Bisnis Laundry Indonesia Tumbuh Strategis, Adopsi Naik

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 18:09 WIB 5
Bisnis Laundry Indonesia Tumbuh Strategis, Adopsi Naik

Sektor bisnis laundry atau penatu di Indonesia dinilai tengah memasuki fase pertumbuhan yang strategis. Penilaian itu disampaikan CEO Apique Group, Apik Primadya, dalam paparan pada Laundry Innovation Day 2025 di Jakarta. Ajang tersebut menjadi sorotan karena membahas arah industri penatu hingga 2026. Momentum ini disebut kian kuat seiring meningkatnya minat terhadap model usaha yang efisien dan mudah diadaptasi.

Apik menjelaskan, pasar penatu di Asia Tenggara tumbuh pesat dengan compound annual growth rate atau CAGR sebesar 9,1 persen untuk periode 2025-2030. Sementara itu, model laundromat atau self-service telah mencapai 18.000 outlet di Asia Pasifik pada 2024, naik 60 persen dalam empat tahun terakhir. Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan adopsi laundromat tertinggi di kawasan. Kondisi ini membuat bisnis laundry dinilai memiliki ruang ekspansi yang masih luas.

Pasar Laundry Makin Prospektif

Apik menilai tren pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa laundry bukan lagi usaha pelengkap, melainkan sektor yang memiliki prospek bisnis jangka panjang. Kenaikan permintaan datang dari perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan yang semakin mengutamakan kepraktisan. Selain itu, kebutuhan layanan cepat dan konsisten turut mendorong munculnya berbagai model usaha baru. Karena itu, pelaku usaha diminta membaca peluang dengan lebih cermat.

Ia menyebut Indonesia kini bersaing dengan Thailand dan Singapura dalam adopsi laundromat. Persaingan itu menunjukkan bahwa pasar domestik tidak tertinggal dalam mengembangkan format layanan modern. Dalam konteks regional, Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan kelas menengah. Faktor tersebut menjadi modal penting bagi industri laundry untuk terus berkembang.

Menurut Apik, pertumbuhan bisnis laundry juga ditopang oleh semakin terbukanya akses teknologi operasional. Penggunaan sistem pembayaran digital, pencatatan transaksi, dan pengelolaan pelanggan membuat usaha lebih mudah dijalankan. Di sisi lain, konsumen juga semakin terbiasa dengan layanan yang cepat, transparan, dan praktis. Perubahan ini memperkuat daya tarik sektor penatu di tengah kompetisi usaha jasa.

Apik menambahkan, momentum pertumbuhan tersebut perlu dimanfaatkan dengan strategi yang tepat. Pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan lokasi, tetapi juga harus membangun pengalaman layanan yang unggul. Inovasi layanan, efisiensi biaya, dan kualitas hasil menjadi faktor pembeda yang semakin penting. Dengan pendekatan itu, bisnis laundry diyakini dapat bertahan dan tumbuh lebih stabil.

Strategi Hijau Jadi Arah Baru

Dalam pemaparannya, Apik juga menyoroti pendekatan green ocean strategy yang sedang ia jalankan. Strategi ini menggabungkan inovasi bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pendekatan tersebut dinilai relevan karena industri laundry identik dengan penggunaan air, listrik, dan bahan kimia. Oleh sebab itu, efisiensi sumber daya menjadi salah satu perhatian utama.

Ia menjelaskan bahwa strategi tersebut menekankan kolaborasi, digitalisasi, dan efisiensi energi. Kolaborasi dibutuhkan agar pelaku usaha dapat memperkuat rantai layanan dari hulu ke hilir. Digitalisasi membantu operasional menjadi lebih terukur, sementara efisiensi energi menekan biaya sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Ketiga unsur itu disebut saling melengkapi dalam membangun usaha berkelanjutan.

