BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telko, Energi Terbarukan Jadi Solusi

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 29 Mei 2026 15:39 WIB 5
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telko, Energi Terbarukan Jadi Solusi

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai industri operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi pendapatan. Kondisi itu mendorong pelaku usaha mencari sumber efisiensi baru, termasuk lewat pemanfaatan energi terbarukan untuk jaringan seluler.

Peneliti Ahli Muda BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut analisis PricewaterhouseCoopers memperlihatkan pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Ia menilai operator perlu agresif menggenjot penjualan sekaligus menekan biaya energi agar profitabilitas tetap terjaga.

Revenue Telko Makin Menipis

Dr Mardi menjelaskan bahwa layanan legacy seperti telepon dan SMS kini sudah sangat minim digunakan. Pergeseran konsumsi pelanggan ke layanan data membuat ruang pertumbuhan pendapatan operator semakin terbatas.

Dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, ia menegaskan bahwa operator harus menghadirkan paket yang lebih menarik. Langkah itu diperlukan agar pertumbuhan revenue tidak bergantung pada layanan lama yang terus menyusut.

Menurutnya, hasil riset PwC menunjukkan tren historical revenue pada 2021 hingga proyeksi 2032 hanya meningkat tipis. Angka itu menggambarkan tantangan besar bagi industri telekomunikasi yang sudah berada dalam fase matang.

Ia menilai tekanan tersebut membuat perusahaan telekomunikasi harus mencari ruang pertumbuhan di luar pola bisnis konvensional. Tanpa strategi baru, pendapatan operator berisiko stagnan dalam jangka panjang.

Biaya Energi Jadi Beban

Selain mengejar penjualan, Dr Mardi menyoroti pentingnya optimalisasi biaya energi dalam operasi jaringan. Ia menyebut biaya energi menyumbang sekitar 20 persen dari total operational cost operator telekomunikasi.

Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi ini membuat pengelolaan energi menjadi salah satu titik efisiensi paling strategis bagi operator.

Ia menilai penghematan di pos energi dapat langsung berdampak pada margin keuntungan perusahaan. Karena itu, efisiensi energi perlu ditempatkan sejajar dengan strategi peningkatan revenue.

Tekanan biaya yang tinggi juga membuat operator harus lebih cermat dalam memilih teknologi dan sumber daya pendukung jaringan. Di tengah kompetisi yang ketat, efisiensi operasional menjadi faktor pembeda yang semakin penting.

Empat Pendorong Efisiensi

Analisis McKinsey yang dikutip Dr Mardi menyebut ada empat pendorong utama untuk menurunkan biaya energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Empat faktor itu dinilai saling terkait dalam menentukan strategi energi operator telekomunikasi. Namun, tidak semua pendekatan memberikan dampak penghematan yang sama besar.

Dr Mardi berpendapat bahwa potensi penghematan paling tinggi justru muncul dari pembelian atau pembangunan energi hijau untuk jaringan. Skema ini dinilai lebih relevan untuk kebutuhan operasional jangka panjang.

Dengan energi terbarukan, operator dapat menekan ketergantungan pada sumber energi fosil. Selain itu, pendekatan tersebut juga selaras dengan agenda keberlanjutan yang kini semakin diperhatikan industri.

Potensi Energi Hijau

Menurut Dr Mardi, penggunaan energi terbarukan bisa disesuaikan dengan karakteristik lokasi jaringan. Pilihannya mencakup solar PV, wind turbine, micro hydro, hingga teknologi lain yang relevan dengan kondisi site.

Ia menilai pendekatan tersebut membuka peluang efisiensi yang lebih besar dibandingkan pola pasokan energi tradisional. Di saat yang sama, operator juga dapat mengurangi tekanan biaya dalam operasional harian.

Meski begitu, ia mempertanyakan lambatnya implementasi renewable energy system di jaringan telekomunikasi Indonesia. Padahal, sejumlah riset dan pilot project sudah dilakukan sejak lama.

Dr Mardi mengingat bahwa Telkom Indonesia pernah menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera pada 2010. Menurutnya, fakta itu menunjukkan bahwa hambatan implementasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!