BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi Moh. Royhan Nahado 22 Mei 2026 05:24 WIB 6
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan ini dilakukan dalam kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul dan andal.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyebut kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Menurutnya, BRIN juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Riset ke depan akan diarahkan pada satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi.

Peluang kerja sama

Chusnul menilai Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi, penguatan infrastruktur, dan integrasi data satelit nasional. Sinergi ini dinilai penting agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Kerja sama tersebut juga diharapkan mempercepat pemanfaatan teknologi satelit untuk kebutuhan nasional.

Ia menambahkan, peluang kolaborasi terbuka lebar pada pengembangan kapasitas SDM, transfer pengetahuan, dan penguatan rantai inovasi. BRIN memandang kemitraan dengan industri sebagai langkah penting untuk mempercepat penerapan teknologi satelit. Dengan begitu, ekosistem antariksa nasional dapat tumbuh lebih kompetitif.

Selain itu, peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES juga disebut membuka ruang kerja sama baru. Perubahan teknologi ini membutuhkan dukungan riset, infrastruktur, dan integrasi sistem yang lebih matang. Telkomsat dinilai memiliki posisi yang relevan untuk ikut terlibat dalam proses tersebut.

Tantangan Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa operasional satelit LEO memiliki tantangan yang berbeda dari satelit di orbit yang lebih tinggi. Satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi itu membuat sistem operasional harus berjalan dinamis, responsif, dan terintegrasi.

Menurut Satriya, manajemen misi menjadi komponen penting dalam pengoperasian satelit LEO. Tahapan ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaat satelit optimal. Seluruh proses harus dirancang secara presisi agar misi dapat berjalan efektif.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek krusial untuk menjaga satelit tetap berada pada jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala serta antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Tanpa pengendalian yang baik, risiko gangguan operasional dapat meningkat.

Komunikasi dan Pemantauan

Satriya menyebut komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Karena itu, diperlukan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink, serta dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai. Sistem yang kuat akan menentukan kelancaran pertukaran data satelit.

Selain komunikasi, operator satelit juga harus memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Jika ada potensi gangguan, langkah penanganan dapat segera dilakukan.

Dalam konteks operasional modern, pemantauan yang cepat dan akurat menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan layanan satelit. Hal ini penting agar misi tidak terganggu dan kualitas data tetap terjaga. BRIN menilai aspek ini perlu diperkuat melalui kolaborasi dan pengembangan teknologi yang terintegrasi.

Perangkat Lunak Mandiri

Satriya menambahkan, pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak itu mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Tanpa dukungan perangkat lunak yang mumpuni, operasional satelit akan sulit berjalan efisien.

Menurutnya, penguatan kemampuan perangkat lunak juga penting untuk mendukung kemandirian teknologi nasional. Langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri. Dalam jangka panjang, kemampuan ini akan memperkuat posisi Indonesia di sektor antariksa.

BRIN melihat pengembangan satelit tidak hanya soal perangkat keras, tetapi juga kesiapan sistem, SDM, dan ekosistem pendukung. Karena itu, kolaborasi dengan Telkomsat dipandang sebagai peluang strategis untuk mempercepat hilirisasi teknologi. Sinergi tersebut diharapkan dapat melahirkan sistem satelit nasional yang lebih tangguh dan kompetitif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!