BRIN Dorong Energi Terbarukan untuk Efisiensi Telco

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 06:01 WIB 7
BRIN Dorong Energi Terbarukan untuk Efisiensi Telco

Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai industri telekomunikasi di Indonesia mulai menghadapi saturasi pendapatan, sementara kebutuhan efisiensi operasional semakin mendesak. Di tengah pertumbuhan revenue yang diproyeksikan sangat terbatas, energi terbarukan disebut sebagai salah satu solusi untuk menjaga daya saing operator.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, mengutip riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan kenaikan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Pandangan itu disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi dengan tema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026.

Energi Terbarukan untuk Telco

Menurut Dr Mardi, operator telekomunikasi perlu agresif meningkatkan penjualan melalui paket layanan yang lebih menarik. Hal itu diperlukan karena layanan legacy seperti telepon dan SMS kini sudah sangat sedikit digunakan pelanggan. Kondisi tersebut membuat ruang pertumbuhan pendapatan semakin sempit. Karena itu, efisiensi biaya menjadi faktor yang tidak bisa ditunda.

Ia menjelaskan bahwa biaya energi menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator telekomunikasi. Dari porsi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Beban tersebut membuat penghematan energi memiliki dampak langsung terhadap profitabilitas. Dengan kata lain, strategi energi kini menjadi bagian dari strategi bisnis inti.

BRIN menilai operator perlu melihat energi bukan sekadar sebagai biaya, melainkan sebagai variabel strategis. Jika pengelolaan energi lebih efisien, margin usaha dapat lebih terjaga di tengah pasar yang jenuh. Situasi ini juga mendorong perusahaan mencari sumber energi yang lebih murah dan stabil. Salah satu opsi yang paling banyak dibahas adalah pemanfaatan energi hijau.

Empat Pendorong Efisiensi

Dr Mardi mengutip analisis McKinsey yang menyebut ada empat pendorong utama untuk menekan biaya energi. Empat faktor itu adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Kerangka tersebut dinilai relevan bagi operator di Indonesia. Sebab, kebutuhan jaringan telekomunikasi terus meningkat dari sisi kapasitas dan stabilitas.

Dari keempat faktor itu, ia menilai potensi penghematan terbesar berasal dari purchasing atau generating green energy. Pendekatan ini dapat diterapkan untuk kebutuhan jaringan telekomunikasi di berbagai wilayah. Bentuknya bisa berupa solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau teknologi lain sesuai karakter lokasi. Dengan begitu, operator dapat menyesuaikan pasokan energi dengan profil site masing-masing.

Pemanfaatan energi terbarukan juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan listrik konvensional. Dalam jangka panjang, langkah ini berpotensi menekan biaya sekaligus mendukung target pengurangan emisi. Bagi industri yang padat infrastruktur, efisiensi semacam ini menjadi nilai tambah penting. Karena itu, transisi energi mulai dipandang sebagai kebutuhan bisnis, bukan sekadar kepatuhan lingkungan.

Jejak Pilot Project Awal

Dr Mardi mengingat bahwa riset mengenai penerapan energi terbarukan di jaringan telekomunikasi sebenarnya sudah dimulai sejak 2010. Pada periode itu, Telkom Indonesia pernah menjalankan pilot project instalasi renewable energy di Kalimantan dan Sumatera. Langkah tersebut menunjukkan bahwa konsep ini bukan hal baru di Indonesia. Namun, implementasinya belum berkembang secara menyeluruh hingga kini.

Ia mempertanyakan alasan mengapa operator belum mengadopsi sistem energi terbarukan secara luas setelah hampir 15 tahun berlalu. Menurutnya, keberadaan pilot project seharusnya bisa menjadi pijakan untuk ekspansi yang lebih besar. Jika uji coba awal berhasil, penerapan bertahap mestinya dapat dilakukan di lokasi yang sesuai. Pertanyaan itu sekaligus menyoroti adanya hambatan struktural di sektor telekomunikasi.

Hambatan tersebut diduga berkaitan dengan kesiapan investasi, model bisnis, hingga kecocokan teknologi dengan kondisi lapangan. Setiap site jaringan memiliki karakter yang berbeda, sehingga pendekatan energi pun tidak bisa disamaratakan. Meski demikian, kebutuhan efisiensi membuat operator perlu kembali membuka opsi yang pernah diuji sebelumnya. Dalam konteks itu, energi hijau dinilai layak masuk agenda strategis industri.

Prospek Efisiensi Operator

BRIN menilai penerapan energi terbarukan dapat menjadi jalan untuk memperkuat ketahanan biaya operator telekomunikasi. Ketika pendapatan industri tumbuh lambat, penghematan di sisi energi akan memberi ruang fiskal yang lebih sehat. Langkah ini juga dapat membantu operator menjaga kualitas layanan tanpa menambah beban operasional berlebihan. Dengan demikian, efisiensi dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan.

Selain memberi manfaat ekonomi, penggunaan energi terbarukan juga sejalan dengan tuntutan pengurangan emisi di sektor industri. Operator yang lebih cepat beradaptasi berpeluang memperoleh citra yang lebih positif di mata publik dan investor. Hal tersebut semakin penting di tengah perhatian besar terhadap isu transisi energi. Karena itu, keputusan investasi energi kini memiliki dimensi reputasi sekaligus finansial.

Dr Mardi menegaskan bahwa pertanyaan utama bukan lagi apakah energi terbarukan diperlukan, melainkan kapan penerapannya diperluas. Selama legacy services terus menurun, operator harus mencari sumber pendapatan baru sekaligus menekan biaya secara lebih cermat. Energi hijau, menurut BRIN, menjadi salah satu jawaban yang paling realistis untuk kondisi tersebut. Tantangannya kini terletak pada keberanian industri mengubah pendekatan lama menjadi strategi yang lebih adaptif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!