Biak Dinilai Strategis untuk Bandar Antariksa Nasional

Teknologi BRH 23 Mei 2026 02:15 WIB 6
Biak Dinilai Strategis untuk Bandar Antariksa Nasional

Indonesia dinilai perlu segera membangun bandar antariksa nasional agar tidak terus bergantung pada teknologi luar negeri. Penguatan ekosistem ini mengemuka setelah pengoperasian satelit Nusantara Lima, di Jakarta, dengan sorotan utama pada posisi strategis Pulau Biak sebagai lokasi peluncuran satelit.

Adi menuturkan, selama lebih dari 50 tahun Indonesia berkecimpung di dunia satelit, kemampuan nasional masih terbatas pada pengoperasian satelit dan peluncuran sejumlah satelit riset. Karena itu, ia menekankan pentingnya akses mandiri ke luar angkasa, kolaborasi lintas sektor, dan pembangunan kemampuan berkelanjutan di bidang antariksa.

Ekosistem Antariksa Nasional

Adi menyebut satelit memiliki peran strategis sebagai penghubung digital bagi wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Menurut dia, konektivitas juga sangat penting bagi daerah terluar seperti Miangas dan Pulau Rote.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh berhenti menjadi pengguna teknologi. Negara ini, kata dia, harus naik kelas menjadi pemain dalam industri antariksa.

Untuk mencapai hal itu, Indonesia perlu membangun ekosistem industri antariksa yang utuh. Ekosistem tersebut mencakup riset, manufaktur, peluncuran, hingga layanan pendukung yang saling terhubung.

Biak Jadi Lokasi Strategis

Menurut Adi, garis khatulistiwa memberi Indonesia keunggulan geografis yang sangat bernilai untuk peluncuran satelit. Posisi itu dinilai ideal untuk orbit ekuatorial maupun geostasioner.

Pulau Biak disebut memiliki potensi besar sebagai lokasi bandar antariksa nasional. Lokasi tersebut bahkan dinilai mampu memberi efisiensi yang lebih baik dibandingkan beberapa pusat peluncuran dunia.

Adi menyebut Biak dapat menghemat bahan bakar hingga 15 persen dan menambah kapasitas muatan sampai 25 persen dibandingkan Cape Canaveral. Keunggulan ini membuat Indonesia berpeluang menjadi lokasi strategis bagi satelit geostasioner di kawasan ekuator.

Kolaborasi Menuju Kemandirian

Adi menilai akses menuju luar angkasa tidak mungkin dibangun oleh sektor swasta sendirian. Dibutuhkan kerja sama nasional yang melibatkan pemerintah, lembaga riset, industri, dan mitra internasional.

PSN disebut mendukung rencana pembangunan spaceport nasional yang tengah disiapkan pemerintah bersama BRIN. Sejumlah negara mitra, seperti Rusia, India, dan Turki, juga masuk dalam skema kolaborasi.

Selain infrastruktur peluncuran, Indonesia juga perlu membangun sovereign capability di sektor antariksa. Hal ini mencakup kebijakan yang kuat, dukungan politik, serta pengembangan talenta muda.

Regulasi dan Visi Dua Ribu Empat Lima

Kepala BRIN Arif Satria mengakui tantangan terbesar Indonesia adalah belum terbentuknya ekosistem industri satelit nasional yang kuat. Minimnya investasi swasta dan kolaborasi industri membuat manufaktur satelit dalam negeri belum berkembang utuh.

Meski begitu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah landasan kebijakan penting. Aturan itu mencakup Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Akuisisi Teknologi Antariksa, rancangan pengelolaan spaceport, dan KBLI 2025.

Arif menilai seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari visi Indonesia 2045 untuk membangun ekonomi antariksa nasional. Visi itu ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi, meningkatkan kemakmuran, dan memperkuat kedaulatan teknologi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!