Billy Syahputra Cerita Perjalanan Haru di Belarus

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 16:15 WIB 4
Billy Syahputra Cerita Perjalanan Haru di Belarus

Billy Syahputra baru saja kembali ke Indonesia setelah lebih dari sebulan berada di Belarus bersama istri dan anaknya. Perjalanan ke Eropa Timur itu dilakukan untuk mempertemukan Vika Kolesnaya dengan ibundanya, sekaligus memberi kesempatan sang anak bertemu neneknya. Momen tersebut berlangsung penuh haru, drama, dan tantangan kesehatan yang sempat membuat keluarga kecil itu panik.

Dalam keterangannya di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Billy menyebut perjalanan itu sebagai pengalaman yang campur aduk. Ia mengaku rela mengesampingkan pekerjaan dan mengeluarkan biaya besar demi membahagiakan keluarga. Baginya, kebahagiaan istri dan anak jauh lebih penting dibanding urusan lain.

Perjalanan Billy Syahputra ke Belarus

Billy menjelaskan bahwa keberangkatannya ke Belarus bukan sekadar liburan keluarga. Tujuan utamanya adalah mempertemukan Vika dengan ibunya setelah lama terpisah jarak. Ia juga ingin sang anak, yang akrab disapa Dede Bule, merasakan kedekatan dengan neneknya di kampung halaman sang istri.

Ia menilai momen itu sudah lama dinantikan oleh seluruh keluarga. Pertemuan tersebut menjadi obat rindu bagi Vika yang sempat mengalami baby blues setelah melahirkan. Kehadiran orang tua di Belarus disebut membantu menguatkan kondisi emosional sang istri.

Billy menuturkan suasana pertemuan berjalan sangat emosional. Ada rasa bahagia, sedih, dan haru yang bercampur dalam satu momen. Menurutnya, drama yang terjadi justru membuat perjalanan itu semakin berkesan.

Ia mengungkapkan, keputusan membawa keluarga ke Belarus merupakan bentuk tanggung jawab sebagai suami. Vika disebut telah meninggalkan negara asalnya untuk hidup bersamanya di Indonesia. Karena itu, Billy merasa sudah seharusnya ia memprioritaskan kebahagiaan keluarga.

Kondisi Kesehatan Selama Perjalanan

Perjalanan ke Belarus ternyata tidak berlangsung mulus. Billy mengaku keluarga kecilnya sempat jatuh sakit saat dalam perjalanan. Kondisi itu membuatnya harus ekstra siaga sepanjang trip.

Ia bahkan menyebut anaknya sempat mengalami demam tinggi hingga 39,6 derajat Celsius. Meski begitu, sang buah hati dinilai tetap tenang dan tidak rewel berlebihan. Billy mengaku kagum dengan ketegaran anaknya di tengah kondisi yang tidak fit.

Selain anaknya, ia dan Vika juga sempat bergantian sakit. Billy sakit selama empat hari, anaknya tiga hari, sementara Vika dua hari. Situasi tersebut membuat perjalanan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi pengalaman penuh tantangan.

Meski demikian, Billy menilai semua kesulitan itu sepadan dengan hasil yang didapat. Ia merasa perjalanan tersebut tetap membawa kebahagiaan bagi keluarganya. Baginya, momen bersama jauh lebih penting daripada kenyamanan semata.

Air Mata Perpisahan di Belarus

Momen paling menyentuh terjadi saat keluarga kecil itu harus kembali ke Indonesia. Sang nenek disebut tak kuasa menahan tangis ketika harus berpisah lagi dengan anak dan cucunya. Suasana perpisahan itu meninggalkan kesan mendalam bagi Billy.

Ia menilai reaksi tersebut sangat manusiawi karena jarak antarnegara membuat pertemuan terasa begitu berharga. Setelah momen kebersamaan yang hangat, perpisahan menjadi terasa berat. Hal itu juga membuat keluarganya menyadari betapa mahalnya waktu bersama.

Billy mengaku, dirinya ikut merasakan kesedihan saat melihat keluarga Vika menangis. Ia memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar kunjungan biasa. Ada ikatan emosional yang kuat antara orang tua, anak, dan cucu.

Menurut Billy, momen itu menjadi pengingat bahwa keluarga adalah prioritas utama. Ia percaya kebahagiaan sederhana seperti bertemu orang tua dapat memberi dampak besar secara emosional. Karena itu, ia menilai perjalanan tersebut sangat berarti meski melelahkan.

Rencana Keluarga ke Belarus

Usai kembali ke Indonesia, Billy belum mengambil keputusan soal kewarganegaraan anaknya. Ia membiarkan sang buah hati memilih sendiri ketika sudah dewasa nanti. Pilihan itu nantinya akan mengarah pada Indonesia atau Belarus.

Billy juga menyampaikan rencana untuk kembali membawa keluarganya ke Belarus pada tahun depan. Rencana tersebut masih bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi keluarga. Namun, ia berharap kesempatan itu bisa kembali terwujud.

Baginya, perjalanan ke Belarus memberi pelajaran penting tentang arti tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ia menegaskan bahwa pekerjaan dan biaya bukanlah hal utama ketika menyangkut kebahagiaan orang terdekat. Prinsip itu menjadi pegangan dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Dengan pengalaman tersebut, Billy menutup perjalanannya dengan rasa syukur. Ia merasa lelah dan drama yang dialami terbayar oleh kebersamaan keluarga. Ia pun berharap hubungan keluarganya semakin erat meski hidup di dua negara berbeda.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!