BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat pada Juli-Agustus 2026

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 20:38 WIB 2
BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat pada Juli-Agustus 2026

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate. Perbaikan itu diperkirakan mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026, seiring meredanya tekanan musiman dan langkah stabilisasi yang ditempuh bank sentral.

Dalam kebijakan terbarunya, BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Suku bunga Deposit Facility turut naik 50 basis poin menjadi 4,25 persen, sedangkan Lending Facility ditetapkan 50 basis poin lebih tinggi ke level 6 persen.

Rupiah Masih Di Bawah Wajar

Perry menjelaskan bahwa secara fundamental, rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Kondisi ini membuat rupiah rentan terhadap tekanan dari faktor eksternal dan internal.

Menurutnya, tekanan global datang dari kebijakan tarif, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, arah suku bunga global yang masih ketat, terutama dari Amerika Serikat, ikut menekan mata uang negara berkembang.

Harga minyak yang tinggi, pertumbuhan global yang melambat, dan inflasi dunia yang masih naik menambah beban pelemahan rupiah. Di saat yang sama, kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS memperluas tekanan di pasar valuta asing.

Perry menyebut tekanan tersebut tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara di dunia. Karena itu, pergerakan rupiah dinilai masih sangat dipengaruhi sentimen global dalam jangka pendek.

Tekanan Musiman Valas Domestik

Dari sisi domestik, rupiah turut melemah akibat tingginya kebutuhan valuta asing pada periode April hingga Juni. Permintaan ini bersifat musiman dan biasanya meningkat pada saat tertentu dalam kalender ekonomi nasional.

BI mencatat kebutuhan valas domestik banyak berasal dari ibadah haji dan umrah. Selain itu, pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen perusahaan juga ikut mendorong permintaan dolar.

Kombinasi tekanan global dan kebutuhan valas domestik memicu arus keluar modal asing. Perry menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan rupiah belum menunjukkan penguatan yang lebih cepat.

Meski demikian, ia menegaskan pola tekanan ini bukan hal baru bagi rupiah. Secara historis, pelemahan kerap terjadi pada April, Mei, dan Juni sebelum kemudian berbalik menguat pada bulan-bulan berikutnya.

Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Perry menilai ekonomi domestik Indonesia masih mampu menopang penguatan rupiah. Sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan kondisi yang relatif sehat dan stabil.

Defisit transaksi berjalan disebut masih rendah, sementara pertumbuhan ekonomi tetap tinggi. Di sisi lain, inflasi juga masih terjaga pada level yang rendah.

Dengan fondasi tersebut, BI meyakini tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama. Fundamental yang baik dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat kepercayaan pasar.

Perry menambahkan bahwa stabilitas ekonomi domestik memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga nilai tukar. Hal ini juga memperkuat prospek rupiah saat sentimen global mulai mereda.

Intervensi BI Jaga Pasar

Bank Indonesia juga melakukan intervensi intensif di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas rupiah. Langkah ini ditempuh bersamaan dengan penyesuaian suku bunga instrumen keuangan BI.

BI menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI untuk menarik kembali aliran dana asing. Kebijakan tersebut disebut berhasil membalikkan arus modal yang sebelumnya keluar dalam jumlah besar.

Perry menilai langkah stabilisasi itu mulai menunjukkan hasil di pasar. Arus modal asing yang sempat keluar besar-besaran kini mulai kembali masuk seiring membaiknya persepsi investor.

Ia optimistis rupiah akan stabil pada Juni dan cenderung menguat pada Juli serta Agustus. Optimisme itu didasarkan pada pola historis rupiah, perbaikan kebijakan, dan fondasi ekonomi yang masih kuat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!