Bawang Bombai Diteliti Bantu Turunkan Gula Darah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 17:37 WIB 3
Bawang Bombai Diteliti Bantu Turunkan Gula Darah

Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan serius pada tubuh jika tidak dikendalikan dengan baik. Di tengah upaya mencari penanganan yang lebih mudah dijangkau, sebuah penelitian menyoroti bawang bombai sebagai bahan pangan yang berpotensi membantu mengelola gula darah.

Temuan tersebut datang dari penelitian yang dipresentasikan di San Diego, yang menunjukkan ekstrak umbi bawang bombai mampu menurunkan kadar gula darah tinggi pada tikus diabetes ketika diberikan bersama obat antidiabetes metformin. Meski masih perlu pembuktian lebih lanjut pada manusia, hasil ini membuka peluang baru dalam pengelolaan diabetes dengan bahan yang murah dan mudah ditemukan.

Bawang Bombai dan Diabetes

Penelitian yang dikutip dari Surrey Live menemukan bahwa ekstrak dari umbi Allium cepa dapat menekan kadar gula darah pada tikus diabetes secara signifikan. Efek itu terlihat saat ekstrak bawang bombai diberikan bersamaan dengan metformin, obat yang umum digunakan dalam terapi diabetes. Hasil ini menjadi perhatian karena bawang bombai termasuk bahan pangan yang sangat mudah dijumpai.

Peneliti utama, Anthony Ojieh, menyebut bawang bombai murah, mudah didapat, dan selama ini telah dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Ia menilai bahan tersebut berpotensi digunakan untuk membantu pengobatan pasien diabetes. Namun, ia menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap awal penelitian.

Tim peneliti ingin melihat apakah bawang bombai dapat meningkatkan efek obat antidiabetes yang sudah ada. Karena itu, ekstrak diberikan bersama metformin dalam berbagai dosis kepada tikus yang telah diinduksi diabetes secara medis. Pendekatan ini dilakukan untuk mengukur perubahan kadar gula darah secara lebih terkontrol.

Hasil Penelitian Terkini

Dalam penelitian tersebut, tikus diabetes menerima ekstrak bawang bombai dengan dosis 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan per hari. Hasilnya, dosis 400 mg dan 600 mg menunjukkan penurunan kadar gula darah puasa yang signifikan. Pada kelompok itu, penurunan tercatat masing-masing sekitar 50 persen dan 35 persen dari kadar awal.

Penelitian juga membandingkan hasil pada tikus non-diabetes sebagai kelompok kontrol. Pada tikus tanpa diabetes, ekstrak bawang bombai justru memicu kenaikan berat badan rata-rata. Meski demikian, kondisi itu tidak terjadi pada tikus diabetes yang menjadi objek utama studi.

Ojieh menjelaskan bahwa bawang bombai tidak tinggi kalori. Menurutnya, bahan tersebut diduga meningkatkan laju metabolisme dan memicu nafsu makan, sehingga konsumsi makanan ikut bertambah. Ia menambahkan bahwa mekanisme penurunan glukosa darah oleh bawang bombai masih perlu diselidiki lebih lanjut.

Cara Kendalikan Gula Darah

Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak agar asupan harian tetap terkendali. Batas yang dianjurkan adalah 50 gram per hari, atau setara dengan sekitar empat sendok makan. Langkah sederhana ini penting untuk menekan risiko lonjakan gula darah.

Olahraga fisik juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes dan pencegahan prediabetes. Kemenkes menganjurkan aktivitas fisik dilakukan 3 sampai 5 kali seminggu, dengan durasi 30 hingga 45 menit setiap sesi. Jika memungkinkan, total aktivitas fisik sebaiknya mencapai 150 menit per minggu.

Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya kebiasaan olahraga yang konsisten. Ia menyarankan agar tidak ada jeda dua hari berturut-turut tanpa aktivitas fisik bila kondisi memungkinkan. Menurutnya, evaluasi berkala juga diperlukan agar perubahan gaya hidup tidak berhenti di tengah jalan.

Pemeriksaan Rutin Diabetes

Skrining kesehatan menjadi langkah penting untuk mengetahui dampak konsumsi gula berlebih sejak dini. Dengan pemeriksaan, kondisi prediabetes maupun diabetes dapat dikenali lebih cepat. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk mengubah pola hidup sebelum komplikasi muncul.

Dr Erpryta menegaskan bahwa pemeriksaan gula darah tidak cukup dilakukan secara sepintas. Diagnosis diabetes melitus idealnya mencakup gula darah puasa dan pemeriksaan HbA1c. Tes HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama dua hingga tiga bulan terakhir.

Menurutnya, pemeriksaan laboratorium membantu seseorang mengetahui apakah kondisi tubuh masih aman, masuk prediabetes, atau sudah diabetes. Informasi tersebut sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih tepat. Dengan deteksi dini, risiko kerusakan tubuh akibat gula darah tinggi dapat ditekan sejak awal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!