Bawang Bombay Diduga Bantu Turunkan Gula Darah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 16:11 WIB 2
Bawang Bombay Diduga Bantu Turunkan Gula Darah

Diabetes tipe 2 merupakan kondisi kronis yang membuat kadar gula darah sering berfluktuasi, sehingga berisiko memicu kerusakan pada berbagai organ tubuh. Di tengah upaya mencari cara tambahan untuk mengendalikan penyakit ini, sebuah penelitian menyoroti potensi sayuran murah yang mudah ditemukan di pasaran. Temuan tersebut menarik perhatian karena dikaitkan dengan penurunan kadar gula darah yang cukup besar pada hewan uji. Meski begitu, hasilnya masih memerlukan kajian lanjutan sebelum bisa diterapkan pada manusia.

Sayuran yang dimaksud adalah bawang bombay, yang dalam penelitian disebut mampu membantu menurunkan kadar gula darah saat digunakan bersama obat antidiabetes metformin. Penelitian itu dipresentasikan di San Diego dan dikutip dari Surrey Live, dengan hasil yang menunjukkan penurunan signifikan pada tikus diabetes. Peneliti menilai temuan ini membuka peluang pemanfaatan bawang bombay sebagai suplemen pendamping terapi. Namun, para ahli menegaskan bahwa proses pembuktian pada manusia tetap harus dilakukan secara hati-hati.

Bawang Bombay dan Gula Darah

Penelitian yang dipimpin Anthony Ojieh dari Delta State University, Nigeria, meneliti ekstrak umbi bawang bombay dengan nama ilmiah Allium cepa. Ekstrak tersebut diberikan bersama metformin kepada tikus diabetes untuk melihat apakah efek obat menjadi lebih kuat. Hasilnya, dosis tertentu menunjukkan penurunan kadar gula darah puasa yang cukup mencolok. Temuan ini membuat bawang bombay dipandang memiliki potensi dalam mendukung pengelolaan diabetes.

Dalam percobaan tersebut, tim peneliti membagi tikus ke dalam beberapa kelompok dengan kondisi diabetes dan non-diabetes. Sebagian kelompok menerima metformin, sebagian menerima ekstrak bawang bombay, sementara kelompok lain dijadikan pembanding tanpa perlakuan. Setiap kelompok terdiri dari lima tikus agar hasil pengamatan lebih terukur. Pendekatan itu dilakukan untuk melihat dampak bawang bombay secara terpisah maupun saat digabungkan dengan obat.

Dosis 400 mg dan 600 mg per kilogram berat badan terbukti menurunkan gula darah puasa pada tikus diabetes masing-masing sebesar 50 persen dan 35 persen dari kadar awal. Pada tikus non-diabetes, ekstrak bawang bombay justru diikuti kenaikan berat badan rata-rata. Peneliti menyebut bawang bombay sebenarnya tidak tinggi kalori, tetapi kemungkinan meningkatkan metabolisme dan nafsu makan. Karena itu, efeknya pada tubuh masih perlu dipahami lebih jauh.

Temuan Penelitian Terkini

Anthony Ojieh menilai bawang bombay berpotensi digunakan untuk membantu pengobatan pasien diabetes, terutama karena bahan ini murah dan mudah didapat. Ia menambahkan bahwa bawang bombay juga telah lama dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Meski demikian, ia menekankan perlunya penyelidikan lebih lanjut untuk menjelaskan mekanisme penurunan glukosa darah. Dengan kata lain, temuan awal ini masih sebatas pintu masuk penelitian.

Ekstrak yang digunakan dalam studi tersebut dibuat dari umbi bawang yang tersedia di supermarket lokal. Jika kelak digunakan pada manusia, bahan itu kemungkinan harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu. Langkah tersebut diperlukan agar kandungan aktifnya dapat dihitung dengan tepat. Dosis yang aman dan efektif juga harus ditentukan melalui uji klinis yang lebih ketat.

Hasil pada hewan uji tidak otomatis sama dengan hasil pada manusia, sehingga masyarakat tidak disarankan menarik kesimpulan berlebihan. Peneliti maupun tenaga medis perlu melihat lebih dulu bagaimana respons tubuh manusia terhadap kombinasi bawang bombay dan metformin. Faktor usia, kondisi kesehatan, dan obat lain yang dikonsumsi juga dapat memengaruhi hasilnya. Karena itu, penggunaan bahan alami tetap harus ditempatkan sebagai pendamping, bukan pengganti terapi utama.

Langkah Mengendalikan Gula Darah

Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak hingga 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini menjadi salah satu langkah dasar untuk mencegah lonjakan gula darah yang berulang. Pola makan seimbang perlu dijaga agar tubuh tidak terus menerima asupan yang memicu resistensi insulin. Kebiasaan ini penting terutama bagi orang dengan risiko diabetes.

Olahraga fisik juga dianjurkan dilakukan secara rutin sebanyak tiga hingga lima kali seminggu dengan durasi 30 menit hingga 45 menit. Jika memungkinkan, total aktivitas fisik dapat mencapai setidaknya 150 menit dalam sepekan. Pola olahraga yang teratur membantu tubuh menggunakan glukosa secara lebih efisien. Selain itu, aktivitas fisik juga berperan menjaga berat badan tetap terkendali.

Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menegaskan pentingnya evaluasi berkala agar upaya pengendalian gula darah tidak berhenti di tengah jalan. Ia menyebut latihan fisik sebaiknya tidak diberi jeda dua hari berturut-turut jika memungkinkan. Menurutnya, perubahan gaya hidup perlu dilakukan secara konsisten supaya hasilnya terasa. Tanpa evaluasi, upaya yang dilakukan berisiko tidak memberi dampak berarti.

Pentingnya Skrining Rutin

Skrining kesehatan menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah konsumsi gula berlebih sudah memberi dampak pada tubuh. Dengan pemeriksaan rutin, perubahan pola hidup dapat dilakukan lebih cepat sebelum kondisi memburuk. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi risiko prediabetes maupun diabetes sejak dini. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang pengendalian dilakukan secara efektif.

Dr Erpryta menjelaskan bahwa pemeriksaan gula darah tidak cukup hanya dilakukan sesekali. Menurutnya, diagnosis diabetes melitus memerlukan pemeriksaan gula darah puasa dan HbA1c. HbA1c menunjukkan rata-rata kadar gula darah selama dua hingga tiga bulan terakhir. Dari hasil itu, pasien bisa mengetahui apakah dirinya masih aman, masuk prediabetes, atau sudah diabetes.

Pemeriksaan laboratorium juga berguna untuk menilai apakah pola makan dan gaya hidup yang dijalani sudah sesuai. Jika hasilnya menunjukkan kadar gula meningkat, penanganan bisa dilakukan lebih awal melalui perubahan kebiasaan dan terapi medis. Informasi ini penting agar pasien tidak terlambat menyadari risiko yang sedang dihadapi. Dengan pengawasan rutin, pengelolaan diabetes dapat dilakukan lebih terarah dan aman.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!