BI Yakin Rupiah Stabil Usai Kenaikan BI Rate

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 04:44 WIB 7
BI Yakin Rupiah Stabil Usai Kenaikan BI Rate

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah kenaikan BI Rate. Proyeksi penguatan itu diperkirakan mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026, seiring respons kebijakan moneter yang lebih ketat. BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam keputusan terbarunya. Langkah tersebut diambil di tengah tekanan global dan kebutuhan valas domestik yang masih tinggi.

Perry menyampaikan pandangan itu dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026. Ia menilai tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dari sentimen global yang masih berat. Kondisi tersebut mencakup tarif perdagangan, konflik geopolitik di Timur Tengah, harga minyak dunia yang tinggi, serta arah suku bunga Amerika Serikat yang ketat. Meski begitu, BI menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah.

Rupiah dan BI Rate

Perry menjelaskan bahwa keputusan menaikkan BI Rate dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6%. Menurutnya, kebijakan ini penting untuk merespons tekanan pasar yang masih berlangsung. BI berharap kenaikan suku bunga dapat menjaga daya tarik aset rupiah di tengah volatilitas global.

Ia menegaskan rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Tekanan tersebut muncul karena penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, dan sikap moneter global yang cenderung ketat. Situasi itu membuat hampir seluruh mata uang dunia ikut tertekan. Dalam kondisi seperti ini, rupiah menjadi salah satu yang ikut terdampak.

BI juga melihat pola historis rupiah yang kerap tertekan pada April, Mei, dan Juni. Setelah periode tersebut, rupiah biasanya mulai stabil dan cenderung menguat pada Juli dan Agustus. Karena itu, Perry optimistis tren serupa dapat kembali terjadi tahun ini. Keyakinan itu menjadi dasar proyeksi BI bahwa rupiah akan membaik dalam beberapa bulan ke depan.

Tekanan Global Masih Berat

Menurut Perry, pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari kombinasi tekanan eksternal yang kuat. Kenaikan harga minyak dunia turut menambah beban inflasi dan memperburuk sentimen pasar. Di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi global melambat dan inflasi di berbagai negara masih tinggi. Kondisi itu mendorong investor memilih aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter ketat di banyak negara juga ikut menekan mata uang emerging market. Fed Fund Rate yang tinggi membuat arus modal cenderung kembali ke Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang meningkat menambah daya tarik dolar. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah terjadi hampir serentak di banyak negara berkembang.

BI menilai dinamika tersebut bersifat sementara, meski dampaknya terasa di pasar valas. Karena itu, bank sentral terus memantau pergerakan global dan menyesuaikan kebijakan bila diperlukan. Perry menyebut stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus utama. Ia menegaskan bahwa koordinasi kebijakan akan terus diperkuat untuk menjaga ketahanan rupiah.

Permintaan Valas Domestik

Dari sisi domestik, rupiah juga melemah karena permintaan valuta asing yang musiman pada April hingga Juni. Kebutuhan itu terutama datang dari ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan. Pada periode tersebut, kebutuhan valas biasanya meningkat cukup tajam. Situasi ini menambah tekanan pada pasar rupiah.

Perry menilai arus keluar modal asing juga terjadi bersamaan dengan tingginya permintaan valas domestik. Kombinasi keduanya membuat tekanan pada rupiah menjadi lebih kuat. Namun, BI melihat kondisi itu masih dalam batas yang dapat dikelola. Intervensi pasar menjadi salah satu instrumen untuk meredam gejolak yang berlebihan.

Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia tetap positif dan dapat menjadi penopang utama. Defisit transaksi berjalan berada pada level rendah, pertumbuhan ekonomi masih tinggi, dan inflasi tetap terkendali. Menurut BI, modal dasar tersebut membuat rupiah memiliki ruang untuk pulih. Dengan fondasi itu, pelemahan yang terjadi dipandang bukan sebagai masalah struktural.

Intervensi BI Diperkuat

Bank Indonesia juga melakukan intervensi pasar valas secara intensif untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, BI menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI agar lebih menarik bagi investor. Strategi ini dinilai berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar besar-besaran. Perry menegaskan langkah tersebut membantu meredam tekanan di pasar keuangan.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dan penguatan instrumen pasar uang dilakukan secara terukur. Tujuannya bukan hanya menjaga nilai tukar, tetapi juga mempertahankan kepercayaan pelaku pasar. BI ingin memastikan stabilitas keuangan tetap terjaga di tengah gejolak eksternal. Dengan kebijakan itu, aliran dana asing diharapkan kembali masuk ke pasar domestik.

Perry menutup dengan keyakinan bahwa rupiah akan stabil dan cenderung menguat dalam waktu mendatang. Menurutnya, pola historis, dukungan fundamental, dan kebijakan moneter yang responsif menjadi modal utama. Karena itu, BI optimistis tekanan yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara. Pemerintah dan bank sentral pun diperkirakan akan terus menjaga koordinasi kebijakan agar rupiah tetap terkendali.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!