Menurut dia, bisnis laundry masa depan tidak cukup hanya kompetitif dari sisi harga. Konsumen kini juga mulai memperhatikan praktik usaha yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Karena itu, model bisnis yang mengedepankan keberlanjutan dinilai akan lebih mudah diterima pasar. Perusahaan yang mampu menggabungkan keduanya berpeluang memiliki keunggulan lebih kuat.

Apik menegaskan, keberlanjutan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan dalam menjaga daya saing jangka panjang. Pengelolaan yang hemat energi dan efisien dapat membantu pelaku usaha menjaga margin di tengah biaya operasional yang terus berubah. Di saat yang sama, citra usaha juga dapat meningkat karena dinilai lebih modern dan bertanggung jawab. Hal itu menjadi alasan mengapa strategi hijau mulai mendapat perhatian lebih besar.

Forum Laundry Lebih Interaktif

Ajang Laundry Innovation Day with Expo Laundry 2025 digelar pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Penyelenggaraan tahun ini disebut berbeda karena dikemas lebih interaktif dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Format tersebut dibuat agar peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga pengalaman langsung dari pelaku industri. Konsep ini juga dinilai mampu memperkuat jejaring antarpelaku usaha.

Perubahan format itu membuat penyelenggara membatasi jumlah tiket yang dijual. Total hanya 300 tiket disediakan untuk peserta acara. Seluruh tiket tersebut ludes terjual dalam waktu satu bulan sebelum pelaksanaan. Tingginya minat itu menunjukkan besarnya perhatian pasar terhadap perkembangan industri laundry.

Dalam forum tersebut, berbagai pelaku usaha dan pengamat industri membahas arah bisnis penatu menuju 2026. Topik yang dibicarakan mencakup inovasi layanan, efisiensi operasional, dan peluang ekspansi pasar. Acara ini juga menjadi ruang bertukar pengalaman bagi para pemilik usaha yang ingin meningkatkan kualitas bisnisnya. Dengan demikian, forum tersebut memiliki nilai praktis bagi peserta.

Apik berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong lebih banyak pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan pasar. Ia menilai industri laundry perlu bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen. Dengan strategi yang tepat, sektor ini berpeluang menjadi salah satu bisnis jasa yang semakin menjanjikan. Momentum pertumbuhan yang ada disebut harus dimanfaatkan secara serius oleh para pelaku usaha.

Prospek Laundry Hingga 2026

Dengan pertumbuhan pasar regional yang kuat, prospek bisnis laundry hingga 2026 dinilai masih positif. Indonesia disebut memiliki posisi penting karena adopsi laundromat yang terus meningkat. Dukungan perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan kebutuhan layanan praktis memperkuat peluang sektor ini. Kondisi tersebut membuat industri penatu dipandang semakin relevan dalam peta ekonomi jasa.

Pelaku usaha yang ingin masuk ke sektor ini dinilai perlu memahami pola konsumsi masyarakat. Selain itu, pemilihan lokasi, model layanan, dan efisiensi biaya menjadi faktor penentu keberhasilan usaha. Tanpa strategi yang matang, peluang pertumbuhan bisa sulit dimaksimalkan. Karena itu, pengelolaan bisnis harus dilakukan dengan pendekatan yang terukur.

Transformasi digital juga dipandang sebagai syarat penting bagi bisnis laundry modern. Sistem operasional berbasis teknologi dapat membantu pemilik usaha memantau transaksi, stok, hingga kualitas layanan. Di sisi lain, digitalisasi memberi kemudahan bagi konsumen dalam memesan dan melacak layanan. Kombinasi ini menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi kedua belah pihak.

Apik menutup paparannya dengan optimisme bahwa industri laundry masih memiliki ruang tumbuh yang luas. Ia menilai arah pasar, inovasi, dan kesadaran lingkungan akan menjadi penentu masa depan sektor ini. Jika dikelola dengan tepat, bisnis laundry dapat berkembang menjadi usaha yang bukan hanya menguntungkan, tetapi juga berkelanjutan. Pandangan tersebut mempertegas bahwa penatu kini berada dalam fase transformasi penting.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!