BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi BRH 22 Mei 2026 03:41 WIB 9
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan itu berlangsung saat kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing. Inisiatif ini juga membuka peluang penguatan hilirisasi teknologi satelit di Indonesia.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan bahwa kolaborasi dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kerja sama dengan pihak dalam dan luar negeri. Menurut dia, Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam memperkuat infrastruktur dan integrasi data satelit nasional. BRIN saat ini juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset akan diarahkan pada satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi.

Penguatan Ekosistem Satelit

Chusnul menilai kolaborasi dengan Telkomsat memiliki ruang besar untuk mempercepat pengembangan teknologi satelit nasional. Kerja sama itu dinilai relevan karena kebutuhan layanan satelit terus berkembang, terutama untuk komunikasi dan pengamatan bumi. BRIN ingin memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat masuk ke tahap pemanfaatan yang lebih luas. Dengan begitu, teknologi yang dikembangkan dapat memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri.

Ia menjelaskan bahwa hilirisasi teknologi menjadi salah satu fokus utama dalam pembahasan kerja sama tersebut. Selain memperkuat infrastruktur, kolaborasi juga diharapkan mendukung integrasi data satelit nasional agar lebih efisien. BRIN melihat adanya peluang besar untuk membangun rantai pasok teknologi yang lebih mandiri. Upaya itu sekaligus menjadi langkah untuk mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri.

Dalam kesempatan yang sama, BRIN juga menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Kebutuhan talenta di bidang satelit dinilai semakin mendesak seiring meningkatnya kompleksitas operasional sistem ruang angkasa. Program pelatihan, transfer pengetahuan, dan riset bersama dianggap dapat memperkuat kesiapan ekosistem nasional. Kolaborasi semacam ini diharapkan melahirkan kompetensi yang lebih merata di sektor antariksa.

Selain pengembangan SDM, BRIN membuka peluang kerja sama riset dengan mitra internasional melalui jejaring yang lebih luas. Pendekatan tersebut dianggap penting agar Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi satelit yang bergerak cepat. Telkomsat dipandang memiliki posisi strategis untuk mendukung penyelarasan kebutuhan industri dan hasil riset. Sinergi ini diharapkan menjadi fondasi bagi ekosistem satelit nasional yang lebih kuat.

Tantangan Orbit Rendah

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, memaparkan bahwa operasional satelit LEO memiliki tantangan teknis yang tidak sederhana. Satelit pada orbit rendah bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut menuntut sistem operasi yang dinamis, responsif, dan terintegrasi dengan baik. Tanpa perencanaan yang tepat, pemanfaatan data dari satelit dapat menjadi kurang optimal.

Menurut Satriya, manajemen misi menjadi unsur penting dalam menjaga efektivitas operasional satelit. Tahap ini mencakup penentuan tujuan misi, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi kepada pengguna. Seluruh proses harus disusun secara presisi agar hasil observasi dapat dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, sistem pengendalian misi membutuhkan dukungan teknologi yang andal.

Pengendalian orbit juga disebut sebagai aspek krusial dalam menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Koreksi orbit dilakukan secara berkala untuk memastikan satelit tidak menyimpang dari lintasan yang direncanakan. Selain itu, operator harus mengantisipasi risiko tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Pengelolaan risiko ini menjadi bagian penting dari keamanan operasi satelit.

Di sisi lain, komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki batas waktu yang terbatas karena pergerakan satelit yang cepat. Hal itu membuat penjadwalan uplink dan downlink harus dilakukan secara presisi. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga dibutuhkan agar proses pengiriman data berjalan lancar. Jika koordinasi tidak tepat, data yang dikirim bisa tertunda atau tidak terserap maksimal.

Pemantauan Real Time

Satriya menegaskan bahwa operator satelit juga harus memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan tersebut mencakup daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Langkah ini diperlukan agar potensi gangguan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Dengan pengawasan yang baik, risiko kegagalan sistem dapat ditekan sejak dini.

Setiap subsistem satelit memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan misi. Jika salah satu komponen mengalami anomali, dampaknya dapat memengaruhi kinerja keseluruhan sistem. Karena itu, sistem pemantauan harus mampu memberikan informasi yang cepat dan akurat. Respons yang lambat dapat mengganggu kualitas layanan satelit kepada pengguna.

Dalam praktiknya, pengawasan real time memerlukan dukungan perangkat lunak yang stabil dan teruji. Perangkat lunak berfungsi untuk membaca data telemetri, menampilkan status sistem, dan memberi peringatan jika terjadi masalah. Ketersediaan sistem ini menjadi bagian dari kesiapan operasi satelit modern. Tanpa perangkat lunak yang memadai, pengambilan keputusan teknis bisa terhambat.

BRIN menilai pendekatan berbasis pemantauan langsung akan membantu menjaga keandalan satelit LEO dalam jangka panjang. Model ini membuat operator mampu merespons situasi darurat dengan lebih cepat. Selain itu, kualitas layanan data juga bisa dipertahankan agar tetap konsisten. Hal tersebut menjadi salah satu syarat penting dalam pengembangan ekosistem satelit yang profesional.

Perangkat Lunak Mandiri

Satriya menjelaskan bahwa pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak tersebut mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Seluruh komponen itu dibutuhkan agar operasi satelit dapat berjalan efisien dan terukur. Penguasaan pada sisi perangkat lunak juga memperkuat kemandirian teknologi nasional.

Menurut dia, ketergantungan pada solusi dari luar negeri perlu dikurangi melalui pengembangan kemampuan internal. Indonesia dinilai harus memiliki sistem yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan misi nasional. Dengan perangkat lunak buatan sendiri, pengembangan satelit akan lebih fleksibel dan berkelanjutan. Hal ini juga dapat mempercepat proses inovasi di sektor antariksa.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi ruang angkasa, perangkat lunak tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan inti dari sistem operasi. Kecepatan pemrosesan data dan akurasi perintah sangat bergantung pada desain perangkat lunak yang digunakan. Karena itu, riset di bidang ini menjadi semakin strategis untuk masa depan satelit Indonesia. BRIN melihat aspek tersebut sebagai bagian dari investasi jangka panjang.

Kolaborasi BRIN dan Telkomsat diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan riset dengan kebutuhan industri secara lebih konkret. Sinergi itu dinilai penting untuk memperkuat hilirisasi, memperluas manfaat teknologi, dan mendorong kemandirian nasional. Dengan kerja sama yang terarah, pengembangan satelit LEO dapat menjadi pijakan menuju ekosistem antariksa yang lebih maju. BRIN pun menargetkan hasil riset dapat memberi dampak nyata bagi layanan satelit Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!