Bawang Bombai Diteliti Bantu Turunkan Gula Darah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 14:33 WIB 3
Bawang Bombai Diteliti Bantu Turunkan Gula Darah

Diabetes tipe 2 ditandai dengan fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan tubuh jika tidak dikendalikan dengan baik. Sejumlah penelitian terus mencari bahan pangan yang berpotensi membantu pengelolaan kondisi ini, termasuk bawang bombai yang disebut mampu menurunkan gula darah pada uji laboratorium.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipresentasikan di San Diego dan dikutip dari Surrey Live. Dalam studi itu, ekstrak umbi bawang bombai atau Allium cepa dilaporkan menurunkan kadar gula darah tinggi secara signifikan pada tikus diabetes, terutama saat diberikan bersama obat metformin.

Bawang Bombai dan Gula Darah

Peneliti utama Anthony Ojieh, MBBS (MD), MSc, dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menyebut bawang bombai murah dan mudah didapat. Menurut dia, bahan pangan ini juga telah lama dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Ia menilai bawang bombai berpotensi dikembangkan untuk membantu terapi pasien diabetes.

Dalam penelitian tersebut, tim memberikan metformin dan ekstrak bawang bombai dengan dosis 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus setiap hari. Tiga kelompok tikus diabetes digunakan untuk melihat apakah pemberian bawang meningkatkan efek obat. Dua kelompok kontrol, masing-masing untuk tikus diabetes dan non-diabetes, tidak menerima metformin maupun ekstrak bawang.

Peneliti juga menyiapkan tiga kelompok tikus non-diabetes sebagai pembanding. Setiap kelompok terdiri dari lima tikus. Hasil awal menunjukkan adanya perbedaan respons kadar gula darah setelah perlakuan diberikan.

Hasil Penelitian pada Tikus

Ekstrak bawang bombai dengan dosis 400 mg dan 600 mg terbukti menurunkan kadar gula darah puasa pada tikus diabetes. Penurunan itu masing-masing tercatat sebesar 50 persen dan 35 persen dibandingkan kondisi awal penelitian. Temuan ini menunjukkan potensi efek pendukung terhadap terapi diabetes.

Meski demikian, hasil penelitian juga memperlihatkan adanya peningkatan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes. Efek tersebut tidak muncul pada tikus diabetes. Ojieh menjelaskan bahwa bawang bombai tidak tinggi kalori.

Menurut dia, peningkatan berat badan kemungkinan terjadi karena laju metabolisme meningkat sehingga nafsu makan ikut naik. Kondisi itu mendorong konsumsi makanan yang lebih besar pada hewan uji. Ia menambahkan, mekanisme pasti penurunan glukosa darah masih perlu diteliti lebih lanjut.

Catatan untuk Konsumsi

Ojieh menjelaskan, ekstrak bawang yang digunakan dalam penelitian dibuat dari umbi bawang yang dijual di supermarket lokal. Jika hendak digunakan pada manusia, bahan tersebut biasanya harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu. Langkah itu diperlukan agar kandungan aktifnya dapat dihitung secara tepat untuk menentukan dosis.

Hingga kini, hasil penelitian pada tikus belum dapat langsung dijadikan dasar penggunaan bawang bombai sebagai terapi diabetes pada manusia. Karena itu, kajian lanjutan masih dibutuhkan untuk memastikan manfaat, keamanan, dan dosis yang sesuai. Masyarakat juga perlu berhati-hati agar tidak mengganti pengobatan medis dengan bahan pangan semata.

Penggunaan bahan alami sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti pengobatan dokter. Pemantauan gula darah tetap menjadi langkah penting untuk mengetahui perubahan kondisi tubuh. Dengan pemeriksaan yang tepat, risiko komplikasi diabetes bisa ditekan lebih dini.

Cara Kendalikan Gula Darah

Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak hingga 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini bertujuan menjaga asupan tetap seimbang dan menekan risiko gangguan metabolik. Pola makan yang terkontrol menjadi dasar penting dalam pencegahan diabetes.

Selain itu, olahraga fisik juga disarankan dilakukan 3 sampai 5 kali seminggu dengan durasi 30 hingga 45 menit. Dalam praktiknya, total aktivitas fisik idealnya mencapai setidaknya 150 menit per minggu. Dokter spesialis penyakit dalam dr. Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, mengingatkan agar olahraga tidak dilakukan dengan jeda terlalu panjang.

Ia menyebut evaluasi berkala sangat penting karena perubahan gaya hidup tidak akan efektif jika hanya dilakukan sesekali. Skrining kesehatan juga diperlukan untuk mengetahui kadar gula darah dan mendeteksi risiko prediabetes maupun diabetes. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c membantu menilai kondisi gula darah dalam jangka waktu lebih panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!