Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah bank sentral menaikkan BI Rate. Kenaikan suku bunga acuan itu diputuskan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur BI.
Perry memperkirakan penguatan rupiah mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026. Keyakinan tersebut didasarkan pada tekanan global yang dinilai bersifat sementara, serta dukungan kondisi ekonomi domestik yang masih solid.
Rupiah dan BI Rate
BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen. Sementara itu, suku bunga Lending Facility ditetapkan naik 50 basis poin menjadi 6 persen.
Perry menjelaskan kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global. Menurut dia, penyesuaian suku bunga menjadi salah satu instrumen penting untuk meredam gejolak.
Dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026, Perry menegaskan rupiah masih berpeluang membaik. Ia menilai pola pelemahan yang terjadi saat ini masih sejalan dengan siklus tekanan musiman dan dinamika eksternal.
Tekanan Global Masih Berlanjut
Perry menyebut rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Kondisi itu, menurut dia, dipengaruhi oleh sentimen global yang belum mereda.
Tekanan berasal dari kebijakan tarif global, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, arah suku bunga global yang ketat, terutama dari Amerika Serikat, ikut menekan mata uang negara berkembang.
Ia menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar turut memperberat pelemahan rupiah. Dalam situasi tersebut, hampir seluruh mata uang dunia mengalami tekanan serupa.
Faktor Domestik Ikut Menekan
Dari sisi domestik, kebutuhan valuta asing meningkat pada periode April hingga Juni. Permintaan itu banyak dipicu oleh kebutuhan ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan.
Perry menilai pola permintaan valas musiman tersebut membuat rupiah berada dalam tekanan tambahan. Di saat yang sama, arus modal asing juga sempat keluar dari pasar keuangan domestik.
Meski demikian, ia menegaskan tekanan itu bersifat sementara dan biasanya mereda setelah periode musiman berakhir. Menurut dia, pola historis menunjukkan rupiah cenderung lebih stabil pada pertengahan tahun.
Intervensi BI Jaga Stabilitas
Bank Indonesia juga melakukan intervensi di pasar valas secara intensif untuk menjaga kestabilan rupiah. Langkah itu dibarengi dengan upaya menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.
Perry mengatakan kebijakan tersebut mulai membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar dalam jumlah besar. Intervensi itu dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap aset rupiah.
Ia optimistis rupiah akan stabil pada Juni dan cenderung menguat pada Juli serta Agustus 2026. Perry menilai kombinasi faktor domestik yang positif dan meredanya tekanan global akan menopang pemulihan nilai tukar.
