BRIN Soroti Saturnasi Pendapatan Operator, Energi Hijau Jadi Solusi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 01:34 WIB 6
BRIN Soroti Saturnasi Pendapatan Operator, Energi Hijau Jadi Solusi

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Kondisi ini membuat operator perlu mencari sumber pertumbuhan baru, sekaligus menekan biaya operasional agar tetap kompetitif.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut peluang paling menjanjikan berada pada efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan. Pandangan itu ia sampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026.

Energi Terbarukan untuk Telekomunikasi

Dr Mardi mengutip riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan tren pendapatan historis hingga proyeksi 2032 hanya tumbuh 1,2 persen. Menurut dia, angka tersebut menandakan ruang kenaikan revenue industri telekomunikasi semakin terbatas.

Ia menilai operator harus lebih agresif mendorong penjualan melalui paket layanan yang menarik. Hal itu penting karena layanan legacy seperti telepon suara dan SMS kini semakin jarang digunakan pelanggan.

Di saat yang sama, operator juga dituntut memaksimalkan pendapatan dengan menekan beban operasional. Salah satu beban terbesar datang dari biaya energi yang menyerap porsi signifikan dalam struktur biaya perusahaan.

Biaya Energi Menjadi Tekanan

Menurut Dr Mardi, biaya energi mencakup sekitar 20 persen dari total operational cost operator telekomunikasi. Dari porsi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik.

Ia menilai kondisi tersebut membuat efisiensi energi menjadi agenda strategis, bukan sekadar pilihan teknis. Jika biaya energi tidak ditekan, margin keuntungan operator berpotensi semakin tergerus.

Analisis McKinsey yang ia sampaikan menyebut ada empat pendorong utama penghematan biaya energi. Empat pendorong itu adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Peluang Efisiensi Jaringan

Meski begitu, Dr Mardi menilai potensi penghematan terbesar datang dari pembelian atau pembangkitan energi hijau untuk jaringan telekomunikasi. Menurut dia, langkah ini dapat memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional jangka panjang.

Energi terbarukan yang dimaksud dapat berupa solar PV, wind turbine, micro hydro, hingga teknologi lain yang disesuaikan dengan profil lokasi site. Pemilihan teknologi, kata dia, harus mengikuti karakteristik wilayah agar hasilnya efektif.

Dengan pendekatan tersebut, operator tidak hanya mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil. Mereka juga dapat memperkuat citra perusahaan yang lebih berkelanjutan di mata publik dan investor.

Hambatan Implementasi Operator

Dr Mardi mempertanyakan alasan implementasi energi terbarukan di jaringan telekomunikasi Indonesia masih berjalan lambat. Ia mengingat riset mengenai topik ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2010.

Pada masa itu, Telkom Indonesia pernah menjalankan proyek percontohan instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, inisiatif tersebut belum berkembang menjadi penerapan menyeluruh di jaringan operator.

Ia menilai masih ada hambatan yang membuat solusi ini belum diterapkan secara luas hingga sekarang. Menurut dia, pertanyaan tentang penghalang implementasi harus dijawab agar transformasi energi di industri telekomunikasi benar-benar terwujud.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!