BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco di Indonesia

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 05:58 WIB 2
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco di Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Kondisi ini dinilai membuat ruang pertumbuhan industri semakin terbatas, sementara biaya operasional tetap harus ditekan agar bisnis tetap kompetitif. Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyampaikan pandangan itu dalam sebuah webinar pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam forum tersebut, ia menyoroti pentingnya efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan di jaringan telekomunikasi.

Dr Mardi merujuk hasil riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan pertumbuhan revenue industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Menurut dia, operator kini tidak cukup hanya mengandalkan layanan lama, seperti telepon dan SMS, karena penggunaan legacy services terus menurun. Di sisi lain, biaya energi menjadi komponen besar dalam struktur pengeluaran perusahaan telekomunikasi. Karena itu, efisiensi energi disebut menjadi salah satu kunci untuk menjaga profitabilitas sektor ini.

energi terbarukan untuk operator

Dr Mardi menilai peluang penghematan terbesar muncul ketika operator mulai membeli atau menghasilkan energi hijau untuk mendukung jaringan. Energi tersebut dapat berasal dari solar PV, turbin angin, micro hydro, hingga teknologi kinetik, tergantung kondisi lokasi site. Pendekatan itu dinilai lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan profil kebutuhan masing-masing wilayah operasional. Selain menekan biaya, penggunaan energi terbarukan juga berpotensi memperkuat citra industri yang lebih ramah lingkungan.

Menurut analisis McKinsey yang dikutip dalam paparan tersebut, terdapat empat pendorong utama efisiensi biaya energi. Empat faktor itu meliputi keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, serta daya saing industri. Dari keempatnya, Dr Mardi menilai pengadaan energi terbarukan memberi dampak paling besar bagi penghematan jangka panjang. Ia menyebut strategi ini bukan hanya soal pengurangan biaya, tetapi juga soal keberlanjutan bisnis operator.

Dalam struktur biaya operator telekomunikasi, cost of energy disebut mencapai sekitar 20 persen dari total operational cost. Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi ini membuat ruang efisiensi energi menjadi sangat penting bagi perusahaan. Jika pengeluaran tersebut dapat ditekan, maka margin usaha berpotensi membaik secara signifikan.

Dr Mardi menegaskan bahwa operator perlu mencari model pengelolaan energi yang lebih adaptif terhadap perkembangan industri. Ia menilai ketergantungan pada sumber energi konvensional akan semakin memberatkan ketika pendapatan utama tidak bertumbuh cepat. Dalam situasi seperti itu, investasi pada energi terbarukan dapat menjadi strategi defensif sekaligus ofensif. Strategi tersebut memberi peluang untuk menjaga kualitas layanan sambil mengendalikan beban biaya.

biaya energi tekan margin

Energi disebut menjadi salah satu pos yang paling mudah memengaruhi margin keuntungan operator. Saat pendapatan stagnan, kenaikan biaya operasional akan langsung menekan kinerja keuangan perusahaan. Karena itu, efisiensi pada penggunaan listrik dan bahan bakar menjadi perhatian utama. Langkah kecil dalam penghematan energi dapat memberi dampak besar pada skala jaringan yang luas.

Dr Mardi menjelaskan bahwa pembelian bahan bakar dan listrik masih mendominasi pengeluaran energi operator. Ketergantungan itu membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga energi dan gangguan pasokan. Dalam jangka panjang, pola seperti ini berisiko mengurangi fleksibilitas bisnis. Oleh sebab itu, diversifikasi sumber energi dinilai semakin relevan untuk diterapkan.

Ia juga menekankan bahwa efisiensi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kebijakan dan keberanian investasi. Operator perlu menilai ulang model pengelolaan energi di setiap site agar lebih hemat dan berkelanjutan. Pemanfaatan sistem pemantauan energi dapat membantu perusahaan membaca titik boros secara lebih akurat. Dengan data yang tepat, keputusan investasi pun dapat dibuat lebih terukur.

Dalam pandangan BRIN, efisiensi energi harus diposisikan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar program teknis. Hal ini karena tekanan biaya akan terus muncul seiring perubahan perilaku pengguna dan persaingan industri. Di saat layanan suara dan pesan singkat makin ditinggalkan, operator harus mencari sumber nilai baru. Salah satu jalannya adalah memperkuat efisiensi pada tulang punggung jaringan mereka.

hambatan adopsi hijau

Meski potensi energi terbarukan dinilai besar, implementasinya di jaringan telekomunikasi Indonesia belum berjalan menyeluruh. Dr Mardi mempertanyakan alasan di balik lambatnya adopsi tersebut, padahal riset terkait sudah dimulai sejak 2010. Pada masa itu, Telkom Indonesia sempat menjalankan proyek percontohan instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, hasil pilot project tersebut belum berkembang menjadi penerapan skala luas di seluruh jaringan.

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan adanya hambatan yang belum terselesaikan di level operator. Hambatan tersebut bisa berasal dari aspek teknis, ekonomi, maupun regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Selain itu, kesiapan infrastruktur di tiap daerah juga tidak selalu sama. Karena itu, penerapan energi hijau membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik dan bertahap.

Dr Mardi menilai pertanyaan terbesar bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada keputusan untuk mengadopsinya. Jika sebuah proyek sudah dimulai lebih dari satu dekade lalu, seharusnya sudah ada ruang evaluasi yang lebih matang. Namun, kenyataannya implementasi menyeluruh masih belum terlihat di banyak operator. Situasi ini memperlihatkan bahwa transisi energi di sektor telekomunikasi masih berjalan lambat.

Ia menambahkan bahwa operator perlu menjawab tantangan transisi energi dengan langkah nyata, bukan hanya wacana. Dalam konteks industri yang persaingannya ketat, keterlambatan adaptasi dapat menjadi beban tambahan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pelaku industri, peneliti, dan pemangku kebijakan dinilai penting. Kolaborasi tersebut dapat mempercepat lahirnya model energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

masa depan telekomunikasi

BRIN memandang masa depan industri telekomunikasi akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan operator mengelola biaya energi. Pertumbuhan pendapatan yang rendah menuntut perusahaan untuk lebih kreatif dalam mencari efisiensi dan sumber nilai baru. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap kualitas layanan tetap harus dipenuhi. Karena itu, strategi bisnis dan strategi energi tidak bisa lagi dipisahkan.

Penggunaan energi terbarukan berpotensi menjadi salah satu jawaban atas tekanan tersebut. Selain membantu menekan biaya, langkah itu juga mendukung agenda pengurangan emisi yang semakin mendapat perhatian. Dalam konteks jaringan seluler yang tersebar luas, manfaat efisiensi dapat terasa pada banyak titik operasional. Dampaknya akan semakin besar jika diterapkan secara konsisten dan terukur.

Dr Mardi menilai operator perlu melihat energi sebagai aset strategis yang turut menentukan daya saing. Ketika biaya energi bisa ditekan, ruang untuk inovasi layanan akan semakin terbuka. Di sisi lain, perusahaan juga dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan energi konvensional. Kondisi itu akan membantu operator bertahan di tengah pertumbuhan pendapatan yang melambat.

Dengan tantangan yang semakin kompleks, sektor telekomunikasi dinilai perlu mempercepat transformasi menuju model yang lebih efisien dan hijau. BRIN menegaskan bahwa energi terbarukan bukan lagi sekadar opsi tambahan, melainkan peluang strategis untuk masa depan industri. Jika hambatan implementasi dapat diurai, penghematan biaya dan penguatan bisnis bisa berjalan bersamaan. Pada titik itu, operator telco akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi persaingan jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!