BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi Moh. Royhan Nahado 29 Mei 2026 06:30 WIB 5
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan itu berlangsung saat kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, dan menyoroti penguatan ekosistem satelit nasional yang lebih unggul serta andal.

Pelaksana Harian Kepala PRTS BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kolaborasi dengan mitra dalam dan luar negeri. BRIN juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1, serta menyiapkan riset lanjutan untuk satelit berbasis Synthetic Aperture Radar dan satelit komunikasi.

Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melihat Telkomsat sebagai mitra strategis untuk mendukung hilirisasi teknologi satelit di Indonesia. Sinergi ini dinilai penting untuk memperkuat infrastruktur sekaligus mengintegrasikan data satelit nasional agar lebih bermanfaat bagi berbagai sektor.

Chusnul menegaskan bahwa kerja sama yang dibangun tidak hanya berfokus pada riset, tetapi juga pada pemanfaatan hasil teknologi secara nyata. Menurut dia, kolaborasi dengan industri akan mempercepat penerapan inovasi dan memperluas dampak ekonomi dari pengembangan satelit.

Selain itu, BRIN membuka peluang kerja sama yang lebih luas melalui pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Skema ini diharapkan mencetak talenta yang mampu mengelola teknologi satelit secara mandiri dan berkelanjutan.

Peralihan dari sistem Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES juga dipandang sebagai ruang baru bagi kolaborasi. Perubahan teknologi tersebut dinilai dapat meningkatkan efisiensi pertukaran data dan mendukung layanan satelit yang lebih modern.

Tantangan Operasi Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda PRTS BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki karakter operasional yang menuntut ketepatan tinggi. Satelit ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut membuat sistem operasi satelit harus berjalan dinamis, responsif, dan terintegrasi. Setiap aktivitas perlu dirancang dengan cermat agar misi dapat dijalankan tanpa mengganggu stabilitas perangkat di orbit.

Manajemen misi menjadi salah satu fondasi utama dalam pengoperasian satelit LEO. Proses ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaat satelit dapat optimal.

Satriya menambahkan bahwa pengendalian orbit juga menjadi aspek penting untuk menjaga satelit tetap berada pada jalurnya. Koreksi orbit dilakukan secara berkala, sekaligus untuk mengantisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Komunikasi dan Kendali

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena waktu kontak berlangsung terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan perencanaan yang presisi agar proses pengiriman dan penerimaan data berjalan efektif.

Penjadwalan uplink dan downlink menjadi bagian penting dalam memastikan aliran data tetap lancar. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga diperlukan untuk menjaga kualitas layanan satelit.

Selain komunikasi, operator satelit wajib memantau kesehatan satelit secara real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama.

Dengan pemantauan yang ketat, potensi gangguan dapat terdeteksi lebih dini dan segera ditangani. Pendekatan ini penting untuk menjaga keberlangsungan misi satelit di orbit yang memiliki risiko operasional tinggi.

Perangkat Lunak Satelit

Satriya menegaskan bahwa pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Tanpa perangkat lunak yang andal, pengoperasian satelit akan sulit berjalan stabil dan terukur.

Perangkat lunak mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Seluruh komponen tersebut dibutuhkan agar operator dapat mengelola satelit dengan cepat, akurat, dan aman.

BRIN menilai penguasaan perangkat lunak juga penting untuk mendorong kemandirian teknologi nasional. Dengan kemampuan itu, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri.

Kolaborasi dengan Telkomsat diharapkan menjadi pintu untuk memperkuat kemampuan industri dan riset satelit dalam negeri. Jika sinergi berjalan konsisten, ekosistem satelit nasional berpeluang tumbuh lebih maju dan kompetitif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!