BRIN Soroti Satursi Pendapatan Operator, Energi Terbarukan Jadi Solusi

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 26 Mei 2026 05:15 WIB 4
BRIN Soroti Satursi Pendapatan Operator, Energi Terbarukan Jadi Solusi

Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai industri telekomunikasi di Indonesia tengah menghadapi saturasi pendapatan, sehingga operator perlu mencari sumber efisiensi baru. Salah satu solusi yang dinilai paling menjanjikan adalah pemanfaatan energi terbarukan untuk jaringan telekomunikasi.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyampaikan bahwa kajian PricewaterhouseCoopers menunjukkan pertumbuhan revenue industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Ia menyebut kondisi ini menuntut operator untuk agresif mendorong penjualan sekaligus menekan biaya energi.

Energi Terbarukan Jaringan

Dr Mardi menjelaskan bahwa legacy services seperti telepon dan SMS kini sudah sangat minim digunakan. Karena itu, operator perlu menawarkan paket yang lebih menarik agar pertumbuhan pendapatan tetap terjaga.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026. Menurut dia, tantangan industri saat ini tidak hanya soal meningkatkan revenue, tetapi juga menjaga efisiensi operasional.

Ia menegaskan bahwa biaya energi memiliki porsi besar dalam struktur operasional operator telekomunikasi. Biaya tersebut disebut mencapai 20 persen dari total operational cost.

Dari porsi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi tersebut membuat penghematan energi menjadi ruang efisiensi yang sangat penting bagi industri.

Tekanan Biaya Operasional

Analisis McKinsey yang dikutip BRIN menyebut ada empat pendorong utama efisiensi energi di sektor ini. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Dari seluruh faktor tersebut, Dr Mardi menilai penghematan terbesar dapat diperoleh jika operator melakukan purchasing atau menghasilkan green energy untuk jaringan mereka. Langkah ini dinilai lebih strategis dibanding hanya mengandalkan efisiensi konvensional.

Pemanfaatan energi terbarukan dapat dilakukan melalui solar PV, turbin angin, micro hydro, atau teknologi lain sesuai karakteristik lokasi site. Pendekatan tersebut dinilai fleksibel karena bisa disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan jaringan.

Meski potensinya besar, BRIN mempertanyakan alasan implementasi energi terbarukan di jaringan operator masih terbatas di Indonesia. Padahal, opsi ini telah lama dibahas sebagai solusi pengendalian biaya.

Hambatan Implementasi

Dr Mardi mengingat riset mengenai energi terbarukan untuk telekomunikasi sudah dimulai sejak 2010. Pada masa itu, Telkom Indonesia disebut pernah menjalankan pilot project instalasi renewable energy di Kalimantan dan Sumatera.

Ia menilai fakta tersebut menunjukkan bahwa teknologi dan kajian awal sebenarnya sudah tersedia sejak lama. Namun, implementasi skala luas belum juga terlihat secara menyeluruh hingga kini.

Menurut dia, kondisi itu mengindikasikan adanya hambatan dari sisi operator. Hambatan tersebut dapat berkaitan dengan investasi, kesiapan infrastruktur, maupun kebijakan bisnis yang belum sepenuhnya mendukung.

Karena itu, Dr Mardi mendorong agar operator kembali meninjau peluang pemakaian energi hijau untuk jaringan mereka. Selain menekan biaya, langkah tersebut juga berpotensi memperkuat ketahanan operasional dalam jangka panjang.

Prospek Efisiensi Industri

BRIN menilai penerapan energi terbarukan dapat menjadi bagian penting dari transformasi industri telekomunikasi di Indonesia. Di tengah pertumbuhan pendapatan yang melambat, efisiensi menjadi faktor kunci agar operator tetap kompetitif.

Selain menurunkan biaya energi, penggunaan sumber daya hijau juga sejalan dengan agenda pengurangan emisi. Hal ini dapat meningkatkan citra perusahaan sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis.

Dengan kondisi pasar yang semakin menantang, operator dinilai perlu memadukan strategi komersial dan efisiensi energi secara paralel. Tanpa langkah tersebut, ruang pertumbuhan revenue akan semakin terbatas.

Dr Mardi menegaskan bahwa peluang penghematan biaya dari green energy semestinya tidak lagi dipandang sebagai wacana. Menurut dia, implementasi yang lebih luas dapat menjadi jawaban atas stagnasi pendapatan dan tingginya beban operasional industri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!