BRIN: Energi Terbarukan Bisa Tekan Biaya Operator Telko

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 07:06 WIB 4
BRIN: Energi Terbarukan Bisa Tekan Biaya Operator Telko

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai industri operator telekomunikasi di Indonesia tengah menghadapi saturasi pendapatan. Kondisi ini membuat ruang pertumbuhan revenue semakin sempit, sementara kebutuhan efisiensi biaya justru kian mendesak.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr. Moch Mardi Marta Dinata, menyebut solusi yang dapat ditempuh adalah optimalisasi energi terbarukan. Ia menyampaikan pandangan itu dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026.

Energi Terbarukan untuk Telko

Dr. Mardi mengutip hasil riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan tren pendapatan industri telekomunikasi hanya tumbuh 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Angka itu menggambarkan tekanan besar yang dihadapi operator dalam menjaga pertumbuhan bisnis.

Ia menilai operator perlu lebih agresif mendorong penjualan melalui paket yang menarik. Sebab, layanan legacy seperti telepon dan SMS sudah semakin sedikit digunakan oleh pelanggan.

Dalam situasi tersebut, pertumbuhan pendapatan tidak lagi bisa bertumpu pada sumber lama. Operator harus mencari ruang baru agar bisnis tetap kompetitif di tengah perubahan perilaku konsumen.

Menurut Dr. Mardi, efisiensi energi menjadi langkah penting untuk memaksimalkan revenue. Biaya energi diketahui menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator telekomunikasi.

Biaya Energi Jadi Tekanan

Dari porsi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi ini membuat pengelolaan energi menjadi salah satu komponen biaya paling strategis bagi operator.

Dr. Mardi menegaskan bahwa penghematan pada pos energi dapat memberikan dampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Jika biaya operasional turun, ruang untuk menjaga profitabilitas akan semakin terbuka.

Ia juga menyoroti hasil analisis McKinsey yang menyebut ada empat pendorong utama efisiensi biaya energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Meski demikian, menurutnya, potensi penghematan terbesar justru berasal dari penerapan green energy. Operator dapat melakukan purchasing atau membangun sumber energi hijau untuk mendukung jaringan telekomunikasi.

Potensi Penerapan Hijau

Energi terbarukan yang dimaksud dapat berasal dari solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, dan sumber lain yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi. Model ini dinilai lebih fleksibel karena dapat menyesuaikan profil site jaringan.

Dengan penggunaan sumber energi hijau, operator berpeluang menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan listrik konvensional. Langkah itu juga sejalan dengan dorongan pengurangan emisi di sektor industri.

Dr. Mardi menilai pendekatan tersebut bukan hanya soal penghematan, tetapi juga strategi jangka panjang. Operator yang lebih efisien dalam penggunaan energi akan memiliki ketahanan bisnis yang lebih baik.

Ia menambahkan bahwa penerapan renewable energy system dapat menjadi nilai tambah bagi industri telekomunikasi nasional. Selain efisiensi, perusahaan juga dapat memperkuat citra keberlanjutan di mata publik dan investor.

Hambatan Implementasi Operator

Meski potensinya besar, Dr. Mardi mempertanyakan alasan operator telekomunikasi di Indonesia belum mengimplementasikan sistem energi terbarukan secara menyeluruh. Menurutnya, hambatan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar solusi yang tepat dapat dirumuskan.

Ia mengingat riset terkait energi terbarukan di jaringan telekomunikasi sudah dimulai sejak 2010. Saat itu, Telkom Indonesia sempat menjalankan proyek percontohan untuk instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa gagasan pemanfaatan energi hijau bukan hal baru di sektor telekomunikasi. Namun, hingga kini penerapannya belum meluas ke seluruh jaringan operator.

Dr. Mardi menilai kondisi itu menandakan masih adanya hambatan, baik dari sisi teknis, bisnis, maupun kebijakan. Karena itu, ia mendorong agar operator, regulator, dan pemangku kepentingan lain mempercepat pembahasan solusi yang lebih konkret.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!