat menjadi segmen yang paling dekat dengan selera konsumennya. Karena itu, pengembangan produk juga banyak diarahkan ke varian minuman.
Selain lebih mudah diterima pasar, bubuk minuman juga dinilai lebih praktis untuk distribusi. Dari sisi ekspor, produk tersebut dianggap lebih mudah ditangani dalam pengiriman.
Pilihan fokus itu membuat kapasitas produksi lebih efisien. Dengan begitu, bisnis dapat menjaga kualitas sekaligus menyesuaikan kebutuhan pasar luar negeri.
UMKM Naik Kelas
Kisah Cokelatin Signature memperlihatkan bahwa UMKM Indonesia punya peluang besar menembus pasar global. Kunci utamanya adalah keberanian membangun merek sendiri dan memanfaatkan bahan baku lokal.
Pengalaman Irena dan Nugroho juga menunjukkan bahwa bisnis bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana. Dari minuman favorit pribadi, lahirlah produk yang kini dikenal hingga ke beberapa negara.
Langkah mereka sejalan dengan upaya mendorong produk olahan bernilai tambah tinggi. Model seperti ini memberi contoh bahwa ekspor tidak harus selalu dimulai dari skala besar.
Dengan pendekatan yang bertahap, Cokelatin Signature tetap menjaga pasar domestik sambil merambah luar negeri. Strategi tersebut menjadi salah satu cara agar produk cokelat Indonesia semakin kompetitif di pasar dunia.
