BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi Moh. Royhan Nahado 26 Mei 2026 19:34 WIB 2
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Inisiatif ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing. Peluang kerja sama tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala PRTS BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu. Pertemuan itu membuka ruang diskusi mengenai pengembangan teknologi, sumber daya manusia, dan integrasi layanan satelit di dalam negeri.

Chusnul menegaskan bahwa kolaborasi dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kerja sama dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri. BRIN saat ini juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation (NEO-1) untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset akan diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar (SAR) serta satelit komunikasi. Telkomsat dinilai memiliki posisi strategis untuk mendukung hilirisasi teknologi dan penguatan infrastruktur satelit nasional.

Kolaborasi Satelit LEO

Chusnul menyampaikan bahwa Telkomsat berpotensi menjadi mitra penting dalam penguatan ekosistem satelit nasional. Peran itu mencakup hilirisasi teknologi, pengembangan infrastruktur, dan integrasi data satelit. Ia menilai kolaborasi semacam ini dapat mempercepat pemanfaatan riset agar lebih dekat dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, hasil penelitian tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi dapat masuk ke tahap penerapan yang lebih luas.

Kerja sama tersebut juga berpeluang membuka ruang transfer pengetahuan yang lebih terarah. Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu aspek yang dianggap mendesak untuk memperkuat kemandirian teknologi. BRIN memandang alih teknologi perlu dilakukan secara sistematis agar kapasitas nasional terus meningkat. Selain itu, keterlibatan mitra dalam dan luar negeri dapat memperluas jejaring riset serta mempercepat inovasi.

BRIN menilai peralihan teknologi Automatic Identification System (AIS) menuju VHF Data Exchange System (VDES) ikut membuka peluang baru. Pergeseran ini dinilai relevan untuk mendukung layanan komunikasi dan pemantauan yang lebih efisien. Di sisi lain, penguatan kolaborasi diharapkan mampu memperkokoh posisi Indonesia dalam pengembangan satelit modern. Langkah itu sejalan dengan upaya membangun ekosistem satelit yang lebih unggul dan andal.

Tantangan Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda PRTS BRIN, Satriya Utama, memaparkan sejumlah tantangan utama dalam operasional satelit LEO. Menurut dia, satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut membuat sistem operasi harus berjalan dinamis, responsif, dan terintegrasi. Karena itu, pengelolaan satelit tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang kaku.

Salah satu tantangan penting terletak pada komunikasi antara satelit dan stasiun bumi. Proses pertukaran data berlangsung dalam waktu terbatas, sehingga membutuhkan perencanaan yang presisi. Penjadwalan uplink dan downlink harus disusun secara cermat agar data dapat diterima dan dikirim tanpa hambatan berarti. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi faktor penentu kelancaran operasional.

Selain itu, operator satelit perlu memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Langkah ini penting agar potensi gangguan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Dalam pengoperasian satelit LEO, ketepatan respons menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan layanan.

Manajemen Misi Satelit

Satriya menjelaskan bahwa manajemen misi menjadi bagian inti dalam pengoperasian satelit modern. Proses ini mencakup perencanaan dan pengaturan aktivitas satelit dari awal hingga akhir. Tahapan tersebut dimulai dari penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi kepada pihak terkait. Dengan manajemen yang baik, manfaat satelit dapat dioptimalkan untuk berbagai kebutuhan.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek yang tidak kalah penting dalam menjaga kinerja satelit. Koreksi orbit berkala diperlukan agar posisi satelit tetap berada pada jalurnya. Proses ini dilakukan sekaligus untuk mengantisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Dalam konteks satelit LEO, pengendalian orbit yang presisi menjadi bagian dari keselamatan operasi.

Perencanaan misi yang matang membantu operator merespons perubahan kondisi dengan lebih cepat. Setiap aktivitas harus disusun berdasarkan karakteristik orbit yang singkat dan pergerakan satelit yang sangat cepat. Tanpa koordinasi yang baik, pengambilan data dan distribusi informasi bisa terganggu. Karena itu, manajemen misi menjadi fondasi penting bagi layanan satelit yang efisien dan berkelanjutan.

Kemandirian Satelit Nasional

BRIN menilai pengembangan perangkat lunak merupakan fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak tersebut mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Komponen ini menjadi penopang utama agar operasi satelit dapat berjalan stabil dan terukur. Tanpa perangkat lunak yang kuat, pengendalian satelit akan bergantung pada solusi dari luar negeri.

Kemandirian teknologi menjadi salah satu tujuan besar dari penguatan riset satelit nasional. BRIN ingin memastikan Indonesia memiliki kemampuan sendiri dalam mengelola sistem satelit secara menyeluruh. Upaya ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada teknologi impor. Dalam jangka panjang, kapasitas tersebut dapat memperkuat daya saing industri antariksa nasional.

Kolaborasi dengan Telkomsat dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat tujuan tersebut. Sinergi antara lembaga riset dan pelaku industri diyakini mampu menghasilkan ekosistem satelit yang lebih solid. BRIN berharap kerja sama ini tidak hanya memperkuat operasional satelit LEO, tetapi juga memperluas pemanfaatan teknologi untuk kepentingan nasional. Dengan fondasi riset yang kuat, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun kemandirian satelit secara berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!