BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat pada Juli-Agustus

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 10:34 WIB 14
BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat pada Juli-Agustus

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah bank sentral menaikkan BI Rate. Proyeksi itu, menurut Perry, mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026 seiring membaiknya respons pasar terhadap kebijakan moneter BI.

Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, disertai kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen. Perry menegaskan, kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global dan kebutuhan valas domestik yang masih tinggi.

Rupiah Masih Di Bawah Wajar

Perry menyebut secara fundamental rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Kondisi ini, kata dia, terjadi karena tekanan sentimen global yang masih kuat.

Tekanan tersebut berasal dari kebijakan tarif global, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia. Di saat yang sama, arah suku bunga global tetap ketat, terutama dari Amerika Serikat.

Menurut Perry, harga minyak yang tinggi dan pertumbuhan global yang melambat ikut mendorong inflasi dunia naik. Kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS juga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ia menilai tekanan itu bersifat luas dan tidak hanya dialami Indonesia. Hampir seluruh mata uang dunia ikut melemah akibat kombinasi faktor eksternal tersebut.

Tekanan Domestik Masih Musiman

Dari sisi domestik, rupiah juga terdampak kebutuhan valuta asing yang tinggi pada periode April hingga Juni. Permintaan itu bersifat musiman dan muncul pada sejumlah aktivitas utama masyarakat dan korporasi.

Kebutuhan valas tersebut didominasi oleh ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan. Perry mengatakan, pola ini kerap membuat tekanan pada rupiah meningkat dalam beberapa bulan tertentu.

Ia menambahkan, arus keluar modal asing juga sempat meningkat di tengah tingginya permintaan valas domestik. Kombinasi itu membuat rupiah berada dalam tekanan lebih besar pada paruh pertama tahun ini.

Meski begitu, Perry menilai kondisi tersebut bukan indikasi pelemahan struktural. Tekanan yang muncul masih dipandang sebagai dampak musiman dan dinamisnya pasar global.

Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

BI menilai ekonomi domestik masih mampu menopang penguatan rupiah ke depan. Indikator makroekonomi Indonesia disebut masih berada dalam kondisi positif.

Perry menyebut defisit transaksi berjalan berada pada level rendah, pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, dan inflasi terjaga. Menurutnya, kombinasi ini menjadi penopang utama stabilitas mata uang nasional.

Ia menegaskan, fundamental yang kuat memberi ruang bagi rupiah untuk pulih ketika tekanan eksternal mereda. Karena itu, BI tetap optimistis arah nilai tukar akan membaik.

Optimisme tersebut juga didukung oleh keyakinan bahwa permintaan valas musiman akan menurun setelah periode puncaknya. Dengan begitu, tekanan pada rupiah dinilai akan lebih ringan pada bulan-bulan berikutnya.

Intervensi BI Balikkan Arus Modal

Bank Indonesia juga melakukan intervensi intensif di pasar valas untuk meredam volatilitas rupiah. Langkah itu dibarengi dengan penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.

Menurut Perry, kebijakan tersebut berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar dalam jumlah besar. Intervensi itu dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Ia menjelaskan, BI membaca pola historis rupiah yang biasanya tertekan pada April, Mei, dan Juni. Setelah periode tersebut, rupiah umumnya mulai menguat pada Juli dan Agustus.

Karena itu, BI meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan. Perry menegaskan, arah kebijakan moneter akan tetap disesuaikan dengan dinamika pasar dan kondisi fundamental ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!