BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat pada Juli-Agustus 2026

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 00:50 WIB 2
BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat pada Juli-Agustus 2026

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah BI menaikkan suku bunga acuan. Penguatan rupiah diperkirakan mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026, seiring respons kebijakan moneter dan meredanya tekanan musiman.

Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan itu diikuti oleh suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6%, sebagai langkah menjaga stabilitas pasar keuangan.

Rupiah dan Suku Bunga

Perry menjelaskan bahwa rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia perlu menjaga daya tarik aset keuangan domestik melalui kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Menurutnya, penyesuaian BI Rate akan membantu meredam tekanan pada nilai tukar. Kebijakan ini juga diharapkan memperkuat persepsi pasar terhadap komitmen BI menjaga stabilitas rupiah.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility menjadi bagian dari transmisi kebijakan moneter. Langkah ini ditujukan agar likuiditas tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas pasar valuta asing.

Bank Indonesia menilai kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi pasar dapat memberi sinyal kuat kepada pelaku pasar. Dengan begitu, rupiah diharapkan lebih siap menghadapi tekanan global yang masih berlangsung.

Tekanan Global pada Rupiah

Perry menyebut tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai sentimen global. Faktor itu mencakup kebijakan tarif global, konflik geopolitik di Timur Tengah, dan kenaikan harga minyak dunia.

Ia juga menyoroti arah suku bunga global yang masih ketat, terutama dari Amerika Serikat. Kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar AS turut menekan hampir seluruh mata uang dunia.

Dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026, Perry menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi rupiah. Tekanan serupa juga dialami banyak negara berkembang yang menghadapi arus modal keluar.

Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipicu faktor eksternal. Karena itu, arah kebijakan moneter dan stabilitas pasar global menjadi perhatian utama otoritas moneter.

Permintaan Valas Musiman

Dari sisi domestik, rupiah juga mendapat tekanan dari tingginya kebutuhan valuta asing pada periode April hingga Juni. Permintaan itu bersifat musiman dan biasanya meningkat menjelang aktivitas ekonomi dan keagamaan tertentu.

Perry menjelaskan bahwa kebutuhan valas tersebut didominasi oleh perjalanan ibadah haji dan umrah. Selain itu, pembayaran utang luar negeri serta pembagian dividen perusahaan juga menambah permintaan dolar di dalam negeri.

Kombinasi tekanan global dan kebutuhan valas domestik memicu capital outflow selama beberapa waktu. Namun, Bank Indonesia menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola melalui kebijakan yang terukur.

Menurut Perry, tekanan valas domestik biasanya mulai mereda setelah periode Juni. Pola historis itu menjadi salah satu dasar BI meyakini rupiah akan kembali stabil.

Prospek Penguatan Rupiah

Meski menghadapi tekanan, Perry menilai ekonomi domestik masih cukup kuat menopang rupiah. Defisit transaksi berjalan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan inflasi yang terkendali menjadi modal penting.

Bank Indonesia juga telah melakukan intervensi intensif di pasar valas untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran. Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI dilakukan untuk menarik kembali aliran dana asing.

Perry mengatakan kebijakan tersebut berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar besar-besaran. Hal itu menunjukkan bahwa instrumen moneter BI masih efektif merespons volatilitas pasar.

Ia menegaskan rupiah cenderung mendapat tekanan pada April, Mei, dan Juni berdasarkan histori pergerakan sebelumnya. Setelah itu, rupiah biasanya menguat pada Juli dan Agustus, sehingga BI optimistis tren stabilisasi akan berlanjut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!