Bisnis Laundry di Indonesia Masuki Fase Pertumbuhan Strategis

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 12:14 WIB 2
Bisnis Laundry di Indonesia Masuki Fase Pertumbuhan Strategis

Sektor bisnis laundry atau penatu di Indonesia dinilai tengah memasuki fase pertumbuhan yang strategis. Pandangan itu disampaikan CEO Apique Group, Apik Primadya, dalam Laundry Innovation Day 2025 yang digelar di tengah meningkatnya minat pasar terhadap layanan penatu modern. Acara tersebut mengangkat tema Laundry Business Outlook 2026 sebagai sorotan utama arah industri ke depan.

Apik menjelaskan, pasar penatu di Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan pesat dengan compound annual growth rate atau CAGR 9,1 persen untuk periode 2025-2030. Di kawasan Asia Pasifik, model laundromat self-service telah mencapai 18.000 outlet pada 2024, naik 60 persen dalam empat tahun terakhir. Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan adopsi laundromat tertinggi, bersaing dengan Thailand dan Singapura.

Prospek Laundry Makin Menguat

Menurut Apik, tren tersebut menunjukkan bahwa bisnis laundry tidak lagi sekadar layanan pelengkap kebutuhan rumah tangga. Industri ini kini berkembang menjadi sektor yang memiliki struktur pasar lebih jelas dan peluang ekspansi yang luas. Kondisi itu mendorong pelaku usaha untuk membaca perubahan perilaku konsumen secara lebih serius.

Ia menilai pertumbuhan pasar penatu di Asia Tenggara menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha di Indonesia. Permintaan terhadap layanan yang cepat, praktis, dan efisien terus meningkat seiring mobilitas masyarakat perkotaan. Dalam konteks itu, laundromat menjadi salah satu model bisnis yang semakin relevan.

Apik juga menyoroti bahwa adopsi konsep self-service membuka peluang efisiensi operasional yang lebih baik. Model ini memungkinkan pelaku usaha mengelola biaya dengan lebih terukur sekaligus memperluas jangkauan layanan. Dengan begitu, daya saing bisnis dapat meningkat tanpa mengorbankan kualitas.

Momentum pertumbuhan tersebut, kata dia, perlu direspons dengan strategi yang tepat. Pelaku usaha dituntut tidak hanya mengejar volume pelanggan, tetapi juga membangun model bisnis yang tahan terhadap perubahan pasar. Karena itu, inovasi menjadi faktor kunci untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Laundromat Kian Diminati

Model laundromat kini menunjukkan perkembangan yang signifikan di berbagai negara Asia Pasifik. Lonjakan jumlah outlet dalam empat tahun terakhir memperlihatkan bahwa konsumen mulai menerima konsep layanan mandiri sebagai bagian dari gaya hidup modern. Indonesia pun ikut berada dalam arus perubahan tersebut.

Apik menyebut Indonesia sebagai salah satu pasar paling potensial untuk layanan laundromat. Persaingan dengan Thailand dan Singapura menunjukkan bahwa pasar domestik memiliki daya tarik yang kuat bagi investor maupun pelaku usaha. Situasi ini mempertegas posisi Indonesia dalam peta bisnis penatu regional.

Perubahan preferensi konsumen menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Masyarakat urban cenderung memilih layanan yang hemat waktu dan mudah diakses. Kondisi ini membuat laundromat dipandang sebagai solusi yang sesuai dengan kebutuhan harian.

Di sisi lain, pertumbuhan tersebut juga menuntut kesiapan infrastruktur bisnis yang lebih baik. Pelaku usaha perlu memperhatikan lokasi, teknologi mesin, dan pengalaman pelanggan agar dapat bersaing. Tanpa kesiapan itu, potensi pasar yang besar berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.

Strategi Hijau Bisnis Laundry

Dalam paparannya, Apik menegaskan fokus bisnis yang ia jalankan melalui pendekatan green ocean strategy. Strategi ini menggabungkan inovasi usaha dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Tujuannya adalah menciptakan bisnis yang kompetitif sekaligus berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa strategi tersebut menitikberatkan pada kolaborasi, digitalisasi, dan efisiensi energi. Ketiga unsur itu dinilai penting untuk menekan biaya operasional sekaligus memperkuat nilai tambah layanan. Dengan pendekatan itu, bisnis laundry dapat tumbuh tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan.

Penggunaan energi yang lebih efisien juga menjadi perhatian utama dalam industri ini. Mesin yang hemat daya dan sistem operasional yang tertata dapat membantu pelaku usaha menjaga margin keuntungan. Pada saat yang sama, langkah tersebut mendukung praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, digitalisasi dinilai mampu meningkatkan kualitas interaksi dengan pelanggan. Sistem pemesanan, pembayaran, dan pemantauan layanan yang terintegrasi akan membuat proses lebih cepat dan transparan. Hal ini sekaligus memperkuat pengalaman konsumen dalam menggunakan layanan laundry.

Expo Laundry Lebih Interaktif

Acara Laundry Innovation Day with Expo Laundry 2025 diselenggarakan pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Berbeda dari tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini dibuat lebih interaktif agar peserta dapat terlibat lebih aktif. Format tersebut disusun untuk memperkuat pertukaran ide antar pelaku industri.

Konsep yang lebih interaktif itu juga membuat minat peserta meningkat tajam. Panitia hanya membuka penjualan 300 tiket, dan seluruhnya ludes satu bulan sebelum acara dimulai. Antusiasme tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap perkembangan bisnis laundry di Indonesia.

Melalui forum ini, pelaku industri mendapatkan ruang untuk membahas arah bisnis laundry pada 2026. Topik yang dibahas tidak hanya soal ekspansi usaha, tetapi juga inovasi layanan dan keberlanjutan operasional. Dengan demikian, acara ini menjadi ajang penting untuk membaca tren pasar yang sedang bergerak.

Apik menutup paparannya dengan menegaskan bahwa masa depan bisnis laundry akan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi. Pelaku usaha yang mampu memadukan efisiensi, inovasi, dan kepedulian lingkungan berpeluang lebih besar untuk bertahan. Dalam situasi pasar yang kompetitif, strategi semacam itu menjadi pembeda utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!