BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi Moh. Royhan Nahado 24 Mei 2026 23:27 WIB 5
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan ini berlangsung saat kunjungan kerja Telkomsat ke Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, dan berfokus pada pengembangan ekosistem satelit nasional yang lebih unggul serta andal.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan bahwa kerja sama berpotensi mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Ia juga menyoroti arah riset BRIN yang kini mencakup satelit optik, satelit radar, dan satelit komunikasi sebagai fondasi penguatan teknologi antariksa nasional.

Kolaborasi Satelit Nasional

BRIN melihat Telkomsat sebagai calon mitra strategis dalam memperkuat hilirisasi teknologi satelit. Kemitraan ini dinilai dapat mendukung penguatan infrastruktur dan integrasi data satelit nasional.

Chusnul Tri Judianto menegaskan bahwa peluang kerja sama tidak hanya terbatas pada aspek teknis. Kolaborasi juga dapat membuka ruang pengembangan kapasitas SDM yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri antariksa.

Menurut BRIN, penguatan ekosistem satelit nasional memerlukan sinergi antara lembaga riset, industri, dan pemangku kepentingan lain. Dengan dukungan tersebut, hasil riset diharapkan lebih cepat masuk ke tahap pemanfaatan.

BRIN menilai kerja sama semacam ini penting untuk mendorong kemandirian teknologi. Di saat yang sama, kolaborasi juga dapat mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri.

Tantangan Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki karakter operasional yang berbeda dari satelit pada orbit lebih tinggi. Satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut membuat sistem operasi satelit harus berjalan dinamis dan responsif. Seluruh proses juga perlu terhubung secara terintegrasi agar misi dapat berlangsung efektif.

Satriya menekankan bahwa tantangan terbesar terletak pada kemampuan operator dalam mengelola jadwal yang padat dan waktu komunikasi yang terbatas. Karena itu, presisi menjadi kebutuhan utama dalam setiap tahap operasi.

Selain itu, pengendalian orbit harus dilakukan secara berkala untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Proses ini juga penting untuk mengantisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Manajemen Misi Satelit

Manajemen misi menjadi unsur penting dalam operasional satelit LEO. Proses ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal.

Dalam praktiknya, manajemen misi harus didukung oleh koordinasi yang rapi antara sistem di orbit dan stasiun bumi. Tanpa pengaturan yang baik, data yang dihasilkan satelit berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal.

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi juga menghadapi keterbatasan waktu yang ketat. Oleh karena itu, penjadwalan uplink dan downlink harus disusun dengan cermat.

Satriya menjelaskan bahwa dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai sangat menentukan kelancaran operasi. Infrastruktur ini menjadi penghubung utama antara satelit dan kebutuhan pengguna data di darat.

Hilirisasi Teknologi Satelit

BRIN juga menyoroti pentingnya pengembangan perangkat lunak sebagai fondasi sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak dibutuhkan untuk perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah.

Penguatan perangkat lunak dinilai penting untuk menjaga kemandirian teknologi nasional. Langkah ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan domestik.

Di sisi riset, BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset juga diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi.

Selain itu, peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES turut dipandang membuka peluang kolaborasi baru. BRIN menilai perkembangan tersebut dapat memperkuat hilirisasi dan memperluas pemanfaatan teknologi satelit nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!