PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli mencatat pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 67 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Capaian itu mengangkat pendapatan neto perseroan dari Rp4,694 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp7,835 triliun hingga Maret 2026.
Lonjakan kinerja tersebut ditopang oleh seluruh segmen usaha, terutama segmen institusi dan toko fisik, yang bergerak lebih kuat sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Manajemen Blibli juga menyebut penjualan smartphone yang lebih tinggi ikut memberi kontribusi penting terhadap hasil tersebut.
Kinerja Blibli Melesat
Kusumo Martanto mengatakan perseroan mengawali 2026 dengan momentum yang solid. Menurut dia, hasil kuartal pertama mencerminkan kelanjutan eksekusi strategi yang disiplin. Strategi itu mendorong pertumbuhan pendapatan dua digit yang kuat. Perusahaan juga mencatat perbaikan marjin secara keseluruhan.
CEO & Co-Founder Blibli tersebut menambahkan bahwa profitabilitas perusahaan meningkat signifikan. Pencapaian ini, kata dia, menunjukkan fokus perseroan pada eksekusi yang berkelanjutan. Blibli berupaya menjaga kinerja yang seimbang di seluruh lini bisnis. Dengan demikian, pertumbuhan tidak hanya terjadi pada sisi penjualan, tetapi juga kualitas laba.
Dalam laporan kinerja yang dikutip pada Kamis, 28 Mei 2026, manajemen menilai hasil tersebut berada di jalur yang tepat. Perusahaan melihat tren positif dari kuartal sebelumnya terus berlanjut. Kondisi itu memberi ruang bagi Blibli untuk memperkuat posisi di pasar. Selain itu, sinyal pemulihan konsumsi turut mendukung pencapaian tersebut.
Take Rate Meningkat
Selain pendapatan, rasio take rate konsolidasian Blibli juga membaik pada kuartal I 2026. Take rate naik dari 9,0 persen menjadi 9,9 persen secara tahunan. Perbaikan itu menunjukkan peningkatan kualitas monetisasi transaksi. Artinya, pendapatan perseroan tumbuh lebih cepat dibanding nilai transaksi yang dikelola.
Kenaikan take rate terutama didorong oleh segmen ritel 1P dan institusi. Kontributor utama lainnya adalah pertumbuhan gross profit before discount atau GPBD sebesar 21 persen secara tahunan. Peningkatan GPBD menegaskan penguatan margin pada bisnis inti. Dengan basis yang lebih sehat, perseroan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga pertumbuhan.
Blibli menilai perbaikan tersebut tidak lepas dari fokus pada produk dengan marjin lebih tinggi. Pendekatan itu dijalankan secara lebih selektif pada kategori utama. Perusahaan juga memperkuat kurasi penawaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Strategi ini diharapkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.
Efisiensi dan Ekosistem
Dari sisi efisiensi, Blibli berhasil menekan beban operasional konsolidasian terhadap total nilai transaksi. Rasio itu turun dari 7,3 persen menjadi 6,4 persen secara tahunan. Penurunan ini menunjukkan struktur biaya yang lebih ramping. Dengan biaya yang lebih terkendali, margin EBITDA ikut terdorong.
Persentase EBITDA konsolidasian terhadap TPV tercatat meningkat 200 basis poin secara tahunan. Peningkatan tersebut mengindikasikan perbaikan daya ungkit operasional perusahaan. Blibli menilai disiplin biaya menjadi salah satu penopang utama kinerja. Langkah ini juga membantu perusahaan menjaga ruang investasi di tengah persaingan yang ketat.
Di sisi ekosistem digital, Blibli terus memperdalam integrasi lintas platform. Fitur Blibli Affiliate kini diperluas ke tiket.com. Integrasi ini diharapkan meningkatkan sinergi antar platform. Dalam jangka menengah, langkah tersebut dapat memperbesar basis pengguna yang bertransaksi.
Ekspansi Toko Fisik
Selain memperkuat kanal digital, Blibli juga agresif menambah jaringan toko fisik. Sepanjang kuartal I 2026, perseroan menambah 35 toko baru. Ekspansi ini mencerminkan strategi omnichannel yang terus dijalankan. Blibli ingin menjangkau konsumen melalui kombinasi pengalaman daring dan luring.
Hingga akhir Maret 2026, Blibli mengoperasikan 295 toko elektronik konsumen. Perseroan juga memiliki 9 toko elektronik rumah tangga, serta 1 toko fesyen dan olahraga. Di luar itu, Blibli mengelola 58 gerai supermarket premium. Perusahaan juga menjalankan 37 home and living experience centers.
Manajemen menilai strategi omnichannel terus bertumbuh di berbagai kategori. Usaha institusi dan toko fisik disebut berkembang dengan kualitas dan skala yang lebih baik. Kinerja perdagangan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan perseroan. Dengan kombinasi itu, Blibli berharap mempertahankan momentum positif pada kuartal berikutnya.
