Chiki Fawzi Pulang, Ayah Sambut Haru Usai Misi Gaza

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 14:57 WIB 2
Chiki Fawzi Pulang, Ayah Sambut Haru Usai Misi Gaza

Kepulangan Chiki Fawzi ke Tanah Air disambut haru oleh sang ayah, musisi senior Ikang Fawzi, setelah ia menjalani misi kemanusiaan yang penuh risiko terkait upaya menembus blokade Gaza. Pertemuan itu terjadi usai rangkaian perjalanan panjang dari Barcelona hingga Istanbul, yang diwarnai ketegangan saat sejumlah relawan WNI menghadapi intersepsi militer Israel di perairan internasional.

Chiki mengaku momen pelukan sang ayah menjadi titik emosional setelah berbulan-bulan berada dalam situasi yang menegangkan. Ia juga menuturkan pengalaman menyaksikan langsung dampak penahanan rekan-rekannya, termasuk kesaksian dugaan kekerasan fisik yang mereka alami selama masa penahanan.

Chiki Fawzi dan kepulangan

Chiki Fawzi mengatakan ayahnya datang langsung menjemput saat dirinya tiba di Jakarta. Ia menerima pelukan erat dari Ikang Fawzi yang menyambutnya dengan ucapan, “Welcome home, Ade”. Momen itu membuat Chiki merasa campur aduk setelah melalui perjalanan yang berat. Ia menyebut kepulangan tersebut sebagai akhir dari masa penuh tekanan emosional.

Menurut Chiki, perjalanan menuju misi kemanusiaan itu tidak berlangsung singkat. Ia berpindah dari satu etape ke etape lain, mulai dari Barcelona hingga Turki. Selama proses tersebut, ia harus menjaga kesiapsiagaan karena situasi di lapangan sangat dinamis. Kondisi itu membuat setiap tahap perjalanan terasa penuh kewaspadaan.

Ia menilai kehadiran keluarga saat kembali ke Tanah Air memberi kekuatan tersendiri. Dukungan langsung dari sang ayah menjadi pengingat bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi tekanan misi. Chiki juga menyebut penerimaan keluarga membuat beban emosionalnya sedikit lebih ringan. Ia berusaha menata kembali diri setelah pengalaman yang menguras energi.

Misi kemanusiaan menuju Gaza

Chiki menjelaskan bahwa saat sembilan relawan WNI lainnya berlayar menuju Gaza, dirinya berada di pusat komando di Istanbul. Bersama koordinator Uni Maimun, ia memantau situasi dari darat sambil mengikuti perkembangan kapal bantuan. Total ada 11 orang dalam rombongan yang terlibat dalam operasi itu. Peran tersebut membuatnya tetap berada dalam tekanan meski tidak berada di atas kapal.

Ketegangan memuncak ketika kapal-kapal bantuan dihadang secara paksa oleh militer Israel di perairan internasional. Chiki menyaksikan detik-detik intersepsi melalui pantauan dari pusat komando. Ia mengaku situasi tersebut berlangsung cepat dan membuat semua pihak waspada. Bagi dirinya, peristiwa itu menjadi salah satu titik paling kritis dalam misi tersebut.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama perjalanan itu adalah menyuarakan solidaritas untuk rakyat Palestina. Karena itu, seluruh anggota delegasi berusaha tetap fokus pada misi kemanusiaan meski risiko sangat tinggi. Chiki menyebut keberangkatan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh atas bahaya yang mungkin terjadi. Namun, semangat untuk membantu tetap menjadi alasan utama keberanian mereka.

Kesaksian perlakuan keras

Setelah para rekan dibebaskan, Chiki menerima sejumlah kesaksian yang menggambarkan perlakuan keras selama penahanan. Ia menyebut sebagian dari mereka mengalami intimidasi fisik yang berat dari pihak keamanan. Menurut penuturannya, situasi itu jauh lebih buruk dari yang dibayangkan sebelumnya. Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam baginya sebagai saksi tidak langsung.

Chiki mengungkapkan adanya cerita tentang relawan yang dipukuli, disetrum, dan diborgol menggunakan kabel ties yang sangat kencang. Ia menyebut tindakan tersebut sampai melukai tangan para korban. Bahkan, ada seorang jurnalis yang ia temani ke rumah sakit setelah bebas. Kondisi jurnalis itu disebut mengalami kencing darah akibat dugaan pemukulan di bagian ginjal.

Kesaksian tersebut membuat Chiki semakin yakin bahwa situasi kemanusiaan di lapangan tidak boleh diabaikan. Ia menilai laporan para korban perlu mendapat perhatian serius dari publik. Baginya, cerita itu menjadi pengingat bahwa misi solidaritas sering kali berhadapan dengan risiko nyata. Karena itu, ia merasa penting untuk terus menyuarakan apa yang terjadi.

Pesan Chiki Fawzi

Di tengah pengalaman berbahaya itu, Chiki menegaskan bahwa rasa takut terhadap ancaman manusia tidak boleh mengalahkan kepedulian terhadap sesama. Ia mengatakan dirinya justru lebih takut pada tantangan alam saat berada di laut Mediterania. Menurutnya, kondisi kapal yang bisa miring membuat setiap orang harus mengikat diri dengan karabiner. Situasi itu menunjukkan betapa ekstremnya perjalanan yang mereka tempuh.

Meski begitu, Chiki menolak membiarkan ketakutan terhadap militer menghentikan langkah solidaritas. Ia menilai pikiran harus dibebaskan dari rasa takut agar suara untuk rakyat Palestina tetap sampai. Baginya, keberanian bukan berarti tanpa rasa gentar, melainkan tetap melangkah meski ancaman ada di depan mata. Sikap itu ia pegang selama menjalani misi kemanusiaan tersebut.

Chiki juga berharap pengalaman ini menjadi pengingat bagi banyak pihak tentang pentingnya keberpihakan pada kemanusiaan. Ia menilai penderitaan warga Palestina tidak boleh dipandang sebagai isu jauh yang tidak relevan. Karena itu, ia ingin kisah para relawan dapat membuka perhatian publik yang lebih luas. Pesan yang ia bawa sederhana, yakni terus bersuara untuk mereka yang tertindas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